Mendidik Pemenang Bukan Pecundang

Sekolah Harus Mempersiapkan Pemenang

Dari zaman ke zaman selalu ada bangsa pemenang dan pecundang. Demikian juga ada perusahaan yang sanggup bertahan selama didera depresi hebat. Sementara perusahaan-perusahaan lain tumbang. Secara individual, ada orang-orang sukses luar biasa. Ada pula yang selalu gagal. Pada dasarnya, tidak ada bangsa, perusahaan, atau orang  ingin menjadi pecundang.

Lantas, apakah menjadi pemenang hanyalah perkara keberuntungan? Atau, menjadi pemenang sebenarnya bisa dihasilkan dengan pendidikan yang tepat? Buku Mendidik Pemenang Bukan Pecundang memaparkan cara menghasilkan para pemenang.

Tatkala perusahaan-perusahaan Jepang berguguran, di Korea dan Tiongkok justru berkembang bagus. Hasanudin Abdurakhman, seorang dosen dan peneliti Indonesia yang dua dekade lalu belajar di Jepang mengatakan, saat itu tampak jelas yang sesungguhnya bekerja keras di berbagai universitas dan lembaga riset Jepang (hal. ix).

Ini berarti keunggulan perusahaan-perusahaan Korea dan Tiongkok atas perusahaan-perusahaan Jepang bukan suatu kebetulan. Tanda-tandanya sudah tampak dua dekade lalu. Bangsa Jepang yang terkenal dengan etos kerja kerasnya ternyata tak luput dari jeratan zona nyaman. Generasi muda Jepang yang merasa aman dan nyaman berpikir tidak perlu bekerja sekeras para pendahulunya. Alhasil, kinerja mereka pun merosot tajam sehingga kalah berkompetisi.

Zaman mutakhir sekarang bercorak vitality (dinamis, cepat berubah), uncertainty (sulit diprediksi), complexity (rumit), dan ambiguity (membingungkan). Yang hendak menjadi pemenang baik bangsa, perusahaan, maupun individu, harus mampu menghadapi situasi tersebut. Individu yang tidak mau berubah akan tergilas perubahan zaman yang sulit diprediksi dan komplikatif. Zaman ini membingungkan bagi orang-orang yang tidak kreatif dan tidak mengembangkan kemampuan personal dirinya. Mereka tidak mampu melihat peluang-peluang emas yang dihasilkan pada zaman dinamis ini.

Buku ini memaparkan berbagai contoh pembelajaran yang bisa menghasilkan keunggulan menjadi pemenang. Uraian-uraiannya bersifat praktis sehingga bisa diterapkan di lingkup keluarga, sekolah, dan  masyarakat. Mendidik orang menjadi pemenang perlu diterapkan di sekolah-sekolah sehingga kelak para lulusan mampu meraih kesuksesan di masyarakat. Esai-esai singkat buku akan menginspirasi para pendidik guna lebih memahami makna dan tujuan sekolah.

Salah satu tujuan pendidikan yang tepat belajar hidup bersama, termasuk dengan orang berbeda pandangan (hal. 94). Sekolah-sekolah yang memahami tujuan pendidikan akan membuka ruang bagi murid berinteraksi dengan masyarakat. Sistem pendidikan berkualitas akan mampu memadukan sinergi kerja keras dan lingkungan sekitar.

Pendidikan demikian akan menghasilkan individu-individu berkemampuan. Sementara, tujuan pendidikan yang mendewakan kompetisi dan mengagungkan perolehan nilai-nilai mata pelajaran justru menimbulkan beberapa ketimpangan. Misalnya, hanya menciptakan individu pecundang yang gemar memamerkan yang tampak “keren” dan memilih pekerjaan karena tuntutan sosial. Dia bukan individu pemenang yang kasmaran belajar. Para orang tua dan praktisi pendidikan sebaiknya mencermati buku ini. (Yulia Endang Wahyuningsih)

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy