Sayap-Sayap Patah Cetak E-mail
(2 votes)

Pelajaran Mencintai yang Tulus dari Gibran

Kahlil Gibran, sang nabi abadi dari Lebanon seakan berkhotbah: Inilah cinta! Ia sudah cukup lama mengarungi cinta kepada anak manusia. Minimal sekitar 30 tahun, sejak kali pertama merasakan hangatnya aliran cinta kasih di usia 18 tahun. Dalam rentang waktu tersebut, sederet nama gadis sempat mampir ke hidup Gibran. Sebut saja Nona Hala Daher, temannya tatkala menempuh pendidikan di Lebanon. Micheline, gadis Perancis yang menjadi guru di sekolah Mary Haskel dan banyak lagi. Sayang, semua kandas. Gibran memilih  untuk tetap sendiri  sampai mati.

Novel Sayap-sayap Patah  menjadi bukti keikhlasan Gibran menyesapi cinta-cinta yang kandas. Bencana, kehancuran, dan penderitaannya, tak membuatnya jadi penghujat cinta. Lewat kearifannya, Gibran justru membingkai kesialan-kesialan percintaan dalam diksi-diksi bermetafor “kemolekan surga.”

Gibran berujar, “Cinta kasih dalam hati itu terbagi-bagi bagaikan ranting-ranting pohon. Jika pohon itu kehilangan sebatang ranting yang kuat akan menderita, namun tidak mati. Pohon  akan menumpahkan seluruh daya hidupnya ke dalam ranting berikutnya sehingga   tumbuh dan mengisi tempat yang kosong” (hlm 91). Barangkali kata-kata inilah yang terus dipegang dan diyakini Gibran untuk dapat kembali terbang menjalani kehidupan berasmara pascakepatahan sayapnya.

Sayap-sayap Patah berkisah tentang perjalanan cinta pertama Kahlil Gibran yang penuh badai. Selma Karamy, nama gadis yang ditokohkan Gibran dalam Sayap-sayap Patah, adalah Nona Hala Daher. Selma adalah putri seorang hartawan Farris Effandi Karamy. Kecantikan, keanggunan, kelembutan, dan kekayaan yang dimiliki gadis itu tak sanggup mengantarkannya pada altar cinta lelaki yang didamba.

Ia terpaksa merasakan kenikmatan dan kepahitan cinta di hari yang sama, lantaran secara mendadak dilamar oleh Pendeta Bulos Galib untuk dijodohkan dengan keponakannya, Mansour Bey Galib. Narasi ini menjadi semacam kritik Gibran pada kepicikan pemimpin-pemimpin agama di Lebanon. Karena tujuan utama perjodohan Selma dan Mansour Bey Galib adalah kekayaan Farris Effandi yang tentu saja dapat menjamin kehidupan berlimpah bagi Mansour sekeluarga.

Penolakan tidak mungkin dilakukan. Sudah menjadi kabar masyhur di Lebanon bahwa tidak seorang pun yang berani membantah pemimpin agamanya bisa tetap bertahan pada reputasinya di tengah-tengah masyarakat. Pendeta-pendeta Kristen, ulama-ulama muslim, dan pendeta Brahma, kata Gibran, seperti reptil laut yang melahap mangsanya dengan cengkeraman kuku-kukunya dan mengisap darah dengan bermacam-macam mulutnya (hlm 51).

Selma Karamy hanyalah salah satu korban dari ketamakan pemuka agama di Lebanon. Pernikahan itu tak hanya menjauhkan Selma dari ayahnya, tapi juga menggagalkan jalinan asmara bersama lelaki yang dicintainya. Selma terus menjaga perasaannya terhadap lelaki itu sampai meninggal.

Meski begitu, Selma tak bisa membiarkan lelaki yang dicintainya terus-terusan terpuruk karena menunggunya. Kesucian dan ketulusan cintanya membuat Selma harus mengambil keputusan. Ia ingin kekasihnya bangkit dan meraih mimpi-mimpi. Pengorbanan perasaan mesti ditempuh. Dalam pertemuannya terakhir kali dengan kekasihnya, Selma berkata, “Engkau masih muda dan bebas merdeka seperti sinar sang surya. Aku tidak takut akan takdir yang telah menancapkan anak-anak panahnya ke dalam dadaku. Tetapi aku khawatir kalau-kalau sang naga akan menggigit kakimu dan menghambat perjalananmu mendaki puncak gunung, tempat masa depan menantimu dengan ketenangan dan kegembiraannya” (hlm 110).

Inilah cinta, kata Gibran, satu-satunya kebebasan di dunia. Ia tak memerlukan pertimbangan bibit, bobot, dan bebet. Ia tak mengenal hitung-hitungan agama, harta, dan tahta, seperti yang sering terjadi di Indonesia. (Hanputro Widyono - sumber: www.koran-jakarta.com)

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Beibiiyku Online Shop
Sponsor
FrozenbyQueen - Lezat Alami & Halal
Sponsor
Resensi Genre Terkait
NOVEL SASTRA

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Metode Mengajar ala Tiongkok dan Jepang
Sudah seha...
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

"All books are divisible into two classes, the books of the hour, and the books of all time." ~ John Ruskin

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 32075733

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit