How to Sell Your Art Online Cetak E-mail
(1 vote)

Meniru Pola Pikir Seniman Sukses

Sudah lama jadi pemberitaan dan keyakinan di masyarakat bahwa menjadi seniman adalah pilihan menjadi miskin. Kaum seniman diberi gelar bohemia yang artinya bagian masyarakat hidup pas-pasan. Istilah bohemia sendiri dibuat dan dipopulerkan Henri Murger, sastrawan berbakat, namun hidup dalam keadaan miskin hingga akhir hayatnya. Menurut Murger, kemiskinan kaum seniman sudah ada sejak ribuan tahun lalu di masa Romawi dan Alexandria.

Anggapan seniman tidak bisa sukses secara finansial sudah menjadi pandangan umum. Akibatnya, banyak orang tua enggan anaknya belajar seni. “Gagasan ini begitu kuat tertanam dalam masyarakat sehingga sering kali didapati orang tua menolak anaknya menggeluti dunia seni murni,” kata Cory Huff, penulis buku ini (hlm 25).

Tidak hanya karena pandangan Henri Murger yang membuat masyarakat meyakini demikian. Secara kenyataan, beberapa seniman besar dan profesional jatuh miskin hingga mengakhiri hidup dengan bunuh diri, misalnya Mozart dan Vincent Van Gogh. Apakah memang seniman ditakdirkan menjadi bohemian alias orang miskin?

“Cerita tentang kaum bohemia adalah mitos yang dijadikan andalan untuk memahami cara berpikir seniman. Orang-orang bohemia adalah seniman amatiran yang tak dibayar,” kata Cory Huff (hlm 12). Seniman amatiran tidak bisa mengomersialkan karya seni. Faktanya, banyak seniman justru kaya raya karena karya seninya dipandang dan diperlakukan layaknya komoditas bisnis seperti Pablo Picasso, El Greco, Matisse, atau Duchamp.

Gwenn Seemel, seniman yang hidupnya berlimpah harta lantaran lihai menjual karyanya lewat blog, media sosial, email, dan website. Dia berkata, menjadi seniman sukses bukanlah sebuah misteri, tapi tentang pola pikir sukses, memahami prinsip bisnis, dan setiap hari melangkah maju menuju target (hlm 22).

Prinsip bisnis dalam karya seni menekankan pemahamanan tentang pertukaran nilai (exchange of value). Masalahnya, pertukaran nilai karya seni sangat jauh berbeda dengan pertukaran nilai pensil atau apel yang harganya mudah diketahui. Harga karya seni setingkat dengan nilainya. Nilai karya seni diukur kalau mampu memengaruhi emosional pembeli.

Konsumen karya memiliki ragam rasa berbeda. Ada yang ingin membeli sebuh karya seni untuk mempercantik rumah, pengingat sepotong kenangan, atau menjadikannya pintu menuju pengalaman emosional tertentu. Kendatipun demikian, mereka punya kecendrungan serupa untuk mendongkrak status sosial. “Bagi kolektor, yang terpenting punya sesuatu yang tidak dimiliki orang lain. Karya seni adalah objek untuk menetapkan status mereka (hlm 26).”

Seniman juga harus tahu dan mengenal baik pembeli karyanya. Pelanggan senantiasa berharap karya yang dibeli sesuai dengan harapan dan tidak palsu. Jika tidak kenal, konsumen memilih membeli karya seniman yang sudah ternama. Sebab itu, seniman harus banyak menggunakan fasilitas internet untuk berhubungan akrab dengan masyarakat. Misalnya, bergabung dengan komunitas online agar namanya dikenal (hlm 150).

Seniman harus yakin karyanya akan laku. Banyak orang suka. Mental block ini banyak menghinggapi para seniman pemula sehingga tidak gigih memasarkan karya. Padahal untuk mematahkan hambatan mental ini sangat mudah. “Begitu uang masuk, dengan sendirinya kepercayaan yang membatasi itu dipatahkan. Bahkan ketika uang yang didapat tidak banyak-banyak amat,” kata Cory Huff (hlm 35).

Para seniman yang sukses saat ini awalnya menjual karya di pinggir jalan. Mereka promo di milis, grup media sosial, atau menawarkan di keramaian. Itu dilakukan agar ada orang yang tertarik dan membeli sehingga tumbuh keyakinan diri.

Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman Cory Huff sebagai seniman sukses menjual karyanya secara online. Sedikit sekali teori dalam buku ini. Konten buku didominasi metode praktis serta diperkuat pengalaman pribadi dan seniman sukses lainnya. (Akhmad baidhawi)

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Tebar Manfaat - Ikatan Alumni SAP KIT
 Program Santunan Anak Yatim di VILA QUR`AN FATHUL MUBIIN BANDUNG (*)

Donasi bisa disalurkan melalui rekening:

Bank SYARIAH MANDIRI ( 7111-8856-77 )

a/n: Ghani Hikmawan

(*acara pada tanggal 09 Desember 2017)

***

konfirmasi donasi ke: 3543be3679047cc27c67d19a6e7d8e19

Beibiiyku Online Shop
Sponsor
Resensi Genre Terkait
Tidak ada Resensi Genre Terkait

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Dare To Make Mistakes; Kreatif Berinovasi dan Bera...
Bagus ini ...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

"A book worth reading is worth buying." ~ John Ruskin

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 25247941

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit