Hotel Indonesia Cetak E-mail
(2 votes)

Nasionalisme dan Kebanggaan terhadap Hotel Indonesia

Hotel IndonesiaSuatu saat Bung Karno pergi ke tepi kolam renang yang hampir selesai dibangun. Dia mengambil martil lalu memukul-mukul pinggiran kolam... "Ini harus dibongkar. Tidak kuat," katanya. Kolam harus dibongkar lagi dan lagi sampai 17 kali. Akhirnya didatangkan ahli dari Singapura, Tong Nam. Setelah itu, Bung Karno kembali mengetuk-ngetuk pinggiran kolam. Sambil tersenyum dia bilang... "Lha iki rek sing tak pengeni" (Nah, ini yang saya inginkan).

Selain politikus, Bung Karno juga insinyur lulusan Technische Hogeschool (ITB). Kolam renang tersebut bagian dari Hotel Indonesia (HI) yang masih dalam keadaan baik hingga 42 tahun kemudian. Kisah ini salah satu kejadian yang tak akan terlupakan bagi mereka yang terlibat dalam proses pembangunan HI.

Dibangun selama kurang-lebih tiga tahun dari tahun (1959-1962), HI merupakan hotel megah bintang 5 pertama dan bertaraf internasional pertama di Indonesia. Hotel tersebut dibangun atas gagasan Bung Karno untuk membangun industri pariwisata.

Saat itu, usia bangsa masih muda. Keadaan ekonomi dan politik belum stabil. Bung Karno sedang berusaha keras menjalin hubungan serta kerja sama dengan negara lain untuk memajukan perekonomian. Konstelasi politik internasional mempengaruhi politik nasional. Tamu negara mulai banyak sehingga perlu hotel yang representatif. Maka, dibangunlah HI.

Selain untuk tujuan industri pariwisata, HI juga menjadi pusat pendidikan dan pelatihan tenaga perhotelan. HI juga merupakan cermin kesadaran nasional karena letak dan namanya membawa pesan nasionalisme.

Tahun 1956 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengirim enam mahasiswa ke Lucerne, Swiss, untuk studi pariwisata. Mereka adalah Rachmat Gunadi, Darmadji Satiman, Hanafi Sastradipraja, Zeta Harmijn, IGA Gde Putra, dan Peter Soehardjo. Sekembalinya dari Swiss pada tahun 1960, Gde Putra dan Peter Soehardjo ikut menata dan mendidik calon tenaga kerja HI (hal. 10).

HI dibangun dari pampasan perang Jepang, yakni ganti rugi yang dibayar Jepang karena telah menjajah Indonesia. Pampasan semula berjumlah 17,5 miliar dollar AS.

Lalu disepakati menjadi 223 juta dollar AS. Untuk menyelamatkan muka, Jepang dan Indonesia menambah 400 juta dollar AS dalam bentuk kerja sama ekonomi untuk membuat pembayaran seolah jadi 800 juta dollar AS. Kesepakatan tersebut jelas jauh lebih menyenangkan Jepang ketimbang Indonesia (hal. 42).

Buku Hotel Indonesia menceritakan secara terperinci sejarah proses pembangunan HI. Saat HI resmi dibuka pada 5 Agustus 1962, Presiden Soekarno berpidato dengan judul "Tunjukkan Kepribadian Indonesia". Dalam pidato tersebut Bung Karno berterima kasih kepada semua yang ikut berperan membangun HI. Mereka telah mengangkat derajat bangsa.

HI dibuat demi kebanggaan dan pengejawantahan rasa nasionalisme bangsa Indonesia. Dia dibangun bertaraf internasional, namun dengan tujuan dan semangat nasional.

Sayang, pada 30 April 2004 HI berhenti beroperasi. Salah satu simbol nasionalisme itu tersingkir akibat praktik ekonomi neoliberalisme yang sedang dijalankan negaranya. Kehadiran buku ini bukan sekadar untuk mengenang HI, apalagi meratapi kepergiannya.

Lebih dari itu, buku ini juga menunjukkan bahwa pembangunan bukan hanya sebagai fasilitas ekonomi, tetapi harus juga sebagai aktualisasi kepribadian dan identitas bangsa supaya bangsa mengenal dan tidak terasing dari diri sendiri. (Tufail Muhammad - sumber: www.koran-jakarta.com)

 

 

, Arifin Pasaribu (2015), "Hotel Indonesia", Gramedia Pustaka Utama, -: 194 Halaman. 

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Tebar Manfaat - Ikatan Alumni SAP KIT
 Program Santunan Anak Yatim di VILA QUR`AN FATHUL MUBIIN BANDUNG (*)

Donasi bisa disalurkan melalui rekening:

Bank SYARIAH MANDIRI ( 7111-8856-77 )

a/n: Ghani Hikmawan

(*acara pada tanggal 09 Desember 2017)

***

konfirmasi donasi ke: 3543be3679047cc27c67d19a6e7d8e19

Beibiiyku Online Shop
Sponsor
Resensi Genre Terkait
SEJARAH NASIONAL

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Dare To Make Mistakes; Kreatif Berinovasi dan Bera...
Bagus ini ...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

"A book worth reading is worth buying." ~ John Ruskin

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 25204320

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit