Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Padamu

Kisah Tentang Alam Kubur

Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi PadamuAristoteles pernah berujar, bahwa segala sesuatu di dunia ini tak langgeng, yang langgeng dan pasti adalah justru kematian. Kematian adalah ketragisan yang harus dilalui oleh setiap yang bernyawa, sebuah pintu menuju sebuah tempat di mana semua akan dimintai pertanggung jawaban. Setali dengan pandangan sastrawan Danarto, bahwa hidup pun digerakkan oleh kematian. Semua orang ingin memperbaiki (kualitas) hidup karena sadar akan mati. Maka mempersiapkan kematian pun menjadi hal yang mutlak harus dipertimbangkan.

Melalui buku ini akan diingatkan tentang apa saja yang akan terjadi di alam kubur kelak. Ketika tubuh telah ditimbun tanah, perut dan kelamin adalah organ yang pertamakali membusuk (halaman 31). Seperti sebuah isyarat bahwa sumber dari segala masalah keduniaan itulah yang akan pertamakali hancur. Di hari kedua, organ tubuh bagian dalam pun menyusul. Pembusukan itu terus berlanjut hingga beberapa tahun kemudian hanya menyisakan satu tulang yang sangat kecil bernama ‘ajbudz dzanab (tulang ekor), yang kelak akan dibangkitkan ketika kiamat tiba.

Apa-apa kemudian menjadi tak penting lagi selain hanya amal perbuatan selama di dunia, yang menentukan nasib kemudian. Siksa dan nikmat kubur pun menjadi hal yang harus diterima. Beberapa amalan yang bisa menyelamatkan dari siksa kubur dibeberkan buku ini. Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, anak salih/salihah, ribath (menyiapkan diri dalam pembelaan Islam), syahid (mati syahid dengan segala batasan definisinya), serta melanggengkan beberapa amalan tertentu, adalah beberapa sebab yang bisa meringankan dari siksa kubur. Sedekah jariyah di sini tak hanya terbatas hanya pada mengeluarkan sejumlah materi. Menanam pohon, mengajarkan ilmu yang manfaat, mendidik anak dengan baik,  juga terhitung sebagai amal jariyah. Menghindari akhlak-akhlak tercela juga bisa menghindarkan dari siksa kubur. Syirik, melalaikan salat, ghibah (menggunjing kejelekan orang lain), tidak menjaga dari air kencing (dalam sebuah riwayat hadits, bahkan dituturkan ada seseorang yang mengalami siksa kubur tersebab tak membersihkan diri seusai kencing), senang mengadu domba, meratapi jenazah (yang kebanyakan dilakukan oleh kaum perempuan), memelihara sifat-sifat kemunafikan, memanjangkan pakaian hingga melebihi mata kaki (tamsil kesombongan), zina, memakan harta anak yatim dengan bathil atau menghardiknya dengan zhalim, memakan harta haram, durhaka atau bahkan membunuh kedua orang tua (sementara berkata ‘ah’ saja tidak diperbolehkan), tidak mengeluarkan zakat, mabuk-mabukan, dan lain sebagainya.

Selain amalan-amalan yang dapat menghindarkan dari atau menarik siksa kubur, buku ini juga memberikan tuntunan perihal kewajiban-kewajiban terhadap jenazah (halaman 142), serta hal-hal apa saja yang baik dilakukan oleh ahli waris untuk orang yang sudah meninggal. Mendo’akan seseorang yang sedang sakaratul maut, menalqin dengan syahadat, menziarahi kubur dan memohonkan ampunan untuk si mayit, menunaikan haji atau umrah untuk si mayit, melunasi utang dan menunaikan nadzarnya, bersedekah atas nama si mayit, menjaga silaturahmi dengan kerabat atau sahabat orangtua yang sudah meninggal, mengamalkan nasihat dan ajaran-ajarannya (ilmunya), menjadi anak yang berbakti, menggunakan harta warisan untuk kebaikan masyarakat, serta masih banyak lagi kiranya yang dapat dilakukan ahli waris untuk ‘menolong’ si mayit.

Nabi pernah bersabda bahwa dzikir yang paling utama adalah mengingat kematian. Dzikir sebenarnya tak terbatas hanya pada konvensi mengucapkan lafal-lafal tertentu. Mengingat/mengkaji segala sesuatu yang menuju Allah, juga termasuk dzikir. Termasuk membaca buku, bergaul dengan orang salih, dan masih banyak lagi caranya. Maka membaca buku ini adalah layaknya dzikir yang sekaligus dapat menambah iman dan dan ilmu. Yang menjadikan buku ini sedikit membosankan adalah terjadinya pengulangan beberapa dalil yang diambil penulis pada beberapa bab.* (Adi Zam-Zam)

 

Judul

: Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Padamu

Penulis

: Syarif Hidayatullah

Penerbit 

: Penerbit Safirah (DIVA Press Group)

Tahun

: 2014

Genre 

: Islam

Tebal

: 180 Halaman

ISBN

: 978-6022-554-83-7

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (1)add comment

Rido said:

 
smilies/smiley.gif smilies/grin.gif
November 13, 2014

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy