Legenda Pasukan Komando dari Kopassus sampai Operasi Khusus

Prajurit Kopassus Berkaki Satu yang Melegenda

Legenda Pasukan Komando dari Kopassus sampai Operasi KhususKomando Pasukan Khusus (Kopassus) merupakan pasukan elite Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang kerap menjalani misi khusus dengan mempertaruhkan jiwa raga. Mereka teruji sebagai satuan yang bergerak secara senyap, cepat, dan mematikan. Di antara mereka tersebutlah seorang prajurit berkaki satu yang melegenda, Kolonel Inf Agus Hernoto.

Agus memegang motto “Lebih baik pulang nama, daripada gagal di medan laga”. Ini dibuktikan ketika memimpin Operasi Banteng I. Dia dan anak buahnya harus terjun dini hari di rimba Irian Barat dengan pepohonan setinggi 20–30 meter.

Di pedalaman Papua itulah, nasib nahas menghampiri pria kelahiran 1 Agustus 1930 itu karena kaki kirinya tertembus timah panas, pecahan granat menancap di punggung. Dia tersungkur, ditemukan Belanda, lalu diintrogasi. Luka di kakinya akibat ditusuk bayonet agar mau memberi informasi. Perlahan, lukanya membusuk dan dikerubuti belatung. Dia bertahan dalam diam, tapi kakinya berakhir dengan amputasi.

Dari puluhan prajurit, hanya empat selamat dalam operasi tahun 1962 itu, termasuk Agus. Dia ditawari pensiun dini, dibekali modal, tapi ditolak. “Saya tidak akan pensiun! Sampai mati saya akan tetap di Angkatan Darat,” katanya (hal 75).

Biasanya, prajurit yang tersiksa saat ditawan mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD) dan menampakkan sikap negatif, depresi, serta sulit bergaul. Tapi, hal tersebut tidak berlaku bagi Agus. Pada Maret 1963, dia sudah bertugas kembali. Dia mengirim pasukan RPKAD dalam rangka operasi konfrontasi dengan Malaysia.

Selanjutnya, dia bergabung Resimen Tjakrabirawa, pengawal Presiden Soekarno yang terdiri dari satu batalion prajurit terbaik dari tiap angkatan. Kemudian, Opsus dengan menjadi Komandan Datasemen Markas (Dandema) yang menjadi kepercayaan Ali Moertopo dan Benny Moerdani, orang dekat Soeharto.

Meski serius dalam tugas, dia suka bercanda dalam keseharian seperti melempar kaki palsunya untuk mengagetkan anak buah yang sedang ngobrol (hal 144). Dia meledek anak buah yang memakai seragam TNI kumal dan lusuh dan memuji gentleman ketika anak buahnya memakai pakaian sipil (hal 150). Dia mencandai istrinya mirip tukang jamu ketika mengenakan kebaya (hal 172). Istrinya dari Minang.

Akhir tahun 70-an, peraih penghargaan Satyalancana Satya Dharma itu divonis kanker hati, namun tetap berusaha mengabdi. Kondisinya terus memburuk dan meninggal pada 4 September 1984. Tiga tahun kemudian, Kolonel (Purn) Jan Willem de Leeuw mengungkap sebuah kisah heroik. Tentu bukan kisah sembarangan, sebab dia merupakan pemimpin pasukan Belanda di Fakfak saat Agus memimpin Operasi Banteng I. Kisah tentang Agus itu dituturkan kepada Panglima ABRI, Benny Moerdani, yang sedang berkunjung ke Belanda.

“Dia orang yang tidak pernah menyerah. Kami sangat kagum dan menghormati sikapnya yang tidak mau kompromi kendati sudah menjadi tawanan. Dia pantas mendapat bintang penghargaan di negara Anda,” kata Jan Willem de Leeuw.

Atas keberanian dan kegigihan tersebut, negara memberikan penghargaan Bintang Sakti kepada Agus. Itu merupakan penghargaan tertinggi di bidang militer. Dia memang telah pergi, tapi namanya terus menginspirasi. Lewat kisah hidup yang melegenda, seolah dia berkata, “Teruskan perjuangan. Kami telah beri apa yang kami punya.” (Dedi Setiawan)

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy