Cerita Pilu Manusia Kekinian

Mencari Keseimbangan Hidup dengan Memberi dan Berbagi

Cerita Pilu Manusia KekinianModernitas kerap disimbolkan dengan kehidupan serba cepat, mudah, dan mewah. Hal tersebut serta-merta memantik manusia untuk mengejar sesuatu dengan penuh ambisi. Masyarakat modern menganggap materi sebagai pencapaian paling tinggi dan patut diperjuangkan dengan cara apa pun. Maka tidak jarang orang- begitu mudah mengambil hak sesamanya, menindas kaum lemah, dan melampaui batas.

Semua bertarung bagai banteng siang dan malam demi  target. Hari-hari menjadi sedemikian dibekap daftar  target. Tragedi pun terjadi: seorang anak memilih meeting di sebuah resto mewah ketimbang pulang ke kampung halaman menengok ibunya yang sedang dirawat di rumah sakit, dan mewakilkan elusan tangannya di kening ibu dengan e-banking (hal. 22).

Pengaruh modernisme tidak berhenti sampai di situ karena juga berimbas pada ranah pendidikan. Ketika semua  bertanya pada anak-anak tentang cita-citanya, jawabannya tak akan jauh dari menjadi dokter, pilot, tentara, polisi, artis, dan sederet profesi yang mendatangkan materi (hal. 157). Kesuksesan seorang anak hanya dilihat tempat bekerja dan besaran gaji. Ilmu, pemikiran-pemikiran, dan budi pekerti baik seringkali diabaikan.

Buku ini menyajikan renungan-renungan berharga untuk merawat hakikat kemanusiaan. Renungan tentang gaya hidup manusia modern dibagi menjadi dua topik pokok. Bagian pertama ada 19 judul khusus renungan kemanusiaan yang selalu merasa benar dan merasa menjadi ‘Tuhan.’ Muncullah generasi muslim yang sesat-menyesatkan, haram-mengharamkan, kafir-mengkafirkan (hal. 51). Ironisnya, biang kerok generasi serba haram itu menelan fatwa dengan hanya berdasar celoteh akun media social, tanpa sanad ilmu yang jelas (hal. 51).

Artikel selanjutnya menitikberatkan kondisi anak muda sekarang. Mereka galau karena cinta. Ini muncul dalam tulisan seperti Sejarah Mantan, Jika Harus Berpisah Jadilah Mantan yang Orisinil, Menjomblolah Seperti Surat An-Nuur.

Bagian kedua buku yang juga berisi 19 judul artikel merangkum renungan dari berbagai aspek kehidupan. Keluarga dinilai paling penting dari apa pun. Keluarga adalah rahim! Keluarga adalah kodrat hakiki manusia (hal. 201-202). Buku Cerita Pilu Manusia Kekinian menggiring pembaca menyadari betul, materi bukan segalanya. Manusia perlu rehat, berkumpul dengan keluarga, tertawa bersama sahabat, menikmati senja, dan piknik.

Menghamba pada uang hanya membuat jiwa semakin sesak keserakahan. Menepis keserakahan menjadi cara terbaik untuk mendapat wholeness of human being (keseluruhan kemanusiaan). Serakah adalah antitesis kemanusiaan, sehingga memang harus ditumbangkan (hal. 211).

Sampai di sini, sejatinya manusia hanya perlu bersyukur atas milik demi menjaga hakiki kemanusiaan dari gilasan modernisme yang kejam. Bersyukur bukanlah kemalasan, tapi spirit kemajuan tanpa keserakahan. Salah satu cara bersyukur dengan berbagi. Mestinya spirit berbisnis untuk memberi, bukan mengeruk. Hidup akan terasa berdaya guna setiap kali berbagi karena akan memberi kehidupan (hal. 220). (Sitta Zukhrufa - sumber: www.koran-jakarta.com)

 

 

, Edi AH Iyubenu (2016), "Cerita Pilu Manusia Kekinian", Ircisod978-6020-806-71-6: 264 Halaman.

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy