Jokowi, Sengkuni, Machiavelli Cetak E-mail
(1 vote)

Belajar Kepemimpinan dari Dunia Pewayangan

Politik adalah nadi kehidupan yang hadir di keseharian dari obrolan warung kopi, dewan hingga pejabat tinggi. Dunia politik sebenarnya sungguh perlu diperhatikan karena menentukan kehidupan setiap orang (hal. 11). Wayang diyakini sebagai epos panjang yang merupakan pengejawantahan dunia manusia. Wayang sebagai mikrokosmos yang mewakili makrokosmos manusia. Tokoh penting dalam Mahabharata yang kerap menjadi simbol politikus licik adalah Sengkuni. Dia digambarkan sebagai pengatur muslihat agar kekuasaan Hastinapura tak jatuh ke tangan Pandhawa, tapi tetap pada kemenakannya sendiri, Kurawa.

Tetapi ada temuan menarik yang diungkapkan buku, sejatinya dari semua kelicikan Sengkuni tak banyak yang berhasil. Sebagian besar rencana jahatnya, kecuali perjudian dengan taruhan negara yang menjerumuskan para ksatria itu dalam lakon Pandhawa Dadu, lebih banyak gagal (hal. 24).

Buku memberi kategorisasi pemimpin dewasa ini. Pemimpin elitis, merakyat, dan menanggung. Pemimpin elitis berpendidikan tinggi, luar negeri dengan referensi jempolan. Latar belakangnya membuat tampil sangat menawan di pentas politik.

Pemimpin merakyat adalah antitesis elitis. Pemimpin seperti ini mengandalkan ‘musyawarah mufakat’ ketimbang voting. Artinya mencerminkan penanaman sistem nilai tradisional dalam berorganisasi (hal. 28). Jokowi mewakili jenis pemimpin merakyat. Yang buruk ialah pemimpin nanggung berada di tengah keduanya dan lebih mengedepankan citra diri.

Politik selalu berangkat dari motivasi. Sebagai contoh Gandari, istri Destrarasta, ibu Kurawa secara motivasi sudah keliru sejak awal. Gandhari menolak dinikahi Destrarasta bukan karena cinta mati pada Pandhu, tapi  inginkan kekuasaan. “Aku tidak sudi menjadi istri seorang buta yang tidak bakal menjadi raja,” (hal. 115). Ini menjadikan Gandari berada di belakang banyak tindakan culas Sengkuni, kakaknya, dan para Kurawa.

Sikap kenegarawan politikus tampak dalam menghadapi kekalahan. Ada istilah menang, tanpa ngasorake (mengalahkan). Ada empat tokoh wayang cara menghadapi kekalahan.

Sumantri: kekalahan yang direlakan. Kekalahan Sumantri justru diidamkan karena memiliki kesempatan mengabdi kepada Arjuna Sasrabahu. Mungkin kekalahan Sumantri inilah yang disebut Mao Zedong sebagai mundur selangkah untuk maju beberapa langkah.

Yudhistira: kekalahan konyol karena tidak boleh ditiru. Kalah tanpa analisis kekuatan lawan dan harus menanggung malu karena konyol. Suyudana: kekalahan segalanya karena paling tidak heroik. Seorang ksatria yang kalah justru tidak saat berperang.

Dia menafikan ideologi, melepas jubah ksatria, bahkan mengkhianati kewajiban. Ada kekalahn terutuk yang dialami Aswatama saat melihat Durna (bapaknya) mati dan kekalahan Kurawa yang menyusun siasat terlicik. Pada suatu malam, diam-diam Asmawatam masuk ke tenda Pandhawa dan membunuh satu demi satu.

Pilkada serentak 2017 menjadi momen politik yang harusnya mendewasakan politik bangsa. Bakal calon Gubernur DKI Jakarta telah membuat banyak orang yang tak paham politik sekalipun, ikut berkomentar. Politik memang mengatur segala sendi kehidupan. Meskipun demikian, jangan sampai politik merusak kemanusiaan. Dia menjadi  permainan demi kemenangan-kemenangan. (Teguh Afandi - sumber: www.koran-jakarta.com)

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Beibiiyku Online Shop
Sponsor
FrozenbyQueen - Lezat Alami & Halal
Sponsor
Resensi Genre Terkait
SOSIAL & POLITIK

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Metode Mengajar ala Tiongkok dan Jepang
Sudah seha...
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

"All books are divisible into two classes, the books of the hour, and the books of all time." ~ John Ruskin

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 28289207

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit