When Breath Becomes Air Cetak E-mail
(1 vote)

Menghadapi Kematian dengan Penuh Integritas

Di berbagai belahan dunia ribuan orang meninggal karena kanker. Organisasi kesehatan dunia WHO pun memasukan kanker sebagai penyakit tidak menular paling banyak mematikan nomor dua, di bawah jantung. Namun demikian, tidak semua yang divonis kanker mau mengalah  atau menyerah. Bahkan tidak sedikit berhasil bertahan.

Buku When Breath Becomes Air merupakan kisah perjuangan Paul Kalanithi, seorang dokter residen yang divonis menderita kanker paru-paru,saat usia baru 36. Ia hampir menyelesaikan pelatihan luar biasa panjang dan melelahkan sebagai ahli bedah syaraf selama 10 tahun.

Beberapa rumah sakit dan universitas ternama sudah menawari posisi penting yang diimpikan selama ini. Penghargaan nasional pun telah diraih. Selanjutnya, Paul hendak menata ikatan pernikahan yang sempat merenggang, memenuhi peran sebagai suami.

Akan tetapi, secara tiba-tiba, kanker mencengkeram paru-parunya, melumpuhkan semua organ penting tubuh. Seluruh masa depan yang direncanakann seketika menguap. Pada satu hari, ia adalah seorang dokter yang menangani orang-orang sekarat, memberikan harapan pada mereka. Tetapi pada hari berikutnya, ia pasien yang mencoba bertahan hidup.

“Aku berencana untuk berbuat begitu banyak dan kini aku sudah nyaris mewujudkannya. Aku dilemahkan secara fisik. Masa depan dan identitas pribadiku runtuh. Aku menghadapi dilema eksistensial yang sama dihadapi pasien-pasienku. Kematian yang begitu familier d pekerjaanku, kini mengunjungiku secara pribadi,” ujar Paul (hal. 177-178).

Meski masa depannya lenyap dan hidupnya tinggal menghitung hari, Paul terus berlomba dengan waktu. Dia berlomba dengan “keperkasaan” kanker untuk menyelesaikan buku ini. Dengan buku ini ia ingin tetap hidup jauh melampaui usianya, dan berhasil. Di dalamnya, Paul menuturkan perjuanganya yang pantang mundur hingga ajal menjelang.

Ia menceritakan selama kuliah, menjalani profesi sebagai dokter residen, hingga divonis kanker. Ia pun mengisahkan serangkaian pengobatan mulai dari kemoterapi tradisional hingga modern, sekaligus efek samping bagi tubuh dan “masa depannya” yaitu sang anak, Cady.

Paul bersama istri sudah merencanakan dengan matang segera memiliki anak setelah program residen usai. Tetapi obat-obat kanker pasti memiliki efek terhadap spermanya. Jadi untuk menjaga peluang memiliki anak, dia membekukan sperma sebelum memulai pengobatan.

“Karena obat-obatan yang kuminum, reproduksi dengan bantuan tampaknya menjadi satu-satunya cara. Kami memutuskan punya anak. Alih-alih mati, kami akan tetap hidup,” kata Paul (hal. 141).

Bayi mungil Cady pun lahir. Dia tempat melanjutkan hidup Paul. Sayang, hanya lima bulan Paul bersama Cady. Lewat buku ini, Paul berharap bisa memberi banyak kesempatan bagi Cady mengenal masa lalunya. Buku ini menyiratkan kegentingan berpacu melawan waktu ketika perlu mengatakan hal-hal penting. Makna penting tentang kehidupan dan kematian. Tentang cara menjalani dan menghadapinya, terutama mengatakan pada Cady (hal. 210).

Dan pada akhirnya, lewat buku ini Paul ingin membantu begitu banyak orang memahami kematian dan menghadapinya. Putusannya untuk tidak mengalihkan pandangan dari kematian melambangkan keteguhan yang tidak dihargai dalam budaya yang cenderung menghindari kematian.

Dari kisah hidupnya, tampak kekuatan bukan hanya didefinisikan ambisi dan upaya, melainkan juga kelembutan yang berlawanan dengan kegetiran. Dia menghabiskan sebagian besar hidup dengan menggumuli  cara menjalani hidup yang bermakna. Buku ini menjelajahi mengajari pembaca  menghadapi kematian dengan penuh integritas. (Moh Romadlon - sumber: www.koran-jakarta.com)

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Beibiiyku Online Shop
Sponsor
FrozenbyQueen - Lezat Alami & Halal
Sponsor
Resensi Genre Terkait
MEMOAR

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Metode Mengajar ala Tiongkok dan Jepang
Sudah seha...
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

"The pleasure of all reading is doubled when one lives with another who shares the same books." ~ Katharine Mansfield

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 29001668

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit