Penghancuran Buku dari Masa ke Masa Cetak E-mail
(1 vote)

Rekaman Penghancuran Buku dalam Lintasan Sejarah

Penghancuran Buku dari Masa ke MasaJumlah buku rusak, hancur, atau hilang dari dulu sampai sekarang tidak ada rujukan. Namun dari catatan sejarah, penghancuran buku terjadi terus-menerus sepanjang masa, dulu hingga kini, di mana pun.

Secara garis besar, buku yang ditulis dalam waktu 12 tahun plus enam tahun untuk mengoreksinya ini dapat dibagi ke dalam dua bagian. Pertama, data pembakaran buku dari masa ke masa. Kedua, penyebab penghancuran buku. Dalam buku ini dikemukakan, penghancuran terjadi di Timur Tengah, Mesir, Yunani, Israel, Tiongkok, Romawi, Spanyol, Jerman, Inggris, Meksiko, Italia, Amerika Serikat, dan sejumlah tempat lain.

Buku pertama muncul di wilayah kering Sumeria, dulu Mesopotamia (sekarang Irak Selatan) sekitar 5.300 tahun lalu. Sejak kehadirannya, buku sering dihancurkan. Saat itu, buku cepat menghilang. Sebagian mungkin karena materialnya tidak begitu kuat karena terbuat dari tanah liat. Sebagian lagi karena bencana alam seperti banjir, atau tangan manusia yang meremukkan. Di Mesopotamia tidak ada yang tahu jumlah buku hancur. Namun bisa mencapai 100.000 (hal. 27).

Pembakaran buku juga terjadi di Mesir. Akhenaton, pelopor monotoisme, menjadi salah satu orang pertama yang membakar buku. Dia menyuruh naskah-naskah rahasia dihancurkan agar agama yang dianutnya unggul (hal. 41). Orang Indian juga menghancurkan banyak karya tulis. Misalnya, Itzcoal, raja Astec keempat, memerintahkan pembakaran (hal. 148).

Di Yunani antara tahun 500 hingga 200 SM ada 2.000 lebih karya teater yang dibuat, tetapi hanya sekitar 46 yang bisa kita baca saat ini. Serbuan dan pendudukan Jepang membumihanguskan 224.000 buku di Institut Teknologi Heipei dan sebanyak 200 ribu buku lenyap dari Universitas Nasional Tsinghua, China (hal. 255). Perpustakaan Kota Madya Zadar yang dibangun tahun 1857 dengan koleksi 60.000 buku, dibom pada tanggal 9 Oktober 1991. Koleksi partitur dan buku-buku sekolah musik rusak parah (hal. 277).

Ada berapa sebab terjadinya penghancuran buku. Kebakaran dan gempa bumi telah memusnahkan teks-teks Yunani dalam jumlah yang tidak terhitung (hal. 77). Perang adalah sumber utama kehancuran buku. Blade mengemukakan, penyebab kehancuran buku atara lain api, air, gas, panas, debu, penelantaran, kecerobohan, kedengkian, kutu, ngengat, anak-anak, dan pelayan (hal. 204).

Menurut sejarawan Charles Schefer, pada saat koleksi Pineli, humanis Italia dikirim ke Napoli saat berada di antara Venesia dan Ancona, bajak laut Turki, mengira kapal-kapalnya mengangkut emas atau batu-batuan berharga. Mereka membajak dan menggelamkan satu kapal yang membawa 33 peti buku antik (hal. 182-183). Hilang dan musnah kerap kali sulit dibedakan dalam sejarah buku karena kadang sebuah karya hilang dimusnahkan. Lain kali karena memang hilang. Yang jelas, teks-teksnya sudah tidak ada lagi.

Mengenai pelaku pembakaran, buku ini menyajikan data yang cukup bertolak belakang dengan anggapan selama ini terhadap filsuf. Filsuf selama ini seringkali diindentikkan dengan kearifan dan kebebasan berpikir. Namun dalam buku ini dikemukakan, Plato mungkin sekali membakar buku. Ada cukup alasan untuk meyakini bahwa Plato memberangus kebebasan bicara yang tidak sejalan dengan kebenaran (menurut sistemnya). Bahkan Plato juga tidak memandang banyak manfaat buku-buku. Plato mengemukakan, tulisan akan berakibat diterlantarkannya ingatan manusia (hal. 51).

Karya Aristotles saat ini hanyalah catatan-catatan yang dikumpulkan dan dilestarikan para penggila buku atau murid-muridnya. Dialog-dialog, berbagai tulisan, surat, dan puisi pertama Aristotles lenyap (hal. 59). Kaisar Caracalla (hal. 118) yang saat gilanya sedang kumat memerintahkan pembakaran buku-buku Arisototles karena menganggap telah meracuni Iskandar Agung (hal. 75). Ketidaksukaan atas sebuah pemikiran menjadikan buku hilang dari peredaran atau dimusnahkan.

Namun, penghancuran tidak menjadikan penerbitan buku berkurang atau hilang. Sekalipun ada yang harus mempertaruhkan jiwa raga kelahiran buku baru tidak pernah terbendung. Penerbitan buku dari waktu ke waktu tetap eksis sekuat apa pun tenaga menghadangnya. (Dr Binoto Nadapdap - sumber: www.koran-jakarta.com)
Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Beibiiyku Online Shop
Sponsor
FrozenbyQueen - Lezat Alami & Halal
Sponsor
Resensi Genre Terkait
Tidak ada Resensi Genre Terkait

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Metode Mengajar ala Tiongkok dan Jepang
Sudah seha...
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

"All books are divisible into two classes, the books of the hour, and the books of all time." ~ John Ruskin

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 29372689

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit