Rahasia Resep Sehat dari Jepang dan Tiongkok

Inspirasi Hidup Sehat ala Jepang & Tiongkok

Rahasia Resep Sehat dari Jepang dan TiongkokJepang dan Tiongkok memiliki kekayaan resep dan pola hidup sehat yang menjadi inspirasi masyarakat Asia, bahkan dunia. Nenek moyang orang-orang Jepang dan Tiongkok telah meracik pola hidup sehat yang sukses diwariskan secara turun-temurun. Sikap Jepang yang arif dalam menjaga warisan leluhur berhasil membawa sebagai negara dengan tingkat kesehatan paling tinggi di dunia. Mayoritas warga Jepang berpostur tubuh ramping dan sehat.

Orang Jepang memiliki gaya makan sehat dan gemar menyantap sayuran. Beberapa  sayur yang sering dimakan kyuri (timun), horenso (bayam), kabocha (labu), satsumaimo (ubi), dan zucchini (terong). Mereka juga membatasi junk food (makanan sampah), meski lezat nan gurih. Orang Jepang sangat sadar bahwa makanan cepat saji berbahaya bagi kesehatan.

Dalam pengertian lebih luas, makanan yang dikonsumsi tapi tidak memberi manfaat justru merugikan kesehatan dapat disebut junk food. Meskipun hamburger, pizza, kebab, ataupun ayam goreng dimasak sendiri di rumah, bila dikonsumsi secara berlebihan dapat masuk dalam kategori makanan sampah. Mie bakso atau mie ayam yang penuh lemak pun bisa digolongkan junk food (halaman 14).

Orang Jepang juga memaksimalkan tidur yang merupakan resep sehat yang berguna membuahkan produktivitas dan kesuksesan. Meski dikenal sebagai masyarakat gila kerja, mereka tetap menyadari bahwa kualitas tidur merupakan kunci utama kesehatan fisik dan psikis. Orang Jepang tidur 7 hingga 8 jam per hari tanpa putus.

Sementara, dalam tradisi Tiongkok, pola hidup sehat juga dicapai melalui pola tidur yang baik. Mereka mendasarkan diri pada ajaran Tao. Tradisi Tao: tidur lebih awal dan bangun lebih pagi (halaman 124). Bangun lebih pagi akan menumbuhkan semangat dan mental lebih sehat. Sebaliknya, tidur panjang justru akan membuat kurang bugar.

Melengkapi tradisi positif orang Jepang, warga Tiongkok selalu menjaga kesehatan dengan menjernihkan pikiran, menenangkan jiwa, dan mengurangi keinginan. Orang Tiongkok juga memiliki taraf kesehatan yang baik karena hidup sederhana. Sakit dalam diobati sendiri dengan meditasi. Secara medis, meditasi bermanfaat menurunkan tekanan darah tinggi, menenangkan, dan menetralkan pengaruh dari hormon-hormon stres.

Berpikir positif juga menjadi tradisi hidup sehat Tiongkok yang  senada dengan pandangan dokter Lawrence Lehan. Katanya, stres menurunkan daya tahan tubuh sehingga mudah terserang kanker dan sebagainya (halaman 140). Tiongkok juga kerap menggunakan akupuntur berdasar filsafat Taoisme yang banyak manfaatnya. Di antaranya, pencegahan, penyembuhan, rehabilitasi, dan promotif terhadap berbagai penyakit degeneratif (jantung, hipertensi, vertigo, migrain, dan obesitas) (halaman 142).

Pada bagian lain, buku ini juga menyajikan rahasia sukses orang Jepang dan Tiongkok. Kuncinya, bekerja sama dan kompromi dengan tim. Mereka tidak mudah menyerah (halaman 206). (Nurul Lathiffah - sumber: www.koran-jakarta.com)

 

 

, Budi Prayitno (2016), "Rahasia Resep Sehat dari Jepang dan Tiongkok", Laksana, 978-6022-792-12-3: 216 Halaman. 

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy