Catatan Perjalanan Merobek Sumatra

Nasib Sejumlah Kawasan di Sumatra

Catatan Perjalanan Merobek SumatraMerobek Sumatra merupakan catatan perjalanan yang akan membawa pembaca menyelami nasib beberapa entitas budaya Sumatra yang masih bertahan di tengah laju zaman. Di tengah pemandangan indah yang mempesona, ada derita manusia yang ditanggungnya. Buku ini mengajak pembaca menyusup jauh ke dalam denyut nadi kehidupan pulau tetangga Jawa tersebut untuk melihat dari dekat perjuangan penduduk dalam mempertahankan keyakinan dan jalan hidup.

Salah satu yang diceritakan, kegelisahan Aman Lepon dan Aman Lau’lau’ ketika kehilangan garis keturunan sikerei, seorang dukun dan penjinak bisa ular. Proses penobatannya memang tak gampang lantaran harus melalui sejumlah prosesi. Sekarang, zaman modern telah begitu leluasa masuk tanpa bisa dihambat. Anak-anak mereka mulai diseret arus modernisasi, beragama monoteis, berpakaian, bersekolah, mengenal tulisan, bercelana jean. Bahkan sudah tidak ada lagi anak muda Mentawai yang ingin tubuhnya ditato. Setelah mencicipi pendidikan di luar Mentawai, pelajar melihat tato sebagai kebodohan dan primitif (hal. 5). Sebagai catatan, tato merupakan identitas orang Mentawai. Pada tato, terdapat pengalaman seseorang, asal klan atau kehebatan berburu.

Cerita ini seolah menjadi kisah sedih lanjutan sejarah eksploitasi hutan Mentawai yang tidak pendek. Belanda melakukannya, lalu pemerintah. Akhir tahun 1945, pemerintah coba menerapkan relokasi penduduk di Pulau Siberut, tapi gagal. Dilanjutkan pada 1975, masyarakat yang dianggap memiliki pola hidup primitif ini dikelompokkan dalam sebuah perkampungan baru yang dibentuk Departemen Sosial.

Orang-orang Mentawai ditekan untuk pindah dari uma. Namun yang terjadi kemudian justru hutan mereka dijarah. Belum lagi dengan gempuran gelombang besar arus pariwisata yang mengalir deras era 1980-an (hal. 9).

Nestapa serupa juga dialami Suku Anak Dalam di pedalaman Jambi. Ketika hutan tropis berganti menjadi hutan sawit dan karet, segalanya pun dipaksa berubah. Antara lain dicatat beberapa orang dari klan mereka bahkan sudah ada yang hidup mengemis dari rumah ke rumah warga di perkampungan lantaran tak ada lagi yang bisa diambil dari hutan.

Hutan kehilangan kesakralan dan roh-roh suci. Tuberkulosis dan insektisida lancang meracuni bocah-bocah tak berdosa (hal. 99). Ini membuat mereka harus terus bergerak semakin ke pedalaman. Namun, di tengah segala kemirisan tersebut, beberapa di antara mereka justru tergila-gila dengan harta benda modern seperti motor dan telepon genggam. Dari situ orang bisa memutar lagu-lagu pop. Ini seolah tak sadar bahwa semua itulah yang mencerabut mereka dari entitas budaya asli.

Catatan ini dilengkapi sumber-sumber pustaka. Kupasan lain tentang Sawahlunto yang seperti ular sedang berganti kulit. Yang lama adalah masa silam di mana bekas-bekasnya teronggok di berbagai tempat. Sementara kulit barunya adalah warna-warni kehidupan kini.

Sawahlunto berubah dari kota tambang menjadi tujuan wisata. Bekas tempat penambangan batubara terbesar itu menjadi kota prasasti tentang keserakahan manusia. Dua abad silam, setelah C de Groot dan WH de Grave mengumumkan penemuannya yang mencengangkan, yakni ratusan juta ton emas hitam di perut bumi Sawahlunto.

Lowongan kerja dibuka secara besar-besaran. Kuli kontrak didatangkan dari Jawa, Bali, Madura, dan Bugis. Kota itu kemudian menciptakan tingkatan kelas yang rasial: para tuan, pialang, pedagang, pekerja paksa, hingga perempuan penghibur (hal. 142). Sejarah pun dimulai. Entitas budaya kehidupan kota tambang bertumbuh. Hingga pada 1995, bingarnya kota tambang perlahan meredup setelah produksi batubara Ombilin terus merosot dan tergeser minyak bumi.

Catatan serta foto-foto kritis yang disajikan dalam buku ini seolah menjadi saksi laju kebudayaan yang tak bisa dihentikan. (Nur Hadi - sumber: www.koran-jakarta.com)

 

 

, Fatris MF (2015), "Catatan Perjalanan Merobek Sumatra", Serambi, 978-6022-900-38-2 : 202 Halaman. 

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy