Mangun; Sebuah Novel Cetak E-mail
(1 vote)

Perjuangan Romo Mangun Membela Rakyat Kecil

Siapa yang tidak kenal Yusuf Bilyarta Mangunwijaya yang biasa dipanggil Romo Mangun? Dia seorang mantan tentara pelajar, Pastor, intelektual multidemensi, dan aktivis. Yang selalu diingat, Romo Mangun menata perkampungan tepi Kali Code Yogyakarta dari sangat kumuh menjadi tersusun rapi.

Namun, siapa sangka nama “Bilyarta” itu dari kata Biliar. Ya, nama Bilyar dari sang kakek karena ketika Romo Mangun lahir, ayahnya sedang asyik bermain bilyar (hal. 7). Pastor kelahiran 6 Mei 1929 ini tidak ingin menjadi seorang guru. Ia bercita-cita menjadi seorang arsitek. Ibunya berharap dia menjadi seorang Pastor.

Masa kanak-kanaknya sangat menyenangkan, hingga masuknya Jepang ke Jawa pada 1942 mengubah kehidupan keluarganya. Mereka hanya bisa memasak tikus sawah, bekicot, dan umbi untuk makan sehari-hari (hal. 28). Tak hanya itu, keluarga Bili dianggap “antek Belanda” karena agama Katolik. Jepang berkeyakinan, agama Kristen Protestan dan Katolik merupakan produk barat yang otomatis menjadi musuh.

Karena cita-cita Bili menjadi arsitek lalu masuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Jetis, Yogyakarta. Namun, masa SMK itu juga menjadi titik balik kehidupannya. Ia mulai banyak terlibat dengan aktivis pergerakan kemerdekaan. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, Bili lantas mendaftarkan diri menjadi seorang tentara pelajar batalion X (hal. 69).

Menjelang perang agresi militer Belanda berakhir, ada sebuah kejadian penting yang kemudian dijadikan alat kontemplasi untuk menjadi Pastor. Saat itu ada seorang Mayor berpidato, “Kami sudah membunuh, membakar, berlumuran darah, dan melakukan hal-hal kejam. Kami ingin menjadi normal kembali. Kami minta tolong,” (hal. 115). Ingatan arsitek lulusan Jerman ini berpikir, tentara mesti membunuh. Itu dosa besar. Dia merasa mendapat panggilan dari Bunda Maria dan Kristus untuk menjadi imam.

Dia lalu menemui Mgr Soegijapranta, seorang pahlawan nasional yang menjunjung nilai humanis dan turut berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. YB Mangunwijaya ditahbiskan menjadi Pastor pada 8 September 1959 (hal. 140) oleh Mgr Soegijapranta. Meski sudah menjadi Pastor, Romo Mangun tak bisa melepaskan cita-cita menjadi arsitek. Beberapa kali ia merancang gereja kecil dengan elegan dan jauh dari kesan mewah.

Mgr Soegijapranata menyekolahkan Romo Mangun ke Jerman untuk menjadi seorang arsitek. Dengan harapan, ilmunya berguna untuk rakyat kecil. Mgr Soegijapranta mengatakan, “Tugas orang Katolik itu bukan membaptis orang. Itu urusan Roh Kudus. Tugas sebenarnya membuat baik negara dan bangsa Indonesia (hal. 144-145)." Pesan Mgr Soegijapranata sangat membekas di hati dan ingatan Romo Mangun. Dia ingin menjadi Pastor di sebuah desa kecil. Ia lantas ditempatkan di salah satu desa di Klaten, Jateng.

Keberpihakannya kepada rakyat kecil pun terus berlanjut. Saat itu, ia mengunjungi tepi Kali Code yang kumuh dan akan digusur awal 1980-an. Mangun menolak penggusuran karena masih ada cara beradab. Ia kemudian tinggal dan menyusun perkampungan itu menjadi sangat rapi, meski dalam perjalanan banyak sekali tentangan (hal. 229-241).

Tentangan yang mengerikan justru diterima Romo Mangun saat menolak pembangunan Waduk Kedung Ombo pada 1989. Pembangunan dilakukan dengan cara menenggelamkan kampung. Saat ingin membantu warga sekitar, ia dituduh ingin mengkristenkan penduduk. Tidak hanya itu, ia juga sempat diancam akan ditembak tentara saat membela warga Kedung Ombo (hal. 353-359).

Novel enam bab ini sangat layak dibaca. Nilai-nilai kebenaran dalam diri Romo Mangun pun bersifat universal. Romo Mangun ingin Indonesia tetap berpihak pada rakyat kecil dan terus berusaha mewujudkan sila kelima Pancasila. Bagi Romo Mangun, kemerdekaan harus terus dipertahankan dan dibangun (hal. 144). (Virdika Rizky Utama)

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Beibiiyku Online Shop
Sponsor
FrozenbyQueen - Lezat Alami & Halal
Sponsor
Resensi Genre Terkait
KATOLIK

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Metode Mengajar ala Tiongkok dan Jepang
Sudah seha...
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

“After all manner of professors have done their best for us, the place we are to get knowledge is in books. The true university of these days is a collection of books.” ~ Albert Camus

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 31877706

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit