Derap Politik Para Jenderal Cetak E-mail
(1 vote)

Geliat Para Jenderal dalam Panggung Politik

Derap Politik Para JenderalKiprah baju loreng dengan spirit nasionalisme dan patriotisme telah memenuhi sejarah republik. Di sisi lain, terkadang muncul gesekan-gesekan kekuasaan dalam hubungan negara dan tentara. Buku ini ditulis semata-mata merekam potongan sejarah geliat para jenderal di panggung politik mulai Orde Lama hingga Reformasi.

Kendati sulit terbaca benderang, di tengah pusaran arus politik, para jenderal sedikit banyak telah ikut membentuk wajah negeri. Peristiwa tumbangnya rezim Orde Baru pada tahun 1998, misalnya, pasti ada teropong para jenderal atas situasi aktual untuk mengambil tindakan tepat atas pilihan politik.

Hal ini juga bisa dilihat pula pada peristiwa dua Dekrit Presiden dalam sejarah kepemimpinan. Dekrit Presiden Soekarno 5 Juli 1959 berjalan mulus. Dekrit Presiden Abdurrahman Wahid 23 Juli 2001 gagal karena tidak ditopang pimpinan baju loreng. Dalam politik, ada jenderal pro maupun kontra pemerintahan. Mereka mungkin “mengendalikan” atau “dikendalikan’ penguasa.

Jenderal-jenderal yang andil menentukan arah politik adalah fakta yang harus dipahami. Investigasi David Ransom berjudul Barkeley Mafia and Indonesian Massacre, intrik politik di kalangan jenderal, khususnya Angkatan Darat, menjadi pemicu konflik berskala luas. Riset John Rossa juga menyebut intrik politik para jenderal yang kemudian melahirkan tragedi politik memilukan, kudeta G30S (hlm 6-7).

Aksi jenderal-jenderal puncaknya ketika era Orde Baru. Mereka seolah-olah menemukan ruang menancapkan taring dalam tubuh kekuasaan. Apalagi penguasa Orde Baru berasal dari Angkatan Darat. Lahan subur ini dimanfaatkan, meskipun di antara mereka ada yang tidak sevisi. Banyak tokoh militer saat itu yang pantas disorot seperti Ali Moertopo.

Dia nyawa berlangsungnya sistem otoriter dan otak operasi intelijen untuk memberangus lawan-lawan politik pemerintah. Tahun 1971, dia mendirikan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) bersama Soedjono Hoemardani. Lembaga ini memberikan masukan strategis bagi kebijakan pemerintahan.

Secara perlahan, Ali Moertopo dan CSIS mendekati para intelektual muda dan membidani organisasi-organisasi intelektual lainnya. Lembaga ini juga menggalakkan diskusi-diskusi dan mampu mendalangi berbagai demonstrasi mahasiswa, serta menyusup dan menggarap organisasi Islam garis keras (hlm 46-51). Sepak terjang Ali Moertopo membuat publik menilainya sosok sejuta kontroversi.

Juga pantas disorot, mereka yang terlibat dalam Surat Perintah Sebelas Maret alias Supersemar: Amirmachmud, Basoeki Rachmat, M Jusuf, dan M Panggabean. Terlepas simpang siur peristiwa ini, nyatanya mereka menjadi tokoh penting di awal pemerintahan Soeharto. Amirmachmud, misalnya, menjabat Menteri Dalam Negeri sejak tahun 1968, sebelum sebagai Ketua MPR periode 1982-1987.

Banyak yang menjuluki Amirmachmud sebagai “bulldozer” Soeharto yang tanpa ampun meluluhlantakkan lawan-lawan politik Orde Baru. Dia berperan melahirkan Korps Pegawai Negeri Indonesia (Korpri), yang menjadi garda depan Golkar memenangkan pemilu. Dia juga membidani peraturan pemerintah yang melarang pegawai negeri aktif dalam partai politik (hlm 58-60).

Semasa Orde Baru, sepertinya Soeharto lihai meredam barisan jenderal kritis. LB Moerdani ditugasi membasmi para jenderal “berisik” yang merongrong kekuasaan. Dia termasuk generasi intelijen yang dipercaya Soeharto setelah Ali Moertopo dan Yoga Soegomo (hlm 129-131). Termutakhir, hajatan pemilihan presiden 2004 silam. Pertarungan dua kubu barisan mantan jenderal kentara seolah ada kepentingan di baliknya.

Disadari atau tidak, Indonesia banyak diwarnai intrik para jenderal. Satu hal yang amat menarik dari dinamika para jenderal di panggung politik adalah pertaruhan antara kepentingan bangsa yang bersifat jangka panjang dengan kepentingan politik pragmatis. (Armawati - sumber: www.koran-jakarta.com)

 

 

, Andi Setiadi (2016), "Derap Politik Para Jenderal", Palapa, 978-6022-792-14-7: 288 Halaman. 

 

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Resensi Genre Terkait
SOSIAL & POLITIK

Resensi Terbaru
Resensi Populer
SCHOOL for the NEXT LEADERS
Sponsor
Komentar/ Resensi Baru
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Dare To Make Mistakes; Kreatif Berinovasi dan Bera...
Bagus ini ...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

"All books are divisible into two classes, the books of the hour, and the books of all time." ~ John Ruskin

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 24483099

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit