Apa Pun Selain Hujan

Perjuangan Remaja Menghadapi Trauma

Apa Pun Selain HujanNovel ini menceritakan bahwa sebuah peristiwa bisa mengubah hidup seseorang, walaupun hanya sekejap. Hidup bisa tak sama lagi. Ini dialami Wira, seorang pelajar SMA yang punya impian seperti Rohullah Nikpai, atlet taekwondo dari Afghanistan, peraih medali emas Olimpiade. Wira juga menginginkan.

Namun, harapannya dikubur setelah sebuah pertandingan melawan sahabat sendiri bernama Faiz. Wira menendang rahangnya yang membuat Faiz limbung, Wira memenangkan pertandingan. Kebahagiaan Wira hanya sekejap karena Faiz tak bernapas lagi. Ini menghantui hidup Wira karena merasa bersalah. Semuanya terjadi saat hujan deras. Wira juga trauma ketakutan dengan hujan. Setiap hujan turun, kenangan buruk itu seakan hadir dan menciutkan perasaan Wira.

Dokter menyatakan, Faiz meninggal karena serangan jantung. Tapi Wira menduga itu hanya alasan dibuat-buat karena dokter dan orangtuanya saling mengenal. Wira merasa semua orang menuduhnya menjadi pembunuh Faiz. Selepas SMA, Wira meninggalkan kehidupan di Jakarta dan tinggal bersama neneknya di Malang. Ia  kuliah  Teknik Sipil di Universitas Brawijaya.

Di kampus, Wira menjadi penyendiri. Ia tidak ingin dekat dengan siapa pun. Setiap hujan turun, Wira selalu menggigil ketakutan. Suatu hari, dia mencoba menolong seorang mahasiswi, Kayla, yang diganggu preman. Kayla ternyata juga seorang taekwondoin. Gadis ini mendorongnya kembali menekuni passion-nya itu.

Kembali ke lapangan untuk berlatih dan bertanding tidaklah mudah buatnya. Namun, Kayla selalu berusaha meyakinkan Wira. Apalagi ditambah alasan bahwa Nadine menunggu Wira bertemu di lapangan sebagai seorang taekwondoin. Nadine adalah teman masa kecil Wira dan sahabat Faiz. Setelah Faiz pergi, mereka membakar seragam taekwondo masing-masing. Seperti Nadine, Wira pun ingin kembali ke jalan itu (hal. 111).

Kejuaraan taekwondo di Bandung tinggal di depan mata. Diantar Kayla, Wira ingin bergabung tim taekwondo kampus. Saat itu bukan waktunya penerimaan anggota baru. Namun, kemampuan Wira yang telah mengenakan sabuk hitam dan berpengalaman di banyak pertandingan membuat pelatihnya mengistimewakan. Wira boleh bergabung dan memperkuat tim teakwondo Universitas Brawijaya.

Wira dan tim menuju Bandung. Itu adalah pertandingan pertama setelah peristiwa kematian Faiz. Di tengah lapangan menjelang bertanding, Wira kehilangan konsentrasi. Lawannya  begitu mirip Faiz baik postur maupun cara bertanding.

Wira tidak bisa menampilkan pertandingan terbaiknya. Saat itulah dia mendapat tendangan keras di rahang, persis yang diterima Faiz. Saat matanya perlahan tertutup, Wira berharap tak lagi bisa terbuka. Namun, takdir menginginkan Wira terus melanjutkan hidup. Peristiwa itu menjadi klimaks di mana Wira bisa mengetahui jawaban-jawaban akan ketakutan-ketakutan selama ini.

Post Traumatic Stress Disorder adalah kondisi yang ditandai dengan berkembangnya gejala menyusul suatu peristiwa traumatis. Ini termasuk gejala pikiran dan ingatan yang menganggu. Ada penghindaran ingatan tentang trauma, penumpulan emosi, dan kewaspadaan tinggi. Hal itulah yang diprediksi dokter dialami Wira (hal. 252).

Wira harus jatuh bangun berdamai dengan banyak peristiwa. Keluarga memegang peran penting dalam kehidupan traumatis seorang remaja. Jarak yang tercipta antara orangtua dan anak bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hal itulah yang membuat Wira terus dicekam perasaan bersalah. Semua orang pernah berbuat kesalahan. Dia harus memaafkan orang lain. Manusia juga harus belajar untuk memaafkan diri sendiri (hal. 268). (Hairi Yanti - sumber: www.koran-jakarta.com)

 

 

, Orizuka (2016), "Apa Pun Selain Hujan", GagasMedia, 979-780-850-5: 296 Halaman. 

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy