Penjual Bunga Bersyal Merah dan Cerita Lainnya

Menyelami Luka Perempuan dan Anak

Penjual Bunga Bersyal Merah dan Cerita LainnyaDunia perempuan dan anak memang menarik dicermati. Buku Penjual Bunga Bersyal Merah dan Cerita Lainnya berisi 21 kumpulan cerita pendek yang sebagian besar tokoh utama dan objek ceritanya perempuan. Isu yang diangkat dalam cerita seputar masa kelam lalu seorang perempuan, percintaan, kekerasan dalam rumah tangga, hubungan ibu dan anak, serta pergulatan hidup dalam keluarga.

Buku mengajak pembaca menyelami duka yang kerap dialami perempuan dan anak yang pada kenyataannya dalam relasi sosial sangat rentan disakiti. Ada yang khas dalam buku ini. Banyak fragmen dikemas dalam bungkus imajinasi yang kadang menyamaratakan simbol-simbol alam berupa tumbuhan dan hewan dengan kejadian dalam dunia manusia.

Misalnya, dalam cerpen Mimpi tokoh aku bermimpi ada rumput yang tumbuh di kepalanya sehingga sering dihinggapi capung. Cerita menggambarkan tokoh aku yang rumah tangganya terbelit masalah. Dia lalu menganggap kenyataan seolah mimpi.

Cerpen-cerpen tertentu membutuhkan perhatian lebih sehingga memang harus dibaca dengan kondisi kepala tenang. Lainnya lebih ringan, namun disajikan dengan akhir mengejutkan. Buku ini dibuka dengan cerpen Catatan Musim Buah, tokoh aku kepergok bibinya sedang berciuman dengan pamannya sendiri. Rasa simpati yang berkembang jadi intim muncul dalam benak tokoh aku, terlebih sejak Kayin, bibinya, meninggalkan pamannya, demi seorang penjual buah.

Beberapa cerpen memiliki benang merah dengan lainnya. Misalnya, tokoh Maganda kecil dalam Maganda dan Kupu-Kupu yang bertransformasi menjadi Maganda lain dalam Landra Maganda. Konflik batin yang dialami Maganda sedari kecil, di mana setiap hari melihat ibunya dibuat babak belur oleh sang ayahnya, membuatnya tak lagi menyukai lelaki.

Jalinan keterikatan lain antara tokoh Landra dan Odera yang disajikan dalam dua cerpen Semua Bunga Berwarna Merah dan Landra dan Bunga Merah memiliki kaitan erat dengan bunga berwarna merah dan kematian. Cerpen Mata yang Gelap mengambil anak perempuan bernama Casel sebagai objek pengamatan dari tokoh lain.

Luka masa lalu yang pernah dirasakan saat kematian Shana, sang adik, membuatnya terus terkurung dalam masa lalu. Meskipun terobsesi dengan objek, tokoh lain itu membatasi diri sebagai seorang pengamat. Kekaguman pada Casel yang mulai sirna saat sang anak beranjak dewasa sedikit menyentil kasus pedofil.

Cerpen Kekasih Hujan yang ringan dan romantis menjadi pemanis akhir buku dari banyak kisah kelam dalam kumpulan cerpen ini. Banyak pesan tersirat yang sebenarnya lekat dengan realita di kehidupan sehari-hari. Contoh, “Kupu-kupu itu mati. Mama pasti saja sedang menghadapi kesakitan yang sama dan juga akan mati. Maganda juga ingin mati” (hal. 36). “Aku tidak terkejut. Semua pasangan, kalau mau jujur, akan sampai pada masa-masa kering” (hal. 52). (Masya Famely Ruhulessin - sumber: www.koran-jakarta.com)

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy