Peristiwa 1965; Persepsi dan Sikap Jepang Cetak E-mail
(2 votes)

Posisi Jepang Sebelum dan Sesudah Prahara 1965

Peristiwa 1965; Persepsi dan Sikap JepangAiko Kurasawa adalah seorang Indonesianis asal Jepang yang terkenal dengan studinya terkait perubahan sosial di pedesaan Jawa pada masa pendudukan Jepang. Dia kembali merilis penelitiannya yang telah dibukukan terkait posisi Jepang terhadap Indonesia sebelum dan sesudah prahara politik 1965.

Sumber berdasar hasil wawancara banyak tokok politik saat kembalinya para tahanan politik dari Pulau Buru tahun 1978. Ini ditambah beberapa arsip dari kementerian luar negeri Jepang dan Amerika yang sudah bisa diakses publik (hal. XI).

Ada juga beberapa memoar tulisan Perdana Menteri Jepang dan Dewi Sukarno serta laporan jurnalistik tahun-tahun itu yang membuat suasana terekam secara keseluruhan. Meskipun buku ini tidak memberi jawaban siapa dan apa motif gerakan satu oktober itu, namun membantu pembaca menyusun sumber-sumber yang bersebaran secara acak terkait sejarah buram Indonesia pada periode itu.

Buku ini menyuguhkan cara pandang Jepang sebagai bangsa dan negara terhadap Indonesia pada masa itu dan sekarang. Aiko terkejut dengan tanggapan masyarakat Jepang yang tidak tahu-menahu tragedi pembantaian massal di Indonesia pada tahun 1965. Hal itu dirasakan olehnya pada saat pemutaran film “Jagal” yang digelar tahun 2014 di Jepang. Banyak masyarakat yang datang hanya untuk meminta penjelasan lebih lanjut terkait peristiwa kekejaman itu dengan latar belakang ketidaktahuan mereka.

Representasi masyarakat Jepang yang sekarang terhadap pristiwa itu sejalan dengan pemerintahan Sakura tahun 1965. Ketika itu pemerintahan Jepang seolah menutup mata dan tidak mengambil sikap tegas terhadap aksi brutal terhadap kelompok komunis (serta orang-orang yang dianggap komunis) yang dilakukan oleh Angkatan Darat dan ormas bentukannya (hal. 178).

Alih-alih, Jepang malah mendukung bantuan para pembantai. Kucuran dana kepada kelompok oposisi Soekarno diberikan secara masif. “Salah satunya pemimpin kelompok mahasiswa anti-Soekarno, Sofjan Wanandi yang menerima uang sebanyak enam juta yen,” tutur Ratna Sari Dewi (hal. 172).

Sebelum prahara, Jepang adalah negara yang berjalan bergandengan tangan dengan Soekarno. Hubungan ini terjadi karena ada konsensus kedua negara terkait pembayaran ganti rugi pascaperang. Itu dimulai sejak tahun 1951 dan baru disepakatai 1957 dengan angka 117 juta dollar AS.

Jepang meyakinkan Soekarno bahwa Tokyo mendukung nasionalisme negara-negara baru merdeka dan menolak neokolonialisme dan neoimperialisme. Hal ini dibuktikan dengan kedatangannya ke dalam Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung dan peringatan 10 tahun KAA di Jakarta 1965 (hal. 55).

Bahkan dalam kunjungannya ke Jepang, Soekarno terpincut seorang gadis Jepang, Ratna Sari Dewi. Konon Dewi lebih banyak dimanfaatkan oleh pengusaha maupun politisi Jepang guna melobi informasi terkait Indonesia baik langsung ataupun tidak.

Setelah Soekarno jatuh dan dimulainya politik-ekonomi pintu terbuka, Jepang masih bertahan dan bercokol sebagai investor terbesar Indoneisa. Jepang hingga kini tetap eksis dengan industri otomotif hingga yang paling kecil sekalipun seperti gempuran komik-komik terjemahan dan film-film seperti Doraemon, Sailormoon, dll. Politik muka dua akhirnya menyelamatkan kepentingan ekonomi Jepang di Indonesia. (Kenang Kelana)

 

 

, Aiko Kurasawa (2015), "Peristiwa 1965; Persepsi dan Sikap Jepang", Kompas, 978-979-7099-72-5: 202 Halaman. 

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Beibiiyku Online Shop
Sponsor
FrozenbyQueen - Lezat Alami & Halal
Sponsor
Resensi Genre Terkait
SOSIAL & POLITIK

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Metode Mengajar ala Tiongkok dan Jepang
Sudah seha...
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

“After all manner of professors have done their best for us, the place we are to get knowledge is in books. The true university of these days is a collection of books.” ~ Albert Camus

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 29037994

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit