Jejak Rasa Nusantara Cetak E-mail
(1 vote)

Sejarah Boga Nusantara dari India hingga Eropa

Jejak Rasa NusantaraDalam buku Jejak Rasa Nusantara ini terangkum catatan komplet dari sekian banyak pengaruh kebudayaan yang melebur menjadi pola makan masyarakat Indonesia sekarang. Jalannya melalui proses perdagangan, penjajahan, hingga perkawinan silang dan penyebaran agama.

Felipe Fernandez menyebut makanan adalah sesuatu yang mudah ditiru dan menyebar (cuisine are easily imitated and transferred). Makanan Indonesia sekarang juga merupakan kombinasi dari banyak pengaruh kebudayaan seiring interaksi internasional. Pada abad 10 mulai dipengaruhi bangsa India, Arab, dan Tionghoa. Baru abad 16 hingga 18, kuliner Indonesia dipengaruhi Eropa atau yang disebut Columbian exchange (hal. 6).

Dari India muncul bumbu seperti bawang/bakung, ketumbar, jintan, dan jahe. Pengaruh lebih luas lagi dari Tiongkok. Jalur perdangan sutra dan rempah-rempah telah ikut memboyong tradisi pangan dari negeri seberang. Masyarakat mulai mengenal dasun/bawang putih, kedelai, pengolahan sari tebu, mengolah gula dari getah pohon palma, menggoreng dengan wajan dan minyak. Di dalamnya termasuk tuak dan tahu dari bahasa hokian tau-hu (hal. 20).

Kehadiran Eropa lewat kolonialisme dan perdagangan memperkenalkan pengolahan daging. Raffles menyebut Jawa sebagai tanah sayur-sayuran karena komoditi makanan yang didominasi dari tetumbuhan. Lantaran terpengaruh Eropa, muncul sapi dan unggas. Perdangan jenis-jenis daging sendiri pada abad 19 meningkat seperti kerbau, sapi, kambing, kijang, dan jenis unggas di pasar-pasar Jawa (hal. 60).

Pergeseran akibat pengaruh budaya global pada kuliner Indonesia, di antaranya penggantian lada dengan cabai, gula tebu menggeser gula aren, sapi dan kambing mengganti kerbau. Demikian juga terigu yang hampir-hampir merusak pasar terigu dari kekayaan hayati khas Indonesia: sagu, beras, umbi-umbian, maizena, dan tapioka. (hal. 285).

Sebelum Eropa hadir, orang-orang pribumi makan sebagai sarana pemenuhan lapar semata. Orang pribumi dikenal sederhana dalam urusan makan. Mereka yang punya kolam biasa memanfaatkan ikan hasil pancingan untuk digoreng, kemudian disantap bersama nasi dan sambal. Kemudian, setelah puas makan mengisap rokok nipah dari klobot jagung, minum kopi hitam, dan mengunyah sirih.

Bukan hanya jenis makanan, orang-orang pribumi juga sederhana dalam peralatan. Mereka tidak mengenal sendok, garpu, pisau daging, atau sendok garam. Pada umumnya rakyat makan di lantai. Mereka menggunakan alas makanan dengan daun pisang atau piring kayu. Makan menggunakan jari yang sudah dibasuh air agar nasi tidak lengket.

Karena absorpsi budaya ini dikenal meja makan untuk menyajikan makanan dalam piring, sendok, garpu, serta sesekali pisau daging. Jejak lain yang tampak pengaruh jenis makanan Eropa dalam khasanah kuliner antara lain ada frikadel (perkedel), smoor (semur), biefstuk (bistik), soep (sup), dan zwartzuur (ayam suwar-suwir). Kita juga menyerap istilah kuliner Prancis: bolu (bolo), acar (achar), bika/bingka (bibenka), ketela (castela), kobis atau couve (hal. 53).

Sejarah dan politik ikut bersama dalam perkembangan kuliner. Maka tidak ayal bahwa sejarah kuliner sama saja dengan menengok sejarah Indonesia. Dalam hidangan makanan ada sejarah panjang yang sedap untuk terus ditelusuri.

Jean Anthelme Brillat-Savarin dalam bukunya Physiologie du got atau The Physiology of Taste melegendakan sebuah frasa Tell me what you eat, and I will tell you what you are. Makanan bukan hanya memberi rasa kenyang, tetapi juga memengaruhi psikologi manusia, bahkan sejarah sebuah negara. (Khoimatun Nikmah - sumber: www.koran-jakarta.com)

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Beibiiyku Online Shop
Sponsor
FrozenbyQueen - Lezat Alami & Halal
Sponsor
Resensi Genre Terkait
Tidak ada Resensi Genre Terkait

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Metode Mengajar ala Tiongkok dan Jepang
Sudah seha...
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

“After all manner of professors have done their best for us, the place we are to get knowledge is in books. The true university of these days is a collection of books.” ~ Albert Camus

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 29039946

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit