Tiada Sufi Tanpa Humor Cetak E-mail
(1 vote)

Mutiara Pencerahan di Balik Kisah Jenaka

Tiada Sufi Tanpa HumorMasyarakat modern dengan kehidupan yang bernuansa materialistis sering digambarkan mengalami kehampaan makna hidup. Spiritualitas dalam diri mereka mati dan terabaikan. Tasawuf tampil sebagai jalan untuk menghidupkan unsur mendalam pada diri manusia.

Buku ini mengambil sudut pandang unik dalam mengajukannya sebagai langkah reflektif menuju penyucian diri. Buku mengemukakan humor sebagai  dasar kesamaan di antara berbagai aliran Sufi.

Secara umum, kaum Sufi sering tertawa. Pada saat  sama, banyak hikmah dituturkan melalui tokoh Nasruddin Hoja atau Mullah yang digambarkan sebagai orang bahlul (hlm. 3-5).

Penulis buku percaya bahwa campuran antara kejenakaan dan kebahlulan dapat menerbitkan kebijaksanaan. Untuk itu, dia menghimpun kisah-kisah jenaka  populer di dunia Tasawuf, lalu  disusun secara tematis. Ada 48 bab singkat yang terangkum dalam 9 tema besar. Di antaranya tentang kondisi manusia fana, perubahan dalam kesadaran, latihan spiritual, dan aktif dalam dunia. Meski sebagian besar kisah-kisahnya fiktif, nilai inspiratifnya tak dapat disepelekan.

Saat mengangkat tema cara mengubah diri dalam kerangka spiritualitas, ditekankan bahwa spiritualitas adalah pengalaman langsung. Dicontohkan  kisah seorang anak dokter ditugasi  membersihkan jamban di pondokan Sufi. Karena tahu bahwa jamban penuh  penyakit,  ayah mengirimkan 12 budak Ethiopia untuk menggantikan tugas anaknya.

Pada titik ini guru Sufi memberi pertanyaan retoris, “Jika anakmu terkena radang empedu, apa kau akan memberikan obatnya pada seorang budak Ethiopia?” (hlm. 38-40).

Kisah ini menyinggung orang yang ingin mengubah diri, tapi hanya berhenti di tingkat pemahaman bersifat formal. Padahal, inti perubahan ada pada diri. Tepatnya pada pengalaman diri terjun di jalan perubahan tersebut.

Di tingkat pemahaman pun, bahkan ada orang yang enggan menerima informasi atau pengetahuan yang dirasa akan merugikan. Tapi  saat yang lain  dengan senang hati akan menerima informasi serupa bila dirasa menguntungkan. Inilah yang disebut  kebenaran selektif.

Alkisah seorang tetangga ragu meminjamkan pancinya pada Mullah. Namun setelah dipinjamkan dan kemudian dikembalikan, Mullah memberi dua panci. Mullah bilang, panci itu hamil dan melahirkan saat dipinjam. Beberapa bulan kemudian, saat kembali meminjam panci, ternyata Mullah tidak mengembalikan panci itu. Katanya, pancinya meninggal saat proses melahirkan. Tetangga protes, tidak mungkin. Tapi Mullah mempertanyakan mengapa dulu  tetangga percaya  pancinya bisa hamil (hlm. 79).

Perubahan diri sering membutuhkan keteguhan dan kesungguhan. Saat seseorang mengalami perasaan negatif, ego yang terluka perlu berusaha keras keluar dari situasinya. Tapi kadang orang enggan bertahan dalam situasi tidak mengenakkan. Ini tercermin dalam kisah yang diangkat Rumi tentang seorang pria yang ingin punya tato singa di bahunya.

Saat jarum ditusukkan, pria melolong kesakitan dan bertanya bagian singa mana yang sedang dikerjakan. Saat dijawab,  ekornya,  pria bilang bahwa singanya tak usah berekor saja. Demikian seterusnya hingga akhirnya tato gagal dibuat (hlm. 144-145).

Saat mengangkat tema syukur, dipandu dengan latihan agar kita secara rutin membuat ritual bersyukur sebelum tidur. Manusia diajak menghitung berkat apa saja yang sudah diterima dalam satu hari. Menjalankan ini sama saja dengan menciptakan bulu dan sayap pada burung rohani kita untuk terbang menjumpai Tuhan (hlm. 123).

Jika berbicara tentang perubahan diri, pendidikan karakter, atau bahkan revolusi mental, buku ini sangat tepat dibaca dan dijadikan bahan pengaya menuju perubahan sejati. (M Mushthafa - sumber: www.koran-jakarta.com)

 

 

, Imam Jamal Rahman (2015), "Tiada Sufi Tanpa Humor", Serambi, 978-6022-900-35-1: 240 Halaman. 

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Resensi Genre Terkait
Tidak ada Resensi Genre Terkait

Resensi Terbaru
Resensi Populer
SCHOOL for the NEXT LEADERS
Sponsor
Komentar/ Resensi Baru
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Dare To Make Mistakes; Kreatif Berinovasi dan Bera...
Bagus ini ...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

"All books are divisible into two classes, the books of the hour, and the books of all time." ~ John Ruskin

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 24481073

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit