Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya

Menceritakan Kegemaran dalam Kehidupan Sehari-hari

Celia dan Gelas-Gelas di KepalanyaBuku Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya merupakan karya kumpulan hasil sayembara menulis bertema film, musik, dan parfum. Ada 13 cerita di dalamnya. Cerpen “Lelaki yang Menyatakan Cinta dengan Menjadi Bayangan” garapan Evi Sri Rezeki, misalnya, menceritakan pria wangi kayu gaharu yang menghamba pada Tiffany.

Meski akhirnya dia ditinggal menikah, lelaki tersebut terus mencintainya dan rela menjadi bayangannya. Hingga di pesta pernikahan Tiffany yang sesak oleh wangi parfum bermerk Tiffany, mendadak berubah baunya menjadi wangi kayu gaharu. Tiffany yang tidak kuasa menenggelamkan diri di bathtube agar lekas mati atau berhenti membau kayu gaharu tersebut akhirnya memotong hidungnya sendiri. Begitu pula reaksi tamu undangan. Harum kayu gaharu telah membius semua orang mengambil pisau dan mengiris hidungnya sendiri (halaman 75).

Cerpen “Goodbye” buah imajinasi Ghyna Amanda ini bertutur tentang perjalanan tokoh ‘aku’ ke Yokosuka menaiki kereta. Ia bertemu lelaki berpakaian nyentrik. Berkat sifat keponya, tokoh aku mulai bercerita panjang lebar mengenai pamannya yang fanatik musik metal.

Depresi menyerang paman setelah kehilangan gitar dan pacar. Akhirnya dia bunuh diri setelah Hide, gitaris idolanya bunuh diri.“Beberapa hari setelah televisi memberitakan kematian, paman ditemukan menggantung di kamar” (halaman 156).

“Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya” yang ditulis Lugina WG mengisahkan seorang anak yang menggilai film “Alice in Wonderland.” Dia menamai kucingnya dengan Puffin. Dinah adalah kucing milik Alice. Kesukaannya pada Puffin berubah menjadi kebengisan karena dia sering mendengar suara gelas-gelas pecah dan Celia menuduh Puffin yang melakukan.

Kebiasaan menyiksa Puffin membuat Maria, ibu Celia mengganti Puffin dengan boneka. Celia menjadi gadis depresan yang sering mendengar gelas-gelas pecah di kepalanya. Padahal itu reaksi penolakan terhadap kenyataan ayahnya yang membanting gelas-gelas saat bertengkar dengan ibu, bukan Puffin. Bermalam-malam ia dihantui mimpi pecahan kaca yang mengejarnya seperti gerombolan lebah yang menyengat dan menancap di kepalanya seperti mahkota (halaman 95).

Cerita-cerita yang teramu menyajikan perkembangan mental unik. Uniknya, beberapa cerita memiliki titik mula misterius yang jarang dijamah. Ada beberapa tragedi yang sengaja dibaurkan lewat badai-badai emosi para tokoh, kemudian memberi jalan alur berikutnya. Seperti pada cerpen “Dokumenter tentang Lelaki yang Menyekap” gubahan Eva Sri Rahayu.

Badai bermula saat tokoh dibuat geram dengan pengkhianatan teman yang mencuri hak milik film dokumenter suku Korowai. Padahal itu digarap bersama untuk lomba berhadiah jutaan. Kemudian setelah down pada konflik tersebut, tokoh menemukan celah untuk bangkit. Tokoh ‘aku’ mulai mengumpulkan kepingan-kepingan masa lalu kakek tua penjual barang loak yang memandang rumah seberang setiap harinya.

Buku ini seolah etalase panjang yang menderetkan kisah-kisah tentang film, musik, dan parfum. Banyak kegemaran berpengaruh besar dalam hidup. (Shoma Noor Fadlillah)

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy