There Is No Shortcut To Success; Bisnis Bisa Dipelajari. Bangunlah Mimpi Anda!

Bisnis Harus Dilandasi dengan Niat Baik

There Is No Shortcut To Success; Bisnis Bisa Dipelajari. Bangunlah Mimpi Anda!Sosok IM Eddy Sutrisno dalam buku ini sebagai pebisnis sukses yang memiliki banyak perusahaan. Dia merintis usaha dari nol. Puluhan tahun silam, dia hidup dengan delapan saudara di rumah sederhana. Penghasilan orang tua yang minim telah mengajari arti penderitaan. Ibunya tiap hari harus berjualan makanan dari rumah ke rumah. Kendatipun hasil jualan tidak besar, dia mendapat spirit bisnis dari ibunya ini.

“Pada saat kebutuhan semakin banyak, spirit entrepreneurship amat menjanjikan masa depan. Semangat membangun bisnis adalah ciri-ciri optimisme menghadapi masa depan” kata Eddy (hlm 4). Baginya, sukses tidak identik dengan harta, perusahaan, atau popularitas. Semua tergantung pada target tiap orang.

Pencapaian target harus membawa kebahagiaan, termasuk dalam bisnis. Bisnis harus bertujuan untuk kebaikan diri, keluarga, dan masyarakat. Ini akan mendatangkan keseimbangan karena tidak fokus pada pencapaian target saja, tapi juga kebaikan diri, keluarga, dan orang lain. Bekerja jangan ngoyo, apalagi sampai melupakan kesehatan, keluarga, dan kepentingan banyak orang (hlm 256).

Nilai-nilai kebaikan dalam bisnis, antara lain jujur, disiplin, kerja keras, dan tidak serakah. “Ada begitu banyak nasihat bisnis. Tapi percayalah, yang paling mendasar adalah nilai-nilai positif tadi,” katanya (hlm 12). Dia tidak pernah belajar berbisnis dari buku atau seminar, tapi learning by doing. Sambil menjalankan bisnis, dia belajar dari kegagalan dan bertanya langsung kepada pebisnis senior  tentang bagaimana solusinya. Tanpa menafikan arti penting teori bisnis dalam buku serta seminar motivasi, dia melihat banyak pemula yang layu sebelum berkembang. Sebab terlalu terbebani dengan teori dan memiliki menara gading harapan yang seakan tidak bisa roboh.

Kesuksesan bisnis 90 persen ditentukan kebertahanan dan kerja keras. Hanya 10 persen ditentu lainnya. Pebisnis seperti penunggang kuda yang mengarungi perjalanan sangat jauh. Stamina mental harus kuat sejalan dengan staminan fisik. Kondisi mental merupakan faktor terpenting bisnis. Banyak yang down ketika rugi, bangkrut, dan modal makin menyusut. Mereka merasa tak ada kepastian laba akan bertambah. Ini menandakan semangat bisnisnya hanya tempelan, tidak menyatu dengan jiwa.

Tekad bisnis tidak sekadar komplementer, tapi harus menjadi bagian elementer diri. Ada satu harmoni antara tekad dan keinginan bergerak. “Belajarlah menghayati mental petarung di kancah dagang. Pengalaman di lapanganlah yang akan membentuk,” katanya (hlm 27).

Konstruksi teori dalam seluruh bab buku ini merupakan sari pengalaman puluhan tahun berbisnis. Buku ini menekankan arti penting keseimbangan yang dibahas dalam dua bab. Sejak awal, buku ini menvisikan pencapaian target apa pun harus membawa ketenteraman. Ini diwujudkan dengan cara menjaga keseimbangan kerja, diri, keluarga, dan masyarakat. (Habibullah - sumber: www.koran-jakarta.com)

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy