The Art of Creative Thinking Cetak E-mail
(1 vote)

Kreativitas Tumbuh Tidak di Zona Nyaman

“Agar tidak tergantikan orang, Anda harus selalu berbeda”. Ungkapan ini sangat populer karena diucapkan desainer Prancis kenamaan, Coco Chanel. Bagi Chanel, ungkapan tersebut merupakan kunci utama kreativitas dalam merancang mode. Salah satu desain abadi kreasinya yang bertahan hingga sekarang baju sporty kasual anak muda. Desain ini memiliki akar sejarah kental pergulatan Chanel menentang kemapanan.

Dia menentang tradisi berpakaian khas wanita yang harus memakai korset agar bisa tampil modis dan elegan. Bagi Chanel, pakaian demikian menyesakkan. Ukuran elegan adalah kenyamanan. “Kemewahan harus nyaman. Kalau tidak nyaman, bukan kemewahan,” kata Chanel. Sebab itu, dia pun mendesain baju kasual nyaman yang dipakai sendiri. Jelas banyak orang mencibir karena mode pakaian demikian saat itu terbilang aneh. Tak lama kemudian, dia menjadi primadona kaum remaja (hlm 22).

Menentang kemapanan berawal dari keraguaan atas efektivitas kemapanan. Keraguan itu sendiri tumbuh dari pengetahuan, bukan kebodohan. Kreativitas memerlukan penguasaan ilmu karena tidak lahir dari otak hampa. Ilmu merupakan pupuk menumbuhsuburkan ide kreatif. Dari penguasaan satu bidang ilmu pengetahuan, lahirlah keraguan terhadap efektivitas teori yang telah mapan. Muncullah cara pandang baru yang sebenarnya bagian pengembangan ilmu itu sendiri.

Richard Feynman adalah ahli Matematika. Dia menemukan Mekanika Kuantum dan Fisika Partikel, yang kemudian mengantarnya meraih Nobel. Penemuan itu berangkat dari keraguannya terhadap kemampuan Matematika tradisional menggambarkan dunia baru sub-atom. Einstein meragukan pengetahuan Fisika rumusan Newton. Dari keraguan itu, Einstein mengkreasi Teori Relativitas.

Beethoven meragukan aransemen gubahan Mozart dan kreativitas Picasso muncul saat meragukan pandangan Michelangelo sehingga lahirlah teori kubisme. Semua keraguan itu lahir dari puncak pengetahuan yang mereka kuasai. Begitu perasaan puas sudah menguasai, gairah untuk menambah wawasan juga terhenti. Kreativitas ikut mati. Pada tahun 1990-an perusahaan mobil Henry Ford ditinggalkan konsumen karena merasa puas dengan model T saja (hlm 51-53).

Orang kreatif belajar tiada henti, walau sudah senior dan berhasil menularkan banyak ide. Di Royal College of Art terdapat banyak orang terkenal, seperti Ridley Scott, Henry Moore dan Dennis Hopper, tapi mereka rendah hati. Mereka selalu merasa kurang kompeten. Setiap orang, kendatipun siswanya sendiri, dianggap sumber kreativitas.

Dengan paradigma demikian, prinsip mereka ketika mengajar adalah belajar bersama-sama. Mengajar tentang menunjukkan pertanyaan yang tepat, bukan memberi jawaban benar. Dengan berbagai pertayaan, ide-ide segar nan kreatif dirangsang keluar (hlm 367).

Keraguan kemudian harus diekspresikan secara total, tanpa khawatir salah. Bahkan, dia perlu direncakan untuk mengalami lebih banyak kesalahan (hlm 153). Takut melakukan kesalahan sama saja mengulang metode lama berkali-kali dan menganggap ilmu pengetahuan yang dikuasai adalah kebenaran mutlak.

Sosok kreatif tidak betah di zona aman. Kreativitas bermata dua. Di satu sisi akan banyak ditentang karena akan meruntuhkan kemapanan. Di sisi lain, jika berhasil, dia akan jadi terobosan baru kevakuman. Sebab itu, ide-ide kreatif banyak lahir di tempat hampa tekanan. “Kreativitas tumbuh subur di tempat kerja atau studio terbuka terhadap kemungkinan-kemungkinan dan ide-ide baru (hlm 147).”

Puluhan seni berpikir kreatif yang dikemukakan buku ini pada dasarnya bertumpu pada belajar tiada henti, bebas mengekspresikan pikiran tanpa takut sedikit pun, serta selalu menjadi diri sendiri. Teknik kreatif apa pun, tanpa fondasi ini, hanya sia-sia. (Arief Yusran - sumber: www.koran-jakarta.com)

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Resensi Genre Terkait
PENGEMBANGAN DIRI

Resensi Terbaru
Resensi Populer
SCHOOL for the NEXT LEADERS
Sponsor
Komentar/ Resensi Baru
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Dare To Make Mistakes; Kreatif Berinovasi dan Bera...
Bagus ini ...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

"A book worth reading is worth buying." ~ John Ruskin

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 24483056

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit