Koruptor Tampan Berhati Preman; Balada Jiwa Anak Negeri Cetak E-mail
(1 vote)

Ekspresi Kegeraman pada Penilep Uang Negara

Koruptor Tampan Berhati Preman; Balada Jiwa Anak NegeriKoruptor terus menjadi perbincangan karena tidak pernah dapat dikikis dari birokrasi Indonesia. Ditangkap satu, muncul sepuluh koruptor. Pemerintah berganti, korupsi tetap saja hadir. Para koruptor tidak kurang akal dalam mengambil uang negara yang sebenarnya dari keringat rakyat, termasuk orang miskin.

Tema koruptor tetap saja aktual sampai kapan pun. Maka, tak heran bila muncul buku mengkritik eksistensi koruptor, seperti buku Koruptor Tampan Berhati Preman ini. Buku dibagi ke dalam tema-tema besar: Tuhan, Indonesia, Keluarga, Sekolah, Cinta, Teman, Waktu, Tubuh, Ajal, dan Pelajaran Kehidupan. Ini buku yang merupakan kumpulan puisi dari dua penulis. Mereka mencoba menggambarkan tema-tema tadi dalam bentuk puisi. Atau bisa juga dikatakan puisi mereka mencoba mengungkapkan tema-tema besar tadi.

Seluruh tema besar tadi di dalamnya terbagi ke dalam sejumlah puisi. Dalam tema “Indonesia” misalnya terdapat puisi “Koruptor Tampan Berhati Preman” yang kemudian menjadi judul buku ini. Ada baiknya dikutipkan puisi ini agar dibaca para koruptor juga. Mereka menggambarkan tentang Indonesia. Mereka berpuisi, “Indonesiaku....negeri koruptor tampan berhati preman. Sadarkah? Penampilan luar boleh berbeda. Bandit kecil berwajah idola. Dengan dasi biru cemerlang. Tangan-tangan sungguh penuh gelang. Menangis aku sungguh malu....”

Puisi ini dilanjutkan pada paragraf dua “Huh...koruptor tampan berhati preman. Tegakah kau ambil uang rakyat. Yang bekerja di bawah alam melarat? Sudah matikah rasa ibamu pada warga yang bekerja bagai babu? Koruptor berhati tampan, berhentilah berbuat nista karena dosamu ditanggung jiwa,” (hal. 32).

Di sini sebenarnya ada yang tidak perlu ditanya seperti menggunakan kata, “Tegakah?” Koruptor pasti tega. Atau “sudah matikah rasa ibamu.” Jelas koruptor bukan hanya mati rasa, tetapi tidak punya rasa. Jadi puisi di bagian ini semestinya lebih tegas. “Dia tega mengambil uang rakyat.” Atau “Dia sudah mati rasa.” Tapi semua bisa dimaklumi karena ketika menulis mereka masih pelajar. Maka, ini sudah merupakan hasil karya besar yang harus dibaca para koruptor.

Ada juga tulisan mengkritik secara halus, tetapi menukik akan program kementerian pendidikan nasional yang gonta-ganti kurikulum sehingga orang pandai pun banyak tidak lulus. “Kalau selama ini, pendidikan cuma begini-begini, kurikulum berganti-ganti, Guru saja masih beradaptasi, apalagi kami” (hal. 77). Ini ekspresi kebingungan siswa yang akhirnya “berbuah” ketidaklulusan, meski dia berprestasi, sebagaimana ditulis dalam kalimat, “Aku tersisih persaingan, padahal aku berprestasi, unggul dalam kompetisi, tak tertandingi,” (hal. 77).

Untuk ukuran pelajar, banyak refleksi kehidupan yang dalam dalam buku puisi ini. Bahkan secara teologis, ada puisi yang sangat dalam permenungannya  seperti dalam “Tubuhku Rumah-Mu” (hal. 126). Di sini tergambar jelas  puisi tentang tubuh. Jelasnya bagaimana memperlakukan tubuh. Dia  suci karena merupakan bait Tuhan.

“Tubuhku rumah-Mu, karena di setiap embusan napasku aku tahu Kau bersemayam dalam keagungan-Mu.... karena sejak kulahir dan nanti mati, Dia terus berdiam penuh serta tak pernah lelap.” Itulah ungkapan teologis yang tinggi mengenai kebertubuhan. Hanya, tinggal bagaimana setelah mengetahui bahwa tubuh adalah rumah-Nya, apakah pemiliknya mengotori atau tetap menjaga agar terus suci sehingga akan selalu pantas bagi Dia untuk tinggal. (Erni Damayanti - sumber: www.koran-jakarta.com)

 

 

Judul 

: Koruptor Tampan Berhati Preman; Balada Jiwa Anak Negeri

Penulis

: Yenny & Raras

Penerbit 

: Obor

Tahun

: 2014

Genre 

: Novel Rohani Remaja

Tebal

: 169 Halaman 

ISBN

: 978-979-565-438-4

 

 

 

 

 

 

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Beibiiyku Online Shop
Sponsor
FrozenbyQueen - Lezat Alami & Halal
Sponsor
Resensi Genre Terkait
Tidak ada Resensi Genre Terkait

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Metode Mengajar ala Tiongkok dan Jepang
Sudah seha...
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

“After all manner of professors have done their best for us, the place we are to get knowledge is in books. The true university of these days is a collection of books.” ~ Albert Camus

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 29366743

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit