Metode Mengajar ala Tiongkok dan Jepang

Menimba Sistem Pendidikan Tiongkok dan Jepang

Metode Mengajar ala Tiongkok dan JepangSetiap negara mempunyai sistem pendidikan untuk meningkatkan kualitas masyarakatnya. Buku ini bertitik fokus terhadap model pendidikan di Tiongkok dan Jepang. Dua negara itu maju karena pendidikan. Banyak kaum terpelajar di negeri Tirai Bambu dan Sakura menjuarai ajang olimpiade ilmu pengetahuan dan beberapa sekolahnya mempunyai reputasi internasional.

Pendidikan di Tiongkok mengundang decak kagum sejak dulu era Dinasti Han (206 sebelum Kristus-220). Sedangkan pendidikan di Jepang berkembang pesat usai Restorasi Meiji (1866-1869).

Tentu, mereka tidak mengabaikan dinamika zaman. Kurikulum terus disempurnakan. Di Jepang, pembaruan setiap 10 tahun guna menyesuaikan perubahan sosial dan ekonomi.

Mereka mengadaptasi sejarah dan budaya untuk memformulasikan sistem pendidikan. Misalnya, Jepang yang tidak ada sawah membangun lahan pertanian di bangunan menggunakan sistem hidroponik. Dalam istilah sekarang populer disebut pembelajaran kontekstual. Murid mengerti materi pelajaran dan mengaitkan dengan fakta di lapangan.

Penguasaan pelajar terhadap materi lebih diutamakan ketimbang sekadar menghafal. Belajar di laboratorium dan alam terbuka tidak asing lagi. Dua negara ini mempunyai cara tersendiri mencetak siswa-siswa hebat. Di Tiongkok, jam belajar di sekolah relatif panjang. Lama pelajaran pukul 06.30 - 15.00 (SD), 06.30 - 17.00 (SMP), dan 06.30 hingga 19.00 (SMA).

Belajar sepanjang waktu dibarengi budaya tidur siang di sekolah. Orangtua tidak keberatan. Bahkan, demi meningkatkan kapasitas keilmuan dan penanaman karakter, banyak sekolah mengasramakan siswanya. Spesifikasi pendidikan diberlakukan sejak dini. Pelajaran umum diberikan dengan serius mengasah setiap bakat dan kecenderungan bidang ilmu tertentu yang dimiliki peserta didik (hlm 96-97).

Sejarah besar Tiongkok mengilhami pendidikan untuk memacu para pelajar berkompetisi menjadi yang terbaik. Ijazah dan gelar bukan nomor satu, tetapi siswa harus benar-benar ahli di bidangnya. Guru harus berkualitas. Jika berdasarkan penilaian siswa ternyata ada oknum guru bermasalah, bisa diberhentikan.

Di Jepang, pembentukan perilaku sejak pendidikan dasar sudah digalakkan seperti membuang sampah pada tempatnya, budaya mengantre, dan solidaritas antarsesama. Selain disiplin, murid mempunyai komunikasi yang baik dengan guru. Penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2009 menyebutkan, murid-murid menempati posisi tertinggi dalam perilaku terpuji (hlm 138).

Salah satu metode mengajar pembiasaan membaca. Jika dikatakan bangsa Jepang getol membaca, sebenarnya tidak semua. Di bangku sekolah diterapkan siasat agar masyarakat, khususnya kaum muda yang mempunyai minat baca tinggi. Caranya, memodifikasi buku-buku pelajaran seperti biologi, sejarah, geografi, dan fisika menjadi bentuk komik. Visualisasi ini juga mempermudah memahami materi pelajaran.

Selain itu, sebelum pelajaran pertama, siswa wajib membaca buku. Dalam aktivitas amal pada akhir tahun ajaran juga diharuskan mempresentasikan bacaannya. Banyak penekanan budaya literasi di sekolah. Para guru diakui berhasil membentuk minat baca siswa sehingga berlanjut sampai dewasa (hlm 177-178).

Buku ini mendedah aspek pendidikan di Tiongkok dan Jepang sebagai upaya menjadi negara unggul dalam percaturan bangsa-bangsa. Tak mungkin “saklek” meniru karena beda kultur, namun sisi positif bisa menginspirasi pendidikan Indonesia. (Dwi Priyanto - sumber: www.koran-jakarta.com)

 

 

, Nikola Dickyandi (2016), "Metode Mengajar ala Tiongkok dan Jepang", DIVA Press, 978-6023-911-23-3: 192 Halaman. 

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (1)add comment

Djunaedi said:

 
Sudah seharusnya Indonesia membuat revolusi di bidang pendidikan. Para guru harus diberi kesempatan untuk senantiasa mengembangkan dirinya sesuai dengan bidang keilmuan yang dimiliki. Bahkan diperlukan studi banding ke tempat-tempat yang memungkinkan para guru bisa mengembangkan visinya ke depan di bidang pendidikan. Semuanya itu demi masa depan negeri tercinta, Indonesia. Saya berharap suatu saat saya bisa mendapatkan buku ini.
January 24, 2018

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy