Syekh Siti Jenar; Rahasia dan Makna Kematian Cetak E-mail
(1 vote)

Rahasia dan Makna di Balik Kematian Siti Jenar

Syekh Siti Jenar; Rahasia dan Makna KematianSyekh Siti Jenar adalah sosok kontroversial yang selalu menarik untuk diperbincangkan. Ia adalah salah seorang wali dari Wali Sembilan di tanah Jawa yang dianggap murtad, keluar dari Islam. Dia memiliki pandangan yang berseberangan dengan pandangan para wali lainnya. Jika para wali lain di zamannya menanamkan Islam secara akulturasi, Ia membangun Islam di Jawa secara asimilasi, yang kemudian dikenal dengan Islam Kejawen. Pandangan sufistik Islam diramunya dengan mistik Jawa. Akibatnya, ajaran Siti Jenar dianggap sesat dan menyesatkan karena sudah tidak sejalan dengan al-Qur’an dan hadits.

Kendati gerah dengan ajaran beliau, para wali lain tidak punya alasan kuat untuk menghentikan ajarannya. Maka dicarikan siasat untuk menghentikannya. Syekh Siti Jenar diperintahkan menghadap ke Raja Demak. Karena ia menolak, maka para wali memiliki hak untuk memberi hukuman, yakni hukuman berupa penggal kepala. Itulah satu versi kematian Siti Jenar yang banyak beredar di kalangan pesantren. Beliau dihukum pancung oleh para wali. Namun ada versi lain tentang jalan kematiannya yakni yang dikisahkan oleh Abdul Munir Mulkhan. Menurut versi ini Siti Jenar benar diperintahkan menghadap sang raja dan menolaknya. Tapi sebelum para wali memaksanya menghadap raja, dengan cepat ia melepaskan nyawanya.

Versi kematian kedua yang rupanya menarik seorang Achmad Chodjim untuk lebih mengkajinya dalam buku ini. Ia ingin menguak ajaran yang melandasi jalan kematian yang ditempuh Siti Jenar. Ia memandang bahwa ajaran kematian merupakan titik silang perbedaan antara Siti Jenar dengan para wali. Bila para wali berpendapat bahwa dunia ini adalah sebuah alam kehidupan, yaitu kehidupan semesta. Sementara Siti Jenar meyakini bahwa, “dunia ini alam kematian.”

Menurut Siti Jenar, manusia yang hidup di dunia ini bersifat mayit, mati. Baginya, hidup adalah kematian, dan kematian adalah kehidupan. Kehidupan sekarang bukan kehidupan sejati, karena masih bersentuhan dengan mati. Hidup sejati, menurutnya, tidak tersentuh oleh kematian. Badan hanyalah perangkap bagi kehidupan. Hidup yang sebetulnya tanpa raga! Raga merupakan kerangkeng bagi diri dan jiwa. Dengan raganya manusia menjumpai banyak neraka, banyak mengalami derita. Bila dilihat sepintas pandangan Siti Jenar tersebut tak berlandaskan al-Qur’an, tapi menurut pengamatan penulis banyak ayat-ayat al-Qur’an yang justru menguatkan itu, seperti dalam Q.S. 23:12-14, 37:58, dan 39:30 (hal. 64).

Siti Jenar melihat bahwa alam yang sekarang kita tempati adalah alam kubur, tempat memendam dan menyembunyikan sesuatu. Dunia ini adalah alam kubur karena masih banyak hal yang disembunyikan. Dan, di zaman sekarang ini, kian banyak rahasia alam yang terkuak, tetapi rahasia manusia kian tertutup rapat. Kejahatan dan kepentingan orang besar terus ditutupi, bahkan dengan keagungan sebuah agama. Inilah alam kubur. Karena dunia ini adalah alam kematian, maka semua aktifitas seperti bekerja, makan, berpakaian, dan bertempat tinggal, menurut sang Syekh bukan untuk hidup, melainkan untuk menunda kematian, untuk memenuhi kodrat hidup, seperti yang dikatakan oleh Kebo Kenongo, salah seorang murid Syekh Siti Jenar (hal. 80).

Perbedaan pandangan tentang makna kematian tersebut telah membuka beragam perbedaan-perbedaan lain antara Syekh Siti Jenar dan para wali. Sebut saja perbedaan tentang sikap hidup, tentang zikir, syariat, dan bahkan tentang eksistensi manusia dan Tuhan. Misalnya dalam masalah ibadah atau syariah, Syekh Siti Jenar berpegangan pada pemahaman atas Islam yang tumbuh dari dalam diri. Dia tidak mengikuti mitos dan pemahaman yang menjadi arus utama dalam sejarah Islam waktu itu. (hal.120)

Ibadah yang diajarkan begitu luas. Baginya, orang yang mengerjakan ladangnya dengan benar, itu disebut ibadah. Membajak tanah dengan mengingat-Nya, itulah shalat. Baginya, zakat bukan membelanjakan sebagian harta bila sudah sampai satu nisob dalam satu tahun. Zakat adalah menolong orang yang kekurangan. Mengajak tetangga untuk bekerja di sawahnya, lalu mereka mendapat bagian dari hasilnya, itulah zakat. Jadi ibadah dalam pemahaman Siti Jenar adalah pengabdian yang nyata. Bukan berbuat berdasarkan angan-angan. “Nah, kalau mau ibadah yang benar ya cari dalam dirimu sendiri,” ujar Syekh (hal. 26).

Dalam uraianya, Chodjim lebih lanjut menunjukan bahwa Siti Jenar merupakan pemikir yang lebih maju dari zamannya. Jauh sebelum merebak pemikiran-pemikiran modern di Eropa abad ke-18 hhingga ke- 20 mengenai demokrasi, keterbukaan, dan persaudaraan, Siti Jenar telah mengajarkan semua itu pada abad ke-16. Sebuah buku yang menantang untuk dikritisi kembali. (Moh. Romadlon)

 

 

, Achmad Chodjim (2014), "Syekh Siti Jenar; Rahasia dan Makna Kematian", Serambi, 978-6022-900-13-9: 357 Halaman. 

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Beibiiyku Online Shop
Sponsor
FrozenbyQueen - Lezat Alami & Halal
Sponsor
Resensi Genre Terkait
SEJARAH ISLAM - INDONESIA

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Metode Mengajar ala Tiongkok dan Jepang
Sudah seha...
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

"All books are divisible into two classes, the books of the hour, and the books of all time." ~ John Ruskin

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 29379046

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit