Petani, Priayi, dan Mitos Politik Cetak E-mail
(1 vote)

Petani dalam Pusaran Politik dan kemiskinan

Sebagian besar penduduk Indonesia bermata pencaharian pertanian atau bercocok tanam. Data 2013 menunjukkan, jumlah petani mencapai 31,7 juta. Meskipun cenderung berkurang, angka ini menempati urutan pertama profesi nasional. Selain itu, Indonesia juga memiliki lahan lebih dari 31 juta hektare siap tanam yang sebagian besar di Jawa.

Sebagai negara yang sangat potensial di sektor pertanian, sudah selayaknya Indonesia menjadi salah satu negara makmur di dunia karena kekayaan melimpah ruah. Di segala sektor kehidupan menjamin kesejahteraan. Sayangnya, kualitas sumber daya manusia tak sebanding ketersediaan sumber daya alam.

Ironinya, dalam perjalanan waktu, pemerintah serta masyarakat sendiri tidak menyadari potensi pertanian. Bahkan ada pernyataan, petani merupakan profesi orang pinggiran. Permasalahan-permasalahan ini terangkum dalam buku Petani, Priayi dan Mitos Politik. Buku coba menggambarkan keadaan pertanian dari masa ke masa.

Ada tiga tesis mengenai keterlibatan petani dalam politik Indonesia. Pertama, polarisasi mayarakat perdesaan yang terdiri atas tuan tanah dan petani penggarap (susunan kelas). Misalnya, di Jawa di mana PKI konsentrasi tanah. Mayoritas petani adalah pekerja pertanian yang tidak bertanah.

Kedua, ketegangan kultural antara santri dan abangan terkait aliran yang merupakan koalisi vertikal tanpa kelas sosial dan stratifikasi. Maksudnya, partai-partai Indonesia menerima siapa saja sebagai anggota seperti PKI yang mempunyai suborganisasi keagamaan dan mengorganisasi pegawai negeri.

Ketiga, konflik sosial-ekonomi dan cultural. Biasanya muncul konflik kepentingan antara tuan tanah (fanatisme agama) dan kepentingan petani (komunisme). Perdesaan, terutama Jawa, dikenal dengan komunitas agraris tertutup, homogen, dan didominasi ikatan tradisional dengan struktur supradesa yang bersifat feodal kolonial. Kelas sosial perdesaan dibagi berdasarkan ukuran pemilikan tanah. Di antaranya, (1) golongan penduduk inti (wong baku, gogol, pribumi) yang mempunyai tanah pertanian, rumah dan pekarangan dengan hak dan kewajiban penuh. Kemudian, (2) indung yang mempunyai sebidang tanah pertanian atau rumah-pekarangan dengan hak dan kewajiban terbatas. Lalu, (3) nusup tlosor atau bujang (penyakap, buruh tani, pekerja serabutan) yang tidak mempunyai keduanya.

Buku mau menggambarkan keadaan pertanian Indonesia. Setidaknya, radikalisme petani muncul bukan karena gangguan dalam struktur sosial, tapi terjadinya proses eksploitasi dan dominasi satu kelas terhadap lainnya. Radikalisme petani dipahami sebagai reaksi kaum proletar terhadap borjuis sebagai ekspresi dari struktur kelas yang kontradiktif.

Deprivasi sosial-ekonomi dan represi politik dari negara serta kekuatan ekonomi pasar/kapitalisme merupakan faktor yang menumbuhkembangkan eksklusivisme perlawanan. Lebih lagi ketika ada kebijakan agraria yang merugikan kepentingan petani baik dalam mengakses maupun penguasaan sumber daya agraria (tanah). Ini akan melahirkan perlawanan semakin keras, militan, emosional, dan destruktif.

Radikalisme komunitas petani muslim menjadikan fanatisme agama sebagai ideologi gerakan dan sumber inspirasi serta nilai yang digunakan dalam membangun komunalisme. Mereka bahkan mampu mengonstruksi radikalisme menggunakan simbol-simbol agama sebagai bingkai tindakan sehingga semakin memotivasi dan memobilisasi perlawanan. Pertanian tidak hanya sebatas tanah dan tumbuhan, tetapi melibatkan politik suatu daerah atau negara. (Novita Ayu Dewanti - sumber: www.koran-jakarta.com)

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Beibiiyku Online Shop
Sponsor
FrozenbyQueen - Lezat Alami & Halal
Sponsor
Resensi Genre Terkait
SOSIAL & POLITIK

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Metode Mengajar ala Tiongkok dan Jepang
Sudah seha...
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

“After all manner of professors have done their best for us, the place we are to get knowledge is in books. The true university of these days is a collection of books.” ~ Albert Camus

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 28789914

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit