Sejarah Kecil Indonesia-Prancis 18002000 Cetak E-mail
(2 votes)

Menapak Tilas Jejak Prancis Tempo Dulu hingga Kini

Sejarah Kecil Indonesia-Prancis 1800–2000Indonesia pernah dijajah Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda. Beragam "kisah" bangsa-bangsa Eropa terdengar di negeri ini. Ada ceria penguasaan Selat Malaka oleh Portugis, pertikaian antara Spanyol dan Portugis di Nusantara bagian Timur, Inggris dengan Sir Thomas Stamford Raffles-nya, serta Belanda yang paling lama eksis.

Buku ini melengkapi kisah petualangan bangsa Eropa di Indonesia dengan menghadirkan negara Prancis. Belum banyak yang tahu sepak terjang Prancis di sini. Padahal, sebenarnya Indonesia dan Prancis sendiri memiliki jalinan sejarah yang sangat unik sejak zaman Hindia-Belanda.

Awal persentuhan Prancis dengan Indonesia dimulai dengan kemunculan atau interaksi kaum Huguenot di Kepulauan Nusantara. Mereka, umat Kristen Reformis yang diburu Louis XIV tahun 1660.

Kaum Huguenot yang datang umumnya memiliki relasi kerja dengan Veerenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), maskapai dagang milik Belanda. Keberadaan Prancis di Nusantara juga dapat dilihat dari kemunculan Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jenderal di Indonesia selama periode 1808–1811.

Daendels sendiri merupakan kepanjangan tangan dari Raja Louis Bonaparte (Belanda: Loudewijk Bonaparte), adik Napoleon Bonaparte abad XVII awal. Daendels terkenal pembangunan jalan dari Anyer sampai Panarukan. Bukti lain dari diaspora masyarakat Prancis, keberadaan orang Didon yang sebagian bergabung ke dalam satuan militer khusus Marsose.

Orang Didon sendiri berasal dari Comune de Paris yang memberontak pemerintah saat Prancis dikalahkan Jerman pada tahun 1870. Sebagian dari pemberontak Comune de Paris lantas dibuang ke luar negeri.

Ada yang melarikan diri dan direkrut Belanda, digabungkan ke dalam satuan Marsose dan dikirim ke dalam Perang Aceh. Orang Prancis ada yang membentuk Franse buurt (daerah antara Jalan Gajah Mada–Hayam Wuruk dan Medan Merdeka di Jakarta). Franse buurt berbatasan dengan Jalan Suryo Pranoto di Utara, dengan Rijswikstraat (kini Jalan Majapahit) di Timur, dan sebuah kali sempit di sebelah barat, (hal. 86-87).

Sementara itu, para Monsieur (pria) sering terlihat mengunjungi apotek di samping Toko Duret untuk membeli obat, serta membeli lensa kacamata agar dapat melihat dengan jelas penyanyi Prancis yang tampil di Gedung Pertunjukan Schouwburg, kini Gedung Kesenian Jakarta, (hal. 92). Sejak tahun 1852, keluarga Prancis, Leroux, telah membuka toko roti dan kue, sementara keluarga Oger Freres membuka usahanya sejak tahun 1823 yang bertahan satu abad lebih.

Bahkan, orang Prancis bernama J Duret tercatat sebagai orang pertama yang mendirikan optik di Batavia pada tahun 1886 dengan nama toko Duret, (hal. 242). Jaringan bisnis Prancis masih berlanjut di era modern pasca-Indonesia merdeka. Pada tahun 1967, rombongan pebisnis Prancis yang berjumlah 70 orang dipimpin Menteri M Olivier Guichard menjalin kerja sama ekonomi, (hal. 245).

Prancis juga terlibat dalam pembangunan infrastruktur strategis Indonesia. Salah satu proyek besar yang dikerjakan oleh Prancis adalah proyek pembangunan Bandara Soekarno-Hatta. Pada dekade 1990-an hingga sekarang, beragam jejaring bisnis Prancis telah merembet ke banyak bidang.

Ada SPBU Total Indonesie di bidang perminyakan, kosmetika L’Oreal, Hotel Ibis, produk Pierre Cardin. Tidak sampai di situ saja, saling akuisisi perusahaan juga terjadi antara pengusaha Prancis dan Indonesia. Misalnya produk air minum kemasan merek Aqua yang diambil alih perusahaan Food and Beverages asal Prancis Danone. Pengusaha Indonesia, Chairul Tanjung, mengambil alih perusahaan swalayan Prancis Carrefour, dll. (hal. 247–248). (Andrik Sulistyawan - sumber: www.koran-jakarta.com)

 

, Jean Rocher and , Iwan Santosa (2013), "Sejarah Kecil Indonesia-Prancis 1800–2000", Penerbit Buku Kompas, 978-979-709-767-7: 264 Halaman. 

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Beibiiyku Online Shop
Sponsor
FrozenbyQueen - Lezat Alami & Halal
Sponsor
Resensi Genre Terkait
SEJARAH DUNIA

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Metode Mengajar ala Tiongkok dan Jepang
Sudah seha...
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

“After all manner of professors have done their best for us, the place we are to get knowledge is in books. The true university of these days is a collection of books.” ~ Albert Camus

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 31877387

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit