Menghidupkan Mimpi ke Negeri Sakura

Perjuangan Tak Kenal Lelah Meraih Beasiswa

Menghidupkan Mimpi ke Negeri SakuraBuku ini merupakan antologi cerita dari 19 orang Indonesia yang menempuh pendidikan di negeri matahari terbit. Ini menceritakan pengalaman, perjuangan, serta berbagai macam cara untuk mendapat beasiswa. Cerita diawali dari Kisah Gagus Ketut Sunnandianto selaku Koordinator penulis sekaligus penggagas buku ini. Judul yang diusung adalah kekuatan doa, usaha, ikhtiar, tawakal.

Buku ini antara lain menceritakan kehidupan Gagus semasa SMA yang serba kekurangan. Keluarganya penjual jamu keliling. Saudara-saudaranya pun kebanyakan tidak melanjutkan ke sekolah tinggi. Ia tinggal di daerah perbatasan antara Nganjuk dan Kediri yang minim informasi sehingga info beasiswa tidak tersebar di daerah tersebut.

Ia mendaftar ke sebuah perguruan tinggi negeri di Surabaya yang paling murah. Selama kuliah, Gagus “survive” dengan mengajar les privat dari rumah ke rumah sembari mengerjakan tugas kuliah. Meskipun kadang kekurangan bahkan pernah sehari tidak makan, dia tetap berusaha menjalaninya hingga menjadi lulusan terbaik jurusannya.

Begitu pula saat S2 dijalaninya dengan rasa prihatin. Sampai akhirnya Gagus berusaha keras menggapai beasiswa “monbukagakusho” untuk pendidikan S3. Dia tak perlu lagi mengorbankan rasa lapar demi membeli buku. Gagus berujar, ”Sukses tidak dapat diperoleh cuma-cuma. Dia harus menjalani perjuangan berat dan melelahkan, terkadang hampir membuat orang frustrasi. Hanya mereka yang tidak mudah menyerah akan memperolehnya,” (hal. 2).

Cerita menarik lainnya berasal dari Murni Handayani seorang pegawai negeri di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang ingin kuliah di Jepang. Perjuangannya begitu rumit mulai dari mencari brosur-brosur, bertanya sana-sini hingga pencarian Profesor. Lebih dari 40 e-mail telah dikirim ke Profesor di Jepang. Lumayan  yang menjawab 10. Itu pun sebagian besar menolak.

Ada satu profesor baik hati membalas, meski akhirnya dia harus gagal. Profesor itulah yang akhirnya merekomendasikan Murni untuk mendaftar beasiswa “monbunkagakusho” (hal. 90).

Ada saja cobaan yang harus dilalui, di saat ujian wawancara online melalui skype oleh tiga Profesor. Anak perempuannya sakit dan harus diopname sehingga tidak bisa melangsungkan wawancaranya. Beruntung Profesor yang baik tersebut mengerti keadaanya. Dia memperbolehkan wawancara setelah putrinya sembuh.

Penantian pengumuman beasiswa pun dengan was-was. Sebab dia telah menolak beasiwa dalam negeri untuk mendapatkan yang di Jepang tersebut. Syukurlah pada akhirnya Profesor tersebut mengumumkan, Murni resmi mendapat beasiswa “monbukagakusho”. Dia menceritakan suasana pendidikan di Jepang yang berbasis penelitian.

Demikian juga Udi Jumawan, berasal dari keluarga biasa, tapi berhasil sekolah gratis ke negeri sakura. Dia beranggapan yang tekun dan terus berusaha untuk belajar bisa mewujudkan mimpi. Udi percaya ungkapan sastrawan Brazil, “When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it,” (hal. 136).

Buku ini mengajarkan pembaca bahwa tekad dan usaha kuat akan mengantar pada kesuksesan. Doa serta peran keluarga pula sangat berpengaruh dalam membantu mempersiapkan segalanya. Banyak hikmah dan motivasi dari buku ini. Kelemahannya kurang informasi rinci tentang prosedur beasiswa itu sendiri. (Santi Puspitasari)

 

 

, Gagus Ketut Sunandianto, dkk (2014), "Menghidupkan Mimpi ke Negeri Sakura", Diandra Primamitra , 978 -6021-277-02-7: 206 Halaman. 

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy