Mencari Sila Kelima Cetak E-mail
(1 vote)

Menyuarakan Emansipasi Kaum Minoritas, Tanpa Mengiba

Mencari Sila KelimaPerbedaan etnis harusnya tidak menjadi problematika, seperti Indonesia. Tapi kadang ada arogansi identitas, isolasi, curiga, dan iri hati. Tak jarang, warna kulit menjadi tapal batas, identitas, label, dan penentu takdir. Tapal batas mendera manusia sejak di alam bawah sadar mereka.

Banyak yang tidak membiarkan orang lain nyaman dengan identitasnya. Seolah-olah keturunan pendatang berkasta rendah, sehingga layak dihardik, diperlakukan semena-mena, dan tidak pantas berada di negeri ini. Bukankah manusia pada hakikatnya adalah musafir karena hidup adalah perjalanan sepanjang hayat melintasi batas alam, warna kulit, dan bentuk wajah.

Peziarahan panjang yang dinarasikan buku Mencari Sila Kelima ini patut direnungkan bersama. Dalam pencarian identitas, penulis buku terbentur perbedaan etnis, namun kecintaan terhadap Indonesia mengalahkan segalanya.

Sebagai keturunan Tionghoa, banyak pengalaman tidak baik dialami, seperti ditolak, disangkal dan diskriminasi. Audrey mengalami konflik batin hebat antara cinta keluarga dan cinta negara kebangsaan. Dia memilih cinta Indonesia. Pengalaman buruk justru memupuk rasa kecintaan negeri ini kerena jatuh hati pada konsep Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Pancasila bagi anak lain rumit dan membosankan. Bagi dia sesuatu yang mulia, hidup, dan membanggakan (hal. 88).

Kecintaan pada Indonesia dituangkan dengan cara berprestasi di bidang pendidikan agar dapat berkontribusi besar pada Indonesia. SD dirampungkan lima tahun. SMP selama satu tahun, dan SMA sebelas bulan. Pada usia 13 tahun, Audrey sudah diterima di The College of William and Marry, Virginia, Amerika Serikat. Ini salah satu perguruan tinggi ternama di Amerika yang memungkinkan anak-anak berbakat kuliah lebih awal.

Pada usia 10, Audrey memecahkan rekor Muri, ujian TOEFL dengan skor 573 dan dipecahkan sendiri dengan skor 670 pada usia 11. Audrey mampu menghafal kamus bahasa Inggris setebal 650 halaman ketika berumur 11. Akhirnya, pada usia 16, Audrey meraih gelar Sarjana Fisika dengan predikat Summa Cum Laude.

Audrey meyakini, keberagaman di Indonesia bisa disatukan lewat pendidikan yang benar yang mencakup otak, akal budi, dan hati nurani (hal. 32). Indonesia kalah karena bangsanya tidak menyadari potensi diri dalam dasar negara.

Pendidikan sejati tidak hanya mengajarkan segala macam pengetahuan dan kemampuan berbahasa. Dia juga mewujudkan manusia yang berguna, membangun masyarakat dan membantu. Dia harus melindungi yang lemah dan menghormati para pemimpin (hal. 9).

Pergulatan Audrey identik dengan pertobatan religius. Mula-mula ia mengalami kejatuhan diri, dipaksa menanggalkan segala impian dan cita-cita patriotiknya pada masa kecil dan remaja, tapi memberinya perspektif baru. Nasionalisme semakin tebal ketika seseorang berada di luar negeri. Itulah pengalamannya saat melanjutkan pendidikan di AS, Singapura, Prancis, dan Tiongkok. Audrey ingin memberi sumbangsih lebih bagi kemajuan Indonesia.

Audrey memperlakukan Indonesia sebagai ibu pertiwi yang baik, adil, mendidik, dan memberi harapan bagi anak-anaknya. Bila ditelantarkan, diperlakukan diskriminatif, dan ditekan, Ibu sesungguhnya tidak punya hak untuk menuntut anak-anak berbakti setelah dewasa. Indonesia tidak pantas menuntut heroisme warganya bila terus korup dan diskriminatif.

Mungkin benar ungkapan J Sumardianta pada pengantar buku. Katanya, Audrey menyuarakan emansipasi kaum minoritas, tanpa mengiba, tanpa terjerumus mellow-yellow dramatica. Audrey mampu menyelaraskan teks dan konteks, maka tak heran jika karya ini menyimpan etos literasi yang mencerahkan. (Khairul Amin)

 

 

, Audrey Yu Jia Hui (2015), "Mencari Sila Kelima", Bentang Pustaka, 978-6022-911-19-7: 192 Halaman. 

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Tebar Manfaat - Ikatan Alumni SAP KIT
 Program Santunan Anak Yatim di VILA QUR`AN FATHUL MUBIIN BANDUNG (*)

Donasi bisa disalurkan melalui rekening:

Bank SYARIAH MANDIRI ( 7111-8856-77 )

a/n: Ghani Hikmawan

(*acara pada tanggal 09 Desember 2017)

***

konfirmasi donasi ke: 3543be3679047cc27c67d19a6e7d8e19

Beibiiyku Online Shop
Sponsor
Resensi Genre Terkait
KISAH NYATA

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Dare To Make Mistakes; Kreatif Berinovasi dan Bera...
Bagus ini ...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

"All books are divisible into two classes, the books of the hour, and the books of all time." ~ John Ruskin

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 25204164

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit