Pembisik Musim

Membaca Madura dalam Sajak

Pembisik MusimMadura, selain kaya dengan sumber daya alam yang melimpah, juga kaya akan budaya dan tradisi. Berbagai situs sejarah yang berada di empat Kabupaten di Madura berusaha dijaga dan dilestarikan oleh pemerintah setempat. Tak pelak, hal itu membuat wisatawan, baik asing maupun domistik, tertarik untuk mengunjungi. Bahkan, tak sedikit yang menjadikannya sebagai objek penelitian.

Seiring dengan perkembangan teknologi dan modernisasi, terutama sejak jembatan Suramadu yang membentang di selat Madura beroperasi, Madura mulai berbenah. Hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi orang Madura untuk menjaga kelestarian dan keeksotisannya agar tidak terkontaminasi oleh budaya-budaya asing yang semakin gencar memasuki pulau garam.

Kepedulian untuk menjaga dan melestarikan kekayaan budaya Madura coba ditunjukkan A’yat Khalili, penyair muda Madura, lewat sajak-sajaknya yang terangkum dalam Pembisik Musim. A’yat dalam buku antologi solonya ini berusaha menampilkan eksotisme Madura dalam lirik-lirik naratif yang kaya akan perenungan. Membacanya kita akan turut merasakan bagaimana kegigihan pengarang untuk melestarikan budaya Madura dalam bingkai sajak yang memikat.

Tradisi majang (melaut) yang sangat kental dan menjadi sebagian mata pencarian orang-orang Madura pesisir bisa kita lihat dalam puisi berjudul Musim Majang. A’yat begitu menjiwai kegigihan dan semangat orang Madura dalam melaut demi mengais sesuap rezeki.

pulang dari laut/ rambut pirangmu/ selalu memaduku/ seperti kuntum bulan/ tergantung di ujung pulau/ /pohon-pohon menyala sepanjang tanah/ di bukit pikul/ di sela jazirah/ / turun ke halaman/ mengangkat wajahmu/ dari kedap mata/ tentang waktu pelayaran (Musim Majang, hlm 19).

Sementara itu, dalam Bumi Pembatik, pengarang menggambarkan bagaimana keuletan dan ketelatenan orang Madura dalam membatik. Melukis keindahan seni dalam bentangan kain yang hasilnya cukup terkenal sebagai produk lokal yang menasional, bahkan mendunia.

kami ikat segala yang terlampir/ sayup-sayup dedaun melambai disapu sinar matahari/ menguak garis nusantara/ / kami lukis segala urat/ memperteguh larik jiwa/ kelanamu di bumi orang/ memendari kami di sini/ / kami salami segala arti/ pada sesuatu yang sejak dahulu kami mengerti/ menjabar ceruk nurani/ menghangati wajahmu pada pijarannya (Bumi Pembatik, hlm 20).

Semangat dan keuletan orang Madura dalam bekerja, di mana pun mereka tinggal, selama ini memang sangat terkenal. Hal ini diabadikan pengarang dalam sajak berjudul Kota Genting yang ditulis ketika pengarang berada di Andulang, sebuah kampung penghasil genting di ujung Timur Pulau Madura. Dalam lirik-lirik Kota Genting pengarang berusaha mengukir kata dan membingkainya dalam makna yang begitu dalam.

bermimpilah kami, seperti sekuntum kota terus membara/ dalam pelukan tangga rumah dan pijar hasrat sekian jalan/ denyar syair masih mengingatkan kami bagaimana berpijak / dalam rekaan panas-api penjalin hidup dan mati/ setiap lagu terputar berkeciprak bagai lumpur dan olahan/ menyalin tetirah dalam dada-kota genting yang meluap/ / bertahanlah kami, seperti setumpuk genting terus membahana/ dalam manai jantungmu-cahaya dan sorot saling bersitatap/ sebagai pembakar, bagaimana hidup tetap berbara dan berapi/ meski hanya dapat mewarnai kericak lampu yang berlataran/ di rumah-rumah gelapmu (Kota Genting, hlm 32).

Ketigapuluh dua sajak yang terangkum dalam buku ini secara eksplisit menggambarkan bagaimana keadaan pulau Madura yang sesungguhnya. Pengarang berhasil mengabadikan jejak perjalanan dan petualangannya ke berbagai tempat yang disinggahinya dengan rajutan puisi yang memikat hati. Nuansa keindahan laut dan pantai, bagaimana merdunya saronen (jenis alat musik tiup khas Madura), karapan sapi, putih garam yang terhampar di sepanjang tambak, serta debur ombak berhasil dilukis pengarang dalam lirik-lirik naratif berestetika tinggi.

Seperti yang ditulis Korrie Layun Rampan dalam pengantar buku ini, sajak-sajak A’yat Khalili menerakan situasi yang dibangun di dalam bahasa gerak tubuh, gerak rohani, dan gerak alam. Dari situ ia menautkan nada-nada dasar alam jiwa dengan membawanya kepada kontemplasi yang memungkinkan kata-kata sajaknya yang bergerak hidup dan bernyawa. (*)

(Untung Wahyudi)

 

Judul

: Pembisik Musim

Penulis

: A’yat Khalili

Penerbit 

: Halaman Indonesia

Tahun

: 2014

Genre 

: Kumpulan Puisi

Tebal

: 90 Halaman

ISBN

: 978-6027-013-30-8

 

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy