Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer Cetak E-mail
(2 votes)

Nasib Remaja Saat Penjajahan Jepang

Perawan Remaja Dalam Cengkeraman MiliterBagaimanapun juga kolonialisme tetap menyimpan trauma yang cukup mendalam. Terlebih bagi Indonesia, negeri yang pernah dijajah oleh bangsa lain seperti Belanda, Portugis, Inggris maupun Jepang. Meski selama kurang lebih tiga tahun dalam penjajahan Jepang, yakni 1942-1945, Indonesia telah banyak menderita selama masa penjajahan tersebut. Jepang tidak hanya dikenal kejam terhadap nasib rakyat kita melalui sistem tanam paksanya. Rakyat kita mendapatkan hasil bumi yang tak sesuai dengan kerja yang mereka lakukan.

Tetapi penjajahan Jepang juga menimbulkan kesan yang mendalam bagi para tentara kita yang dilatih oleh Jepang. Tentu kita tak lupa ketika Jepang terjepit di masa perang dunia II. Jepang melatih rakyat kita untuk membantu mereka melalui PETA. Selama masa penjajahan Jepang pula kita dikenalkan kebudayaan yang berbau Jepang melalui buku-buku bacaan di sekolah rakyat di masa itu.

Apa yang kita dengar tentang penjajahan Jepang selama ini memang lebih terlihat baik-baik saja. Tetapi siapa sangka, di balik sikap kompromi antara Jepang dengan kita di masa itu menyimpan luka kolonialisme yang cukup mendalam. Pramoedya melalui buku Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer (2015) mencoba menguak dan memotret apa yang sebenarnya terjadi dengan kejahatan Jepang di masa lalu.

Lewat buku ini, kita akan menyimak bagaimana Pramoedya melalui wawancara, dan catatannya menguak mengenai kejahatan militer Jepang di tahun 1942-1945. Para perawan remaja kita di masa itu begitu mudah mendapatkan iming-iming untuk sekolah di Jepang. Mereka memakai seragam hitam putih, tampil cantik layaknya remaja yang akan sekolah, mereka juga menyanyikan lagu-lagu Jepang secara gembira. Tetapi di geladak-geladak kapal di tengah laut itulah, militer dan tentara Jepang dengan bergiliran dan keji memperkosa mereka dan memperlakukan mereka diluar kemanusiaan. Jepang telah menjadikan mereka sebagai budak seks.

Orangtua mereka semula tak menaruh curiga atas niat Jepang yang mengabarkan janji akan melatih para pemuda-pemudi untuk mempersiapkan kemerdekaan indonesia. Seperti Sumiyati, gadis yang juga merupakan korban di tahun 1943, Sumiyati mendengar kabar janji Jepang akan diberi kesempatan untuk menjadi bidan dan juru rawat. Para remaja ini rata-rata berumur antara 13-17 tahun, sebagian besar baru lulus SD (h.11).

Pramoedya menuliskan kisah ini sebagai protes terhadap apa yang terjadi di masa itu, mengingat pada waktu itu belum banyak perhatian rakyat kita untuk memperhatikan soal ini. Sebab di masa itu, pemimpin kita lebih fokus kepada perhatian membangun bangsa dan negara yang baru merdeka. Di buku ini Pramoedya menuliskan sikap protesnya “Adalah sangat mengherankan bahwa Jepang yang semasa kekuasaannya mengajarkan semangat satria, semangat bushido dalam praktek tidak berani bertanggungjawab menerima akibat perbuatan sendiri” (h.23).

Banyak dari para perawan kita di masa itu setelah menjadi jugun ianfu, kemudian dibuang di Pulau Buru, sebagian dilepas tanpa tahu harus kemana mengikuti kapal berlayar, bahkan ada yang sampai negara lain dengan nasib tak jelas. Mereka di masa itu dilepas tanpa tanggung jawab, tanpa pesangon, tanpa fasilitas, dan tanpa terimakasih dari pihak balatentara Dai Nippon, sebagai tindakan bercuci tangan terhadap kejahatannya sendiri.

Dokumentasi Pramoedya dalam buku ini memberi gambaran pada kita mengenai betapa mengenaskannya perawan remaja kita di masa lalu di bawah kolonialisme Jepang. (Arif Saifudin Yudistira - sumber: www.koran-jakarta.com)

 

 

, Pramoedya Ananta Toer (2015), "Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer", Kepustakaan Populer Gramedia, 978-979-91-0927-9: 248 Halaman. 

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Tebar Manfaat - Ikatan Alumni SAP KIT
 Program Santunan Anak Yatim di VILA QUR`AN FATHUL MUBIIN BANDUNG (*)

Donasi bisa disalurkan melalui rekening:

Bank SYARIAH MANDIRI ( 7111-8856-77 )

a/n: Ghani Hikmawan

(*acara pada tanggal 09 Desember 2017)

***

konfirmasi donasi ke: 3543be3679047cc27c67d19a6e7d8e19

Beibiiyku Online Shop
Sponsor
Resensi Genre Terkait
SEJARAH NASIONAL INDONESIA

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Dare To Make Mistakes; Kreatif Berinovasi dan Bera...
Bagus ini ...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

"All books are divisible into two classes, the books of the hour, and the books of all time." ~ John Ruskin

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 25230049

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit