Rebel Notes; Catatan Seniman Pemberontak

Seniman, Perlawanan, dan Perubahan

Rebel Notes; Catatan Seniman PemberontakWawasan baru ditawarkan buku ini atas cara pandang dan sikap pesohor-pesohor yang bahkan kerap dianggap heroik oleh penggemar, di antaranya pasangan John Lennon dan Yoko Ono. Lennon bersama The Beatles merevolusi musik dunia era 60-an. Dia mengungkap sebagai working class hero. Karya mereka mampu memengaruhi kelas pekerja yang mendominasi dunia saat itu.

”Gagasannya bukan untuk membuat orang merasa nyaman dan lebih baik, namun untuk membuat mereka merasa lebih buruk,” kata Lennon (hlm 15). Dengan menyadari realita tak seindah mimpi, orang akan terbangun dan bertindak. Contoh perubahan seperti yang diinginkan Lennon adalah budaya kekerasan menjadi revolusi damai. Idenya bukan tanpa hambatan. Dia menentang Perang Vietnam dianggap terlalu radikal dan sempat membuat gerah pemerintahan Nixon.

Pasangan jiwa pemberontak Lennon tepat berlabuh pada Yoko Ono. Seniman musik dan instalasi berdarah Jepang ini dalam catatan berjudul “Revolusi Feminin” meyakini, sebenarnya imajinasi manusialah yang merumitkan gagasan mengenai maskulin dan feminin. Dia menjadi berjarak bahkan menempatkan salah satu menjadi lebih baik. Padahal, maskulinitas dan feminitas selalu ada dalam jiwa seseorang saling melengkapi.

Struktur masyarakat saat ini butuh pembaruan melalui sentuhan feminin yang didasari kecerdasan rasa untuk mengimbangi dominasi orientasi logika. Bono, vokalis grup musik Irlandia, U2, pun demikian. Dalam tulisan “Utang Dunia Membuatku Marah” mengungkap keprihatinannya akan utang negara-negara miskin. Menjadi kegelisahannya jika setiap warga negara, termasuk generasi-generasi masa depan, harus menanggung beban utang negara yang demikian besar.

Selain melakukan konser-konser amal, membangun organisasi sosial, Bono mendekati sejumlah politisi dan pemimpin dunia, terutama dari negara maju agar lebih banyak berperan dalam pembangunan ekonomi negara miskin. Dari balik layar lebar, sutradara Oliver Stone, peraih Piala Oscar untuk film Platoon (1987), menyebut film merupakan subjek sejuta tafsir (hlm 103).

Jadi, jika kemudian ada perbedaan tafsir antarpenikmat film, bahkan antara pembuat dan penontonnya, tidak masalah. Ini termasuk jika ada kontroversi yang menyebut sebagai sutradara keluar dari konteks sejarah. Film-filmnya telah mampu mencerahkan melalui karakter yang kuat, riset, dan tafsir yang dramatis.

Hadir pula seniman visual, Jean-Michel Basquiat yang mulai berkarya melalui grafiti di jalanan New York. Goresannya mungkin tak beda dengan coretan anak-anak. Banyak mengambil bentuk orang diiringi simbol kata dan kalimat. Namun, penikmat seni menilai berbeda tentang keseimbangan komposisi bentuk dan warnanya.

Selain tuturan kritik sosial yang kuat tentang kekuasaan, perjuangan si miskin, mengumbar kepekaan terhadap kaum kulit berwarna yang tak berdaya di negara adidaya seperti dirasakannya sendiri. Seperti halnya setiap orang bebas berekspresi, setiap orang pun bebas memaknai John Lennon, Bob Marley, Andy Warhol, Bono, Marilyn Monroe, Jim Morrison, atau seniman lain di buku ini. Gaung atas nama mereka di lintasan sejarah menegaskan bahwa seni itu sebenarnya “sederhana namun tidak sesederhana itu”.

Meski sekarang yang dulu bagian simbol perlawanan seniman didasari semangat perubahan seperti musik nyleneh atau candu, sekarang hanya jadi pemenuhan gaya hidup semata. (Anindita Arsanti)

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy