Tiada Ojek di Paris Cetak E-mail
(2 votes)

Menengok Problem Jakarta dari Masa ke Masa

Tiada Ojek di ParisJakarta sudah lepas dari inner city, namun belum menjangkau global city seperti Tokyo, Seoul, London, maupun New York. Jakarta dimasukkan kelas kota postmodern yang masih menyisakan persoalan-persoalan sosial inner city sekaligus terbias aroma global city.

Dalam postmodern city, entitas tradisional dan modern berjalan sejajar. Jakarta bak belantara gedung beton, lautan kendaraan, dengan pergerakan ekonomi super cepat. Namun di sisi lain, masih ada komunitas Betawi, budaya rural, dan aneka tradisi seperti mudik, bergunjing, dan ketupat.

Pembangunan fisik menyesakkan Jakarta dan membuat penduduk materialistis. Semua dinilai atas kebendaan. Efek paling kentara, manusia menghabiskan waktu di jalanan, dalam  mobil. Waktu dalam kehidupan manusia Jakarta dibagi di rumah dan tempat kerja. Dalam praktiknya 24 jam dibagi di rumah, kantor, dan perjalanan (hal. 21).

Dalam esai Dasi vs Sandal Jepit, disindir manusia Jakarta terlalu mengelukan orang berdasi. Sandal jepit dan dasi sama-sama produk kebudayaan. Dalam perkembangan, sandal jepit hanya dipakai di kamar mandi. Agar tampak bak eksekutif seseorang harus mengikat dasi di leher. Bunuh diri bila seorang freelancer rapat dengan klien memakai sandal jepit.

Banyak manusia ibu kota dibentuk oleh pandangan umum. Fenomena dasi dan sandal jepit juga standar umum. Kartu nama juga harus ada dalam perbincangan dengan pebisnis atau orang penting. Di Jakarta, kartu nama berarti: beri saya order (hal.  25).

Jakarta sebagai ibukota negara, disesaki orang asing dan daerah dengan aneka kepentingan serta latar belakang budaya. Ini membuat Batavia mau tidak mau harus sedikit menyesuaikan budaya pendatang. Manusia Jakarta terasa lebih "new-york" daripada kota-kota di Amerika itu sendiri. Dalam esai Intelektual Starbucks, diuraikan kehadiran kedai kopi asli Amerika di kampus UI. Perjuangan kampus terletak pada kegiatan intelektualitas. Ketika "warung kopi" nangkring di kampus UI, memperlihatkan UI telah bernegosiasi dengan warung kopi dunia yang hanya mengutamakan kaum menengah atas (hal. 66).

Budaya keinggris-inggrisan juga meresahkan. Bila sudah mahir memakai bahasa asing dianggap modern. Contoh penamaan sepakbola saja harus mencontek asing seperti Gresik United, Real Mataram, atau Tangerang Wolves. Itu wujud mimikri kulit putih yang gagal total dan menandakan ketidakberdayaan serta menerima, tidak ­pede memakai Bahasa Indonesia.

Tidak semua yang berbau barat baik. Misalnya, di Paris tidak ada ojek. Ini menyusahkan saat seseorang harus menyibak kemacetan. Paris tidak memerlukan ojek karena tidak ditemukan kemacetan yang mengular. Lebih lagi, warga Jakarta adalah ndoro mas dan ndoro putri yang mboten kerso jalan kaki alias priyayi yang tidak mau berjalan kaki (hal. 189).

Di balik kemajuan dan pembangunan fisik pusat pemerintahan ini masih ada penghuni kekumuhan, kemiskinan, dan kebodohan. Masih banyak kemacetan, pejalan kaki yang tidak mendapat hak zebra cross. Banyak juga preman dan aneka kesenjangan budaya.

Esai-esai ini pernah diterbitkan dalam sebuah media beberapa waktu lalu. Persoalan-persoalan 10 tahun lalu masih dialami Jakarta sekarang. Kota ini belum selesai dengan urusannya sendiri sejak 10 tahun lalu. Kehadiran esai-esai ini menjadi tawaran lain untuk menikmati problematika dengan gaya nakal, bernas, dan tidak tendensius urusan politik. (Teguh Afandi - sumber: www.koran-jakarta.com)

 

 

, Seno Gumira Ajidarma and (2015), "Tiada Ojek di Paris", Mizan, 978-979-4338-46-9: 207 Halaman. 

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Resensi Genre Terkait
SOSIAL & BUDAYA

Resensi Terbaru
Resensi Populer
SCHOOL for the NEXT LEADERS
Sponsor
Komentar/ Resensi Baru
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Dare To Make Mistakes; Kreatif Berinovasi dan Bera...
Bagus ini ...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

"All books are divisible into two classes, the books of the hour, and the books of all time." ~ John Ruskin

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 24483140

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit