Celoteh Jalanan Cetak E-mail
(1 vote)

Bijak Berkendara Berpotensi Mengurangi Kecelakaan

Setiap tahun, angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia semakin meningkat. Tahun 2016, jumlah kecelakaan mencapai 105.374. Ini me­ningkat dari tahun sebelumnya yang berjumlah 98.906. Angka ini membuk­tikan program Roadmap to Zero Ac­cident yang dicanangkan pemerintah sejak tahun 2008, tidak sukses.

Buku ini menyajikan asumsi dasar bahwa penyebab kecelakaan tersebut lebih karena perilaku pengendara dari sebab-sebab lain. Asumsi diperkuat be­ragam potret faktual yang dikumpulkan selama bertahun-tahun. Ia bisa berupa ketidakacuhan pengendara terhadap rambu-rambu lalu lintas, berkendara sambil nelepon, ugal-ugalan di jalan, enggan berbagi jalan, tidak mendahu­lukan pengendara lain, dan sebagainya.

Mengapa bisa demikian? Dia terkait erat dengan kepribadian pengendara yang anasirnya bisa dikaitkan dengan hilang nilai keimanan kepada Tuhan, luntur elemen humanisme, serta kega­galan pendidikan. Di samping itu, ini menunjukkan krisis kepercayaan pen­gendara terhadap hukum dan aparatur (hlm 35-36).

Jika iman kepada Tuhan berakar kuat, pengendara akan hati di jalan-jalan, khawatir mencelakakan orang lain. Bahkan membunyikan klakson di momen yang tepat agar tak meng­ganggu ketenangan orang lain. Knal­pot motor akan disetel sehalus mung­kin dan tidak terpikir untuk mengganti dengan yang suaranya kencang.

Jika keimanan tidak ada, masih ada sisi humanisme sebagai manusia, lu­mayan. Pengendara akan menganggap orang lain bagian dari dirinya. “Andai pun Anda tidak percaya Tuhan, tidak beragama, tidak percaya terhadap mi­tos maupun karma, namun Anda harus percaya adanya nilai-nilai humanisme universal. Dengan begitu, manusia wa­jib menghargai sesama karena mereka adalah diri kita yang lain,” kata M Faizi, penulis buku ini (hlm 102).

Pendidikan yang banyak diajarkan di gedung sekolah bisa diukur. Salah satunya di jalan raya. Jika pelajar sudah tidak bisa menghargai peng­endara lain, mengindikasikan kega­galan pendidikan menumbuhkan rasa kemanusiaan dalam diri siswa. Hukum sebenarnya merupakan jalan terakhir yang harus ditegakkan ketika dari sisi personal, pengendara sudah tidak bisa mendisiplinkan diri sendiri.

Buku ini juga mengaitkan sikap berkendara dalam bidang kehidupan lebih luas. Misalnya, jika pengendara lebih suka membayar suap kepada polisi ketika ditilang, jelas dalam bidang kehidupan yang lain, dia juga akan melakukan serupa. Jika pengen­dara menganggap perbuatan tersebut biasa, jangan berharap korupsi negeri ini teratasi. Sebab, sejak dari pikiran, banyak pengendara yang notabene rakyat biasa menganggap suap sebagai lumrah. “Kalau urusan semacam ini dianggap sepele, selain korupsi ada juga sikap permisif,” katanya (hlm 63).

Jalan raya adalah ruang pengendara bertindak orisinal sesuai dengan watak asli, sehingga bisa menjadi barometer sebuah sikap masyarakat, bahkan etalase peradaban sebuah bangsa. Di negara maju, pengendara berhenti ke­tika lampu lalu lintas berwarna merah, kendatipun saat itu jalanan sepi. Rule is the rule. Secara logika, andai mere­ka melaju, tidak akan ada kecelakaan. Buku ini menjadi bahan renungan pem­baca agar bisa lebih bijak berkendara.

Jangan memandang berkendara se­kadar menyalakan mesin, menjalank­an motor, hingga ke tujuan. Namun, berkendara adalah interaksi sosial dengan sesama berdasarkan nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan aturan hukum demi tercipta kehidupan jalan raya yang aman dan nyaman. Ini persis interaksi sosial dalam kehidupan lebih luas. Pengendara harus mampu men­gendalikan diri secara baik.

(Ahmad Hasinul Ansor - sumber: www.koran-jakarta.com)
Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Beibiiyku Online Shop
Sponsor
FrozenbyQueen - Lezat Alami & Halal
Sponsor
Resensi Genre Terkait
SOSIAL & BUDAYA

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Metode Mengajar ala Tiongkok dan Jepang
Sudah seha...
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

"Books are not made for furniture, but there is nothing else that so beautifully furnishes a house." ~ Henry Ward Beecher

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 28777923

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit