Paman Gober Jadi Pahlawan Nasional Cetak E-mail
(1 vote)

Partai Terang-terangan Mendirikan "Kerajaan"

Paman Gober Jadi Pahlawan NasionalBuku ini berisi kumpulan tulisan. Salah satu esainya dijadikan judul buku: Paman Gober Jadi Pahla­wan Nasional. Keseluruhan isi meng­gambarkan sosial-politik negeri ini. Para pembaca dibawa dalam masa lalu yang menakutkan dan kebijakan-kebijakan sekarang yang patut dikoreksi.

Keadaan partai politik (parpol) dikritik karena hanya diisi dinasti-dinasti keluarga. Parpol tidak berjalan sesuai dengan tujuan awalnya. Saat ini, parpol seperti ada dan tiada, timbul tenggelam, datang dan pergi. Parpol ada dan hadir sering kali hanya pada menjelang hajatan demokrasi seperti pemilihan presiden, pemilihan ang­gota legislatif, atau pemilihan kepala daerah.

Selebihnya seperti lenyap ditelan bumi. Kelak muncul lagi ketika ada anggotanya yang terjerat kasus ko­rupsi. Di parlemen, parpol muncul ketika anggotanya melanggar etika atau terlibat keributan saat membahas rancangan undang-undang. Mesti­nya, parpol hadir dalam segala situasi keadaan negeri. Bahkan, mereka harus mendidik politik anggota dan ma­syarakat. Mereka menciptakan iklim persatuan dan kesatuan bangsa untuk kesejahteraan masyarakat.

Kini, parpol layaknya sebuah sistem monarki dalam naungan demokrasi. Situasi dalam negeri yang dulu sangat bergantung pada kekuasaan seorang raja, kini pada kekuatan dan kekua­saan seorang ketua partai. Dia bisa menciptakan suasana kondusif dan sebaliknya, tergantung kepentingan.

Beberapa partai terang-terangan mendirikan kerajaan dalam parpol. Orang-orang terdekat merapat dan menjadi pengurus. Ini memperlihat­kan seakan tidak ada pemimpin di luar kerabat. Ironinya, mereka mencipta­kan kerajaan dalam naungan sistem demokrasi.

DPR periode 2014–2019 sejak awal didesain menjadi wadah pertemuan keluarga. Prananda Paloh, anak Surya Paloh, adalah caleg di Dapil Sumat­era Utara I. Ahmad Hanafi Rais, anak Amien Rais, maju di Dapil DI Yogya­karta. Ibas bernomor urut satu Dapil Jawa Timur VII. Semua nama ini punya satu kesamaan. Mereka ditempatkan sebagai caleg nomor urut pertama di daerah pemilihan. Semua, kendati katanya nomor urut tak berpengaruh pada keterpilihan, kini duduk di kursi DPR (halaman 48–49).

Bangsa bukankah telah meninggal­kan sistem monarki dan menjalankan proses demokrasi? Namun masyarakat juga telah menciptakan paradigma dan filosofi baru bernama republik-monarki. Di mana setiap orang atau kader partai boleh berbicara apa saja dan bebas melakukan apa saja. Tetapi kalau sang ketua partai sudah me­merintahkan agar diam, tak ada yang berani berkata-kata.

Rakyat cenderung memilih orang parpol yang sudah familier dan sering wira-wiri di layar televisi sebagai bin­tang film, iklan, atau lainnya. Sang ar­tis yang sudah populer pun tidak perlu pusing masuk parpol. Mereka tidak perlu susah belajar politik, berparle­men, atau manajemen kekuasaan. Mereka cukup bermodal popularitas.

Selain parpol seperti dinasti di dalam demokrasi, politik identitas semakin berkembang. Bahkan dia dijadikan senjata beberapa penguasa untuk mendapatkan keinginan. Tidak jarang, politik identitas berakhir buruk bagi segelintir orang. Komunitas, etnis, dan agama menjadi lading empuk ujaran-ujaran kebencian. Bila politik keluarga di dalam parpol dan identitas tidak disadari, negara ini akan mudah melahirkan KKN serta konflik SARA. (Novita Ayu Dewanti)

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Beibiiyku Online Shop
Sponsor
FrozenbyQueen - Lezat Alami & Halal
Sponsor
Resensi Genre Terkait
SOSIAL & POLITIK

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Metode Mengajar ala Tiongkok dan Jepang
Sudah seha...
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

"Books are not made for furniture, but there is nothing else that so beautifully furnishes a house." ~ Henry Ward Beecher

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 27236604

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit