Ciputra The Entrepreneur; The Passion of My Life

Mengolah Penderitaan Menjadi Jalan Kesuksesan

Ciputra The Entrepreneur; The Passion of My LifeBuku biografi Ciputra ini, pemilik Jaya Group, Kosmopolitan Group, dan Ciputra Group yang membawahi puluhan anak perusahaan ini menceritakan kisah suskesnya, di antaranya dia berhasil menata lahan kosong dan kumuh menjadi bangunan indah. Landmark yang dibuat dan didesain Ciputra tidak hanya tersebar di kota-kota besar di Indonesia, tapi juga juga mancanegara.

Sosok arsitektur lulusan ITB ini dipercaya Pemda DKI Jakarta untuk membidani beragam konstruksi bangunan. Sukses mendapat tender tersebut, muncul cita-cita menjadi pengembang. Mapan secara karier, lantas dia membangun beberapa sekolah dan universitas. Pak Ci juga menulis puluhan buku tentang bisnis, pemasaran, dan manajemen untuk menginspirasi orang lain. “Saya seseorang yang selalu ingin membagi pengalaman agar orang lain bisa turut belajar,” katanya (hlm 16).

Di usia senja seperti sekarang, passion Ciputra untuk berkarya masih tinggi. Tidak ada kata istirahat, walau sudah berada di puncak kesuksesan. Baginya, kesuksesan adalah melakukan sebanyak mungkin yang berarti hingga ajal datang. Itu harus dilakukan sebagai kompensasi atas penderitaan masa kecil yang sulit dilupakan.

Buku menyibak lapisan-lapisan emosi yang membentuk pribadi salah satu orang terkaya Indonesia ini. Secara jujur dia berkata bahwa hidupnya dan semangat kerjanya dibangun di atas emosi “gelap” yang kadang beralih rupa menjadi dendam. “Sepanjang mengejar cita-cita, semangat saya dihidupkan oleh trauma penderitaan masa kecil. Ada rasa dendam. Tapi saya olah menjadi dorongan kuat untuk maju,” katanya (hlm 20).

Penderitaan traumatis dialami saat tinggal di dusun Bumbulan, pelosok Sulawesi Utara pada zaman penjajahan Jepang. Selama dititipkan pada sanak familinya di Gorontalo, dia mendapat perlakuan keras yang tak layak ditanggung anak usia tujuh tahun. “Hidup saya selalu diwarnai ketakutan. Setiap bangun pagi, saya selalu cemas memikirkan kesalahan apa lagi yang akan saya buat dan bentakan apalagi yang akan saya terima. Saya menjadi penyendiri,” kenang Ciputra tentang derita hidupnya 80 tahun silam (hlm 48).

Pukulan penderitaan lebih keras dialami tatkala ayahnya diculik polisi Jepang. Ciputra menyaksikan ibunya berusaha menarik-narik tubuh suaminya sambil menangis memohon-mohon. Ciputra kecil memeluk ibu sambil menatap ayah yang diseret paksa menaiki perahu. Ibunya kemudian menjadi gila (hlm 68).

Ciputra yang saat itu masih belasan tahun harus menggantikan posisi ayahnya menjaga ibu dan saudara-saudaranya. Setiap hari pengusaha besar ini berburu babi, anoa, rusa, dan binatang liar lainnya di hutan agar keluarganya bisa bertahan hidup. Habis berburu, Ci mengolah ladang hingga malam. Dia tertidur pulas dengan belasan anjing setianya. Hari-hari berat dilalui karena punya harapan, suatu hari kelak pasti bisa keluar dari lingkaran kemelut penderitaan.

Pagi hari, pemilik Ciputra Group ini sekolah berjarak tujuh kilometer berjalan kaki. Pengalaman pahit inilah yang memicu semangat peraih 75 penghargaan tersebut untuk terus berkarya. Sebab setiap prestasi bisa mengobati luka penderitaan. Setiap karyanya bisa menginspirasi dan mendorong orang lain keluar dari lubang penderitaan, trauma tertutupi. “Segala macam kepahitan masa lalu seperti disembuhkan bila saya mencapai sesuatu yang membanggakan,” (hlm 19).

Buku menceritakan strategi sukses Ciputra sejak awal. Ini mencakup ketika berada di puncak sukses, jatuh ke nol karena diterpa krismon hingga bangkit dan berjaya kembali. Yang lebih penting lagi untuk disimak, kemampuan Ciputra mengolah penderitaan menjadi batu loncatan meraih kesuksesan sesama. Misnawi

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy