Ekonomi Cukup; Kritik Budaya pada Kapitalisme Cetak E-mail
(1 vote)

Alternatif Ekonomi Kemasyarakatan

Ekonomi Cukup; Kritik Budaya pada KapitalismeManusia adalah makhluk tak kenal kata cukup. Buku ini mengkritik budaya kapitalisme dengan mengusung ekonomi cukup dalam Ekonomi Cukup; Kritik Budaya pada Kapitalisme. Di sini disajikan pandangan ulang mengenai ilmu ekonomi.

Sri Edi Swasono dalam kata pengantar menyebut, ilmu ekonomi konvensional memberi corak pada manusia sebagai homo-economicus berikut pamrih pribadi. Sedangkan ekonomi kontemporer memberi corak pada manusia sebagai homo-etichus, homo-humanus, homo-socius dan homo-magnificus. Ekonomi mengubah status manusia yang beretika menjadi rakus tak terkendali.

Aktor yang mempengaruhi ekonomi adalah permainan politik ekonomi antara Pengusaha-Pemerintah-Parlemen (trio P). Mereka mempengaruhi sendi-sendi ekonomi rakyat kecil. Itulah trio pemeras (hal. 16). Obligasi  dasar pemerintah dan parlemen berubah, public servant menjadi public master atau jangan-jangan menjadi public monster (hal. 17)?

Justru di kalangan rakyat kecil-lah ada ruang kebudayaan untuk  merenung arti cukup di zaman kapitalisme. Hidup yang bernaung pada kerja sama, gotong-royong, teduh membantu, bukan saling menikam, dan menjatuhkan seperti kompetisi. Ekonomi cukup mencoba melawan budaya hidup lebih.

Buku ini mengajak merenungi ‘hidup lebih’ yang mendasari manusia seolah wajib bekerja keras, berkompetisi, bahkan jika perlu menggunakan semua cara, termasuk menyikut atau menghabisi pesaing (hal. 157). Hidup yang cukup itu didapati dari pengalaman dan perhatian dari pedagang nasi uduk bernama Bang Uki di pinggir pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan selama 20 tahun telah mengajarkan arti cukup.

Prinsip hidup yang cukup adalah landasan bagi sebuah “ekonomi cukup“ di mana manusia tidak lagi mengeksploitasi diri sendiri, juga lingkungan sekitar (hal. 168). Hidup yang dicukupi dipenuhi seluruh kebutuhannya sebatas keperluan, tidak dilebihkan atau dikurangi (hal. 206). Hidup tradisional masyarakat bahari mengajarkan bisnis dan ekonomi berdasar moralitas. Di sinilah ekonomi cukup berada pada adab kultural.

Perilaku bisnis dan ekonomi tradisional negeri ini mengajarkan satu moralitas: hidup wajib dicukupi, tapi jangan  dilebih-lebihkan (hal. 166). Itulah sistem ekonomi yang sungguh berpondasi pada nilai-nilai luhur warisan kebudayaan (hal. 207). Dalam nuansa budaya bahari warisan adab ekonomi cukup dapat mencontoh nelayan yang mengajarkan hidup cukup dengan mensyukuri alam.

Ekonomi cukup yang berbasis pada adab bahari, persaingan keras-dengan maksud memenangkan atau menaklukkan diganti  semangat berbagi dan membagi (rezeki) untuk kesejahteraan bersama. Persaingan hanya ada dalam hiburan, yang sifatnya sementara tidak terlembagakan. Dia juga tidak menjadi acuan atau simbol status. Apalagi sumber dari penghasilan, sebagaimana adab modern mengajarkan dan mempraktikannnya di setiap bangsa (hal. 208). (Rianto Irawan)

 

 

, Radhar Panca Dahana (2015), "Ekonomi Cukup; Kritik Budaya pada Kapitalisme", Kompas, 978-979-709-916-9: 218 Halaman. 

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Tebar Manfaat - Ikatan Alumni SAP KIT
 Program Santunan Anak Yatim di VILA QUR`AN FATHUL MUBIIN BANDUNG (*)

Donasi bisa disalurkan melalui rekening:

Bank SYARIAH MANDIRI ( 7111-8856-77 )

a/n: Ghani Hikmawan

(*acara pada tanggal 09 Desember 2017)

***

konfirmasi donasi ke: 3543be3679047cc27c67d19a6e7d8e19

Beibiiyku Online Shop
Sponsor
Resensi Genre Terkait
Tidak ada Resensi Genre Terkait

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Dare To Make Mistakes; Kreatif Berinovasi dan Bera...
Bagus ini ...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

"All books are divisible into two classes, the books of the hour, and the books of all time." ~ John Ruskin

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 25204187

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit