Dalang Galau Ngetwit
Dalang Galau NgetwitJejaring sosial telah merambah ke seluruh sektor. Mereka yang aktif bersosial tentu tak mau ketinggalan memanfaatkan media sosial seperti Twitter, Facebook, atau sekadar BBM. Begitu luwesnya sarana tersebut, sampai-sampai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun tak mau ketinggalan.
 
Orang nomor satu di pucuk pemerintahan tersebut belum lama "membuka" akun Twitter untuk berkomunikasi dengan rakyat, partai, elite, dan sebagainya. Jejaring sosial menjadi media yang dapat menjangkau ke setiap hati dan sudut jagat. Maka, Presiden pun lalu di-follow ribuan orang begitu dia membuka akun.
 
Para follower ingin mengetahui komentar-komentar Presiden setiap ada isu. Sebaliknya, Presiden pun ingin segera memberi komentar cepat bila ada isu yang dianggap penting untuk dikomentari. Sudah banyak komentar atau tulisan di jejaring sosial dibukukan. Tak pelak, mantan wartawan, Sujiwo Tejo, pun melakukannya.
 
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi (Iptek) telah banyak berdampak positif dan negatif. Dampak negatif masyarakat yang tidak bertanggung jawab, kerap memanfaatkan kemajuan Iptek sebagai alat untuk menipu dan menjelekkan orang lain atau tindakan-tindakan buruk lainnya.
 
Tapi, Iptek juga memberi manfaat bagi masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Dengan kata lain, di zaman yang serba modern serta canggih ini, semua orang tanpa terkecuali bisa berkomunikasi dan mengeluarkan ide atau pikirannya dengan gaya serta karakter masing-masing. Itu bisa dilakukan menggunakan handphone, Facebook, Twitter, dan alat komunikasi lainnya.
 
Mulai dari anak-anak sampai orang tua memanfaatkan kemajuan tersebut sesuai dengan cara dan kemampuan masing-masing. Semuanya menjadi demam Twitter, saling berkicau, termasuk Sujiwo Tejo. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi tersebut kemudian dimanfaatkan secara beragam, mulai sekadar komunikasi, debat pendapat, seperti yang dilakukan Sujiwo Tejo dalam menanggapi isu-isu sosial, politik dan lainnya. Dia ngudoroso (‘bermonolog’) lewat jejaring sosial.
 
Pada halaman 8–11, Tejo membahas persoalan cinta. Enaknya kalau putus cinta, terus kita ngobrol sama orang-orang yang ahli masa lampau. Kita akan tahu bahwa persoalan putus cinta nggak ada apa-apanya dibanding tragedi manusia sejak ribuan tahun lalu. Tampaknya, dalam percakapan ini sang dalang ingin mengingatkan bahwa putus cinta bukanlah akhir dari segalanya. Masa depan dan persoalan yang lebih berat dari sekadar putus cinta masih panjang dan menanti setiap orang.
 
Ini bisa menjadi semacam alarm atau alat pengingat. Bahasan menarik lainnya soal tawuran pelajar dan wartawan dengan judul, Warta Pelajar, halaman 12–16. Pelajar bukan mahasiswa. Dengan wartawan mereka tidak sepantaran. Mereka adik. Penanganan kasus ini mesti dalam nuansa bahwa mereka adik. Saya berharap kasus pelajar vs wartawan jika nantinya timbul kembali diselesaikan dalam spirit adikkakak. Ini sesuai dengan lagu anak-anak, bahwa selain satu-satu sayang ibu, dua-dua sayang ayah, maka tiga-tiga harus sayang adik-kakak.
 
Dalam catatan tersebut, mantan wartawan itu sepertinya ingin mengingatkan bahwa persoalan tawuran antara pelajar dan wartawan harus diselesaikan dengan bijak tanpa harus bentrok fisik, apalagi saling melukai yang menyebakan jatuhnya korban. Ada baiknya, mereka yang suka tawuran merenungkan tulisan-tulisan dalam Dalang Galau Ngetwit tersebut. (Frans Ekodhanto - sumber: www.koran-jakarta.com)

 

Judul

: Dalang Galau Ngetwit

Penulis

: Sujiwo Tejo

Penerbit 

: Imania

Tahun

: 2013

Genre 

: Sosial Budaya

Tebal

: 222 Halaman

ISBN

: 978-6029-975-66-6

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy