The Book of Joy Cetak E-mail
(1 vote)

Cara Sederhana Menemukan Kebahagiaan Diri

“Saya percaya bahwa tujuan hidup adalah menemukan kebahagiaan. Tidak peduli apakah dia beragama Buddha seperti saya, atau Kristen seperti Uskup Agung Desmond Tutu, atau kaum beragama lain. Atau bahkan mereka yang tidak beragama. Sejak lahir, manusia ingin menemukan kebahagiaan dan menghindari penderitaan (halaman 14).” Begitu pernyataan Penerima Nobel Perdamaian sekaligus tokoh Buddhis, Dalai Lama ke-14, Tenzin Gyatso.

Namun, yang menjadi pertanyaan bagaimana menemukan kebahagiaan. Terlebih lagi, suka-cita di tengah dunia yang terus berubah. Dunia penuh tragedi, kesengsaraan, perang, dan terorisme. Belum lagi, masalah pribadi baik kecil maupun besar yang terus menyertai.

Buku ini menggambarkan cara Dalai Lama dan Uskup Agung Tutu bisa tetap menemukan suka-cita, meski harus menjalani lebih dari 50 tahun dalam pengasingan dan ancaman.

Dalai Lama saat ini masih dalam pengasingan dari pemerintah Tiongkok yang menindas warga Tibet. Sementara itu, Uskup Agung Tutu pernah menjalani hidup penuh penderitaan karena politik apartheid di Afrika Selatan.

Salah satu solusi Dalai Lama, berhenti terlalu berpusat pada diri sendiri. Ia menjelaskan memikirkan diri sendiri secara berlebihan akan menimbulkan rasa tidak aman dan takut dalam diri. Ini bisa berujung pada rasa marah dan kekerasan (halaman 77).

Contohnya, saat orang berpikir menyedihkan. Cobalah berpikir bahwa ada orang yang keadaannya lebih menyedihkan lagi. Pola pikir seperti ini bukan untuk membuatnya merasa bahagia di atas penderitaan orang lain, tetapi justru mengingatkan untuk lebih bersyukur dan berupaya menolong sesama.

Menolong dan memikirkan orang lain akan membuat diri lebih bahagia dan mengarahkan ke suka-cita. Dalai Lama bependapat suka-cita harus ditemukan dari dalam diri, bukan karena faktor eksternal di luar diri. “Mengapa harus tak bahagia bila suatu keadaan bisa diubah? Apa gunanya menjadi tidak bahagia apabila keadaan memang tidak bisa diubah?” Begitu pernyataan yang kerap dilontarkan Dalai Lama.

Di sisi lain, Uskup Agung Tutu menekankan pentingnya berbahagia atas pencapaian serta kesuksesan orang lain. Sebab, kebahagiaan dan kesuksesan orang lain justru membuat diri merasa kecil dan menimbulkan kecemburuan. “Padahal, apabila orang benar-benar menerapkan cinta kasih, maka dia akan ikut berbahagia ketika mereka mendapatkan nasib baik,” ujarnya (halaman 140).

Untuk menghindari kecemburuan atas keberhasilan orang lain, Dalai Lama memberi saran agar manusia memandang orang lain seperti diri sendiri. Sama lainnya, mereka juga ingin bahagia dan sukses. Penting pula untuk melihat orang lain dengan kacamata “sesama manusia” tanpa embel-embel status, jabatan, atau kekayaan. Dengan begitu, orang akan lebih mudah bersimpati pada orang lain (halaman 140).

Secara kronologis dan deskriptif, Abrams menceritakan mulai dari kedatangan Uskup Tutu ke Dharamsala, India, untuk merayakan ulang tahun ke-80 Dalai Lama, sampai saat keduanya harus berpisah.

Alih-alih menuliskan pemikiran kedua pemimpin agama tersebut dengan kaku dan serius, Abrams justru menyertai humor yang dilontarkan keduanya. Keduanya sering dianggap sebagai orang suci, namun dalam buku ini, mereka digambarkan selayaknya manusia biasa.

Tidak diragukan, Dalai dan Tutu merupakan simbol toleransi antarumat beragama. Buku ini terdiri dari tiga bagian: Hakikat Suka-cita Sejati, Rintangan Suka-cita, dan Delapan Pilar Suka-cita. Di bagian akhir, terdapat panduan meditasi yang dapat dipraktikkan sehari-hari.

Buku ini membuka mata pembaca baik Dalai Lama maupun Uskup Agung Tutu merupakan dua insan yang begitu manusiawi. Kita pun bisa menjadi seperti mereka. (Yohannie Linggasari - sumber: www.koran-jakarta.com)

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Beibiiyku Online Shop
Sponsor
FrozenbyQueen - Lezat Alami & Halal
Sponsor
Resensi Genre Terkait
PENGEMBANGAN DIRI - KEBAHAGIAAN

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Metode Mengajar ala Tiongkok dan Jepang
Sudah seha...
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

"All books are divisible into two classes, the books of the hour, and the books of all time." ~ John Ruskin

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 31877274

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit