Happy Book for Happy Parent

Segala Persiapan untuk Menjadi Orangtua yang Baik

Happy Book for Happy ParentMenjadi orangtua memang tidak ada sekolahnya. Namun pada era informasi seperti sekarang, ilmu pengasuhan mudah diakses mulai dari buku, seminar, hingga informasi di internet. Lalu apakah dengan begitu, tanggung jawab sebagai orangtua bisa dilalui lebih mudah? Belum tentu. Sebagian orangtua, peran tersebut bisa menjadi sangat melelahkan. Bukan karena kurangnya ilmu, tapi kadang mereka belum siap.

Orangtua merupakan ‘pekerjaan’ pertama dalam daftar tugas berdasarkan urutan tingkat stres yang dapat memunculkan emosi negatif secara tidak sadar sering dilampiaskan pada anak. Contoh: bentakan, larangan, dan menyalahkan. Ayah ibu jarang mengapresiasi atau memeluk (hlm 7). Akibatnya, anak jadi tidak mau dekat.

Latar belakang tersebut yang membuat psikolog lulusan Universitas Padjadjaran menyusun buku. Dia menulis berdasarkan pengalaman profesi dan pribadi. Buku tidak membahas ilmu parenting, tapi  kesiapan pribadi orang dewasa menjalankan peran sebagai ayah ibu (hlm 24). Ada beberapa prinsip menjadi ayah dan ibu bahagia agar efektif mengasuh. Orangtua perlu menyadari sebagai pilihan terbaik Tuhan untuk mendampingi anak dengan sebaik mungkin (hlm 36).  

Kalau ada kesalahan harus terus diperbaiki. Untuk itu, keduanya perlu membekali diri agar bisa  menjadi orangtua terbaik (hlm 47). Emosi anak cermin dari ayah ibu. Ada yang mengatakan, emosi lebih menular dari flu. Dia akan berpindah dari satu orang ke lainnya  seperti virus (hlm 57). Apalagi pada anak di bawah usia enam tahun yang otaknya lebih didominasi oleh gelombang theta, yang membuat banyak informasi ke bawah sadar. Makanya, orangtua harus berusaha agar lebih sering bahagia.

Kepercayaan anak pada “papa mama” tercipta dari kelekatan yang kuat. Ini penting sebagai modal untuk dapat terus mendampingi. Jangan pernah bosan untuk berlatih mengamati ekspresi dan gerak tubuh anak serta langsung mengonfirmasi. Buku juga menguraikan langkah-langkah untuk mencapai kebahagiaan dalam mengasuh anak. Ini disebut Formula 3K (kenali diri, kelola emosi, dan kelekatan emosi). Langkah tersebut harus senantiasa dilakukan (hlm 75).

Untuk dapat mengenal diri harus digali kebutuhan dasar yang belum terpenuhi. Pahami karakter diri yang dapat menjadi sumber konflik pengasuhan. Pasangan juga harus mampu menemukan kekuatan, kelemahan, serta nilai pengasuhan yang ingin diteruskan ke anak. Jika mampu mengelola emosi akan dapat lebih tenang, peka, dan berempati pada perasaan anak. Mereka juga akan lebih mampu memotivasi diri serta bereaksi secara tepat dalam menghadapi masalah (hlm 98).

Buku yang terdiri dari sepuluh bab ini, pada bagian akhir dilengkapi juga dengan tahapan terinci dalam mempraktikkan Formula 3K. Namun yang penting, untuk menjadi orangtua yang baik diperlukan banyak persiapan. (Nathalia Diana Pitaloka - sumber: www.koran-jakarta.com)

 

 

, Aisya Yuhanida Noor (2016), "Happy Book for Happy Parent", Elex Media Komputindo, 978-6020-280-28-8: 205 Halaman. 

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy