69 Things to be Grateful about Being Single

Memaknai Berbagai Pilihan Hidup

69 Things to be Grateful about Being SingleHidup melajang tidak selalu identik dengan kesepian dan merana. Buku ini mengungkap ada 69 anugerah yang patut disyukuri. Buku 69 Things to be Grateful About Being single bisa dijadikan kado kaum lajang agar tidak lupa bahwa banyak yang bisa dinikmati.

Pemilihan angka 69 pun bukannya tanpa alasan. Dalam kata pengantarnya, dijelaskan 69 adalah angka taijitu, yaitu simbol yin yang, mewakili konsep berlawanan untuk mencapai keseimbangan. Ada yang memandang hidup belum sempurna jika belum berkeluarga. Maka tak ayal, mereka yang masih melajang kadang menjadi sasaran olok-olok.

Buku ini diterbitkan sebagai hadiah bagi para lajang agar tetap tersenyum, berkontemplasi, dan menertawakan diri sendiri. Sendiri kadang tak selalu menyenangkan, tetapi selalu ada yang patut disyukuri dari status ini.

Hidup sendiri sering diidentikkan dengan kebebasan. Buku ini mengungkap kebebasan yang bisa diraih para lajang. Seperti dalam halaman 57, mereka yang single lebih banyak memiliki Me Time ketimbang mereka yang telah berumah tangga. Para ibu rumah tangga sering mengeluh sulit memiliki waktu bagi diri sendiri. Misalnya, hanya sekadar ke salon untuk memanjakan diri atau menikmati musik favorit.

Lajang bisa membuat iri mereka yang sudah menikah. Mau apa pun bebas, tak ada yang melarang. Foto-foto perjalanan ke tempat-tempat menarik, kegiatan-kegiatan yang seru, bebas dilakukan para lajang, tanpa harus disibukkan remah-remah urusan domestik. Hidup lajang yang menyenangkan baik dijalani (halaman 75).

Kebebasan lain yang diungkap buku, para lajang bisa memulai sesuatu tanpa harus minta pertimbangan pasangan atau keluarga besar pasangan. Lajang tidak bertanggung jawab kepada siapa pun, kecuali diri sendiri. Kaum lajang bebas memulai pekerjaan baru, pindah kota, atau bahkan pindah negara. Sedangkan mereka yang sudah menikah memiliki banyak pertimbangan setiap kali hendak mengambil keputusan.

Sendiri bisa fokus mengembangkan setiap passion. Tidak masalah bahwa dia baru ingin memulai sekarang. Dia punya seluruh waktu untuk mencapainya. Tidak ada tanggung jawab terkait urusan rumah tangga, anak, dan pasangan. Satu-satunya kewajiban hanyalah menjaga dan mengembangkan diri (halaman 46).

Buku ini bahkan menyoroti media sosial para lajang lebih berwarna dari mereka yang telah menikah yang biasanya mengunggah foto anak-anak. Para lajang hari ini bisa mengunggah foto bersama teman-teman. Besok menikmati paragliding, dan lusa berlari maraton.

Selain kebebasan, kaum lajang juga diyakini tampak lebih awet muda. Perkawinan kadang membuat stres. Begitu banyak yang harus diurus, mulai dari atap bocor, tagihan listrik, sampai cicilan rumah. Jika sudah punya anak, bertambah pula daftar yang harus dipikirkan. Inilah barangkali alasan kaum lajang tampak lebih muda ketimbang yang sudah menikah. Mereka tak perlu memikirkan terlalu banyak yang memusingkan.

Pada halaman 81 disebutkan sejumlah penelitian membuktikan orang mudah bertambah berat badannya setelah menikah. Kondisi ini lumrah bagi laki-laki dan perempuan. Maka bersyukurlah bagi para lajang karena masih bisa memakai pakaian model apa pun dan tetap kelihatan keren. (Suci Sekar)

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy