Paideia; Filsafat Pendidikan - Politik Platon Cetak E-mail
(1 vote)

Pemimpin Mestinya Berani, Jujur, dan, Adil

Pendidikan pragmatis membuat manusia hanya terjebak pada kesenangan sesaat. Inilah yang sekarang terjadi di banyak lembaga pendidikan Indonesia. Bahkan, selain pragmatis, pendidikan tidak pernah jauh dari logika teknik (hal. 21). Untuk membendung arus pendidikan pragmatis, para pemangku harus menghidupkan nilai-nilai kepekaan yang dimulai sejak dini. Inilah esensi pendidikan tulisan Plato, sekitar abad keempat sebelum Kristus. Orang tua, guru, dan aktor pendidikan harus bertanggung jawab (hal. 24).

Pendidikan sensibilitas akan membawa anak didik peka terhadap persoalan sosial masyarakat. Mengubah paradima pendidikan Indonesia dimulai dari kanak-kanak. Pendidikan anak usia dini perlu mendapat perhatian serius. Para pendiri bangsa mementingkan pendidikan antipragmatis. Ki Hajar Dewantara, misalnya, menganggap pendidikan proses pembudayaan. Ini suatu usaha menanamkan nilai-nilai luhur kepada generasi baru ke arah keluhuran hidup.

Situasi politik Indonesia terkesan mengenaskan. Banyak aktor politik tidak mengindahkan nilai-nilai yang baik. Para pemimpin masih berparadigma power-oriented. Mereka tertipu dengan dorongan dada ataupun perut. Ketika seorang pemimpin hanya mengikuti dorongan dada dan perut, yang terjadi situasi negara serba-chaos. Misalnya, marak korupsi. Pemimpin seharusnya mengikuti dorongan kepala, bukan dada dan perut. Itulah yang disebut dengan pemimpin sang filsuf.

Diperlukan paideia (pendidikan) untuk menghasilkan pemimpin yang baik. Mereka akan memperbaiki tatanan yang korup (hal. 40). Paideia harus dimulai sejak dini. Kebetulan negara ini coba menganut demokrasi, paham yang terbaik di antara berbagai tawaran politik dalam sejarah. Untuk memperbaiki tatanan karut-marut dalam negara demokrasi, kuncinya pendidikan (hal. 48).

Buku hendak menawarkan salah satu filsafat pendidikan yang penting dalam sejarah pemikiran dan pendidikan humanis di Eropa. Plato, filsuf besar penulis buku The Republic, memberi ide-ide segar cara mengubah situasi masyarakat melalui pendidikan (hal. 50). Inilah relevansi gagasan buku terhadap situasi politik Indonesia.

Prinsip pendidikan Plato mendidik jiwa, imitasi, dan mitos. Para calon pemimpin mesti melakukan imitasi (meniru) pada keutamaan-keutamaan. Bagi Sokrates maupun Plato, tujuan pendidikan membuat jiwa manusia lebih baik. Lebih dari sekadar merawat, mendidik bagi Plato berarti memberi bentuk yang tertata dan teratur pada jiwa anak didik (hal. 65).

Situasi politik Indonesia karut-marut karena kepentingan dan motif buruk menjadi pemimpin yaitu mencari uang. Hal ini bisa dibuktikan, di masa Orde Baru penguasa bisa mengatur semua semaunya. Anak cucu dan kerabat bekerja di tempat basah, bergelimang uang. Politik menjadi pekerjaan. Berkuasa jadi sarana mendapat uang untuk memuaskan hasrat tak terbatas akan makan, minum, dan seks (hal. 96).

Motif kedua didorong hasrat menyala-nyala di dada sejak muda untuk menyejahterakan warga. Rasa cinta dan hasrat menyala untuk berkorban demi kejayaan bangsa menjadi pendorong utama untuk mati-matian mempertaruhkan segalanya demi kekuasaan. Inilah pengejar kehormatan dan penggila jabatan.

Seharusnya seorang pemimpin negara ini mengikuti motif ketiga menjadi gembala. Artinya, seorang pemimpin ideal bukan suka uang, bukan pula pencari kehormatan. Ia masuk pada kekuasaan justru karena keadaan dan keterpaksaan. Dalam arti itulah, menjadi pemimpin berarti mengorbankan diri demi kepentingan orang lain (hal. 97).

Pendidikan rancangan Plato hendak memunculkan calon pemimpin yang berani, bijaksana, dan adil. Hanya lewat paideia dan visi politik baru, negara yang benar bisa diharapkan muncul. (Mahmudi - sumber: www.koran-jakarta.com)

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Beibiiyku Online Shop
Sponsor
Frozen Food Sehat Alami
Sponsor
Resensi Genre Terkait
Tidak ada Resensi Genre Terkait

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Dare To Make Mistakes; Kreatif Berinovasi dan Bera...
Bagus ini ...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

“After all manner of professors have done their best for us, the place we are to get knowledge is in books. The true university of these days is a collection of books.” ~ Albert Camus

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 25447892

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit