30 Paspor di Kelas Sang Profesor Cetak E-mail
(1 vote)

Menemukan Hikmah dari Sebuah Perjalanan

30 Paspor di Kelas Sang ProfesorSejak dahulu manusia sudah berkelana mengunjungi negeri-negeri yang jauh. Mereka berdagang, menuntut ilmu, atau  mencari tanah baru untuk ditinggali. Dalam proses pengembaraan, tentulah tidak mudah. Ada banyak hambatan dan kesulitan, termasuk kesasar dalam perjalanan.

Buku ini memotret kisah perjalanan kesasar di empat benua, yang dialami 30 mahasiswa dari kelas Pemasaran Internasional (Pemintal) asuhan Rhenald Kasali di Universitas Indonesia.

Rhenald menceritakan kisah seorang pelaut tangguh yang mengangkat layar kapal menyeberangi lautan abad ke-7. Dialah Christopher Columbus. Setelah menjelajahi samudera berbulan-bulan, Columbus mendarat di sebuah tempat yang awalnya dikira India. Ia kesasar ke Amerika. Ketika kembali ke Spanyol, Columbus menerima cemoohan dari para penjelajah dunia lainnya. Ketika itulah Columbus berfilsafat, “Kalau saya tak pernah mau kesasar, kalian tak akan pernah menemukan jalan baru” (halaman viii).

Bepergian ke tempat baru, dengan informasi, uang, waktu dan pengetahuan terbatas sesungguhnya bisa mengubah nasib manusia. Dalam kondisi tersudut, manusia memiliki kemampuan untuk mengemudikan arah hidupnya untuk keluar dari kesulitan. Sayang tradisi di Indonesia masih banyak membentuk manusia berjiwa penumpang ketimbang pengemudi (halaman x).

Karenanya, di kelas Pemintal ini, Prof. Rhenald mengajak mahasiswanya untuk belajar menjadi pengemudi hidup sendiri. Dimulai dari mengurus paspor, menentukan negara tujuan (satu negara satu mahasiswa), hingga berangkat. Semua disiapkan dalam waktu 1,5 bulan.

Mengurus paspor sendiri ternyata tidak selalu mudah dan menimbulkan banyak cerita bagi mahasiswa-mahasiwa ini. Seperti pengalaman Dewi yang tinggal jauh dari keluarga, tapi harus mengurus surat kehilangan Kartu Keluarga-nya, yang merupakan salah satu syarat pembuatan paspor. Sementara dalam waktu kurang dari sebulan, ia harus segera terbang ke Myanmar (halaman 137). Ada juga Syarif yang merasa tidak perlu terburu-buru mengurus paspor, karena sudah punya sejak kecil, tapi ternyata kadaluwarasa (halaman 214).

Begitu pula dengan menentukan satu negara tujuan. Sangat menarik mengetahui alasan para mahasiswa memilih negara tujuannya masing-masing. Ragil memilih Islandia karena menjadi impiannya sejak kelas dua SMA. Ia ingin memanjakan pikirannya sembari menikmati musik eksperimental yang dilantunkan musisi lokal (halaman 3-4). Sementara Handy kesasar di Bangladesh karena tujuan semula telah dipilih teman (halaman 245).

Menjelajah sebuah negeri asing untuk pertama kalinya, dengan kemungkinan besar kesasar, mungkin terdengar menakutkan. Tapi, beberapa mahasiswa menyiasatinya dengan terlebih dulu membuka jaringan dengan teman lama atau alumni yang sedang bermukim di negara tersebut. Seperti yang dilakukan Abdurrahman sebelum berangkat ke Turki. Sekitar dua pekan sebelum keberangkatan, dia mengunjungi Ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Turki di Ankara.

Abdurrahman berkonsultasi tentang daerah-daerah yang akan dikunjunginya. Tips dan arahan yang seharusnya dilakukan dan dihindari bisa didapatkan (halaman 50). Bagaimana dengan biaya? Para mahasiswa memutar otak untuk mendapat tiket dengan menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor, dan mengedarkan kotak sumbangan. Terkadang, dosennya sendiri ikut menomboki sedikit kekurangan mereka (halaman xxii).

Kisah mencari sponsor diceritakan  Handy. Kebingungan akan kepastian berangkat akhirnya terjawab ketika  Telkomsel menyetujui proposal keberangkatannya ke Bangladesh (halaman 246). Pelajaran dari buku menyiasati kekeliruan dengan berpikir cerdik. Setiap orang  kepepet kadang bisa melahirkan solusi yang bisa di luar perkiraan. Maka, bila menemukan hambatan hidup jangan lalu putus asa. Usaha terus mencari solusi, pasti ada jalan. (Yulina Trihaningsih - sumber: www.koran-jakarta.com)

 

 

, Jombang Santani Khairen (2014), "30 Paspor di Kelas Sang Profesor", Noura Books, 978-6021-306-73-4: 328 Halaman. 

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Tebar Manfaat - Ikatan Alumni SAP KIT
 Program Santunan Anak Yatim di VILA QUR`AN FATHUL MUBIIN BANDUNG (*)

Donasi bisa disalurkan melalui rekening:

Bank SYARIAH MANDIRI ( 7111-8856-77 )

a/n: Ghani Hikmawan

(*acara pada tanggal 09 Desember 2017)

***

konfirmasi donasi ke: 3543be3679047cc27c67d19a6e7d8e19

Beibiiyku Online Shop
Sponsor
Resensi Genre Terkait
MOTIVASI

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Dare To Make Mistakes; Kreatif Berinovasi dan Bera...
Bagus ini ...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

"Books are not made for furniture, but there is nothing else that so beautifully furnishes a house." ~ Henry Ward Beecher

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 25230017

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit