Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asing di Indonesia Cetak E-mail
(1 vote)

Asing Senantiasa Menguasai Minyak dan Gas

Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asing di IndonesiaSetiap kali ada rencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, selalu muncul penolakan. Ini bukan semata karena harga-harga barang ikut melonjak akibat pencabutan subsidi tersebut, tapi masyarakat mencium ada sesuatu yang tak beres dalam pengelolaan migas di Indonesia.

Buku ini seakan membenarkan opini masyarakat tersebut, telah terjadi salah kelola dalam penanganan migas di Indonesia. Bahkan, itu terjadi jauh sebelum Indonesia merdeka, sejak zaman kolonial Belanda. Salah kelola itulah yang menyebabkan negeri yang kaya migas ini tidak pernah berdaulat mengurus sendiri sehingga kekayaan alam tersebut tidak bisa menyejahterakan rakyat.

Ketika ditemukan minyak bumi yang menjanjikan secara komersial pada 1880, sejak itu pulalah penetrasi modal asing dalam bisnis migas mengalir. Awalnya, Belanda dan Inggris mengeksploitasi sumber migas. Namun, karena desakan liberalisme global, kedua negara tersebut tak dapat membendung masuknya negara lain, terutama Amerika Serikat.

Ketika pertarungan terjadi antara perusahaan migas Belanda-Inggris dan AS, Jepang masuk karena berhasil mengalahkan Belanda. Eksploitasi migas pun beralih ke negeri sakura yang dilakukan untuk keperluan angkatan perangnya. Saat itulah terjadi perbudakan pada kilang-kilang minyak oleh tentara Jepang atas rakyat Indonesia (hlm. 39).

Setelah merdeka, terbit harapan negeri ini lebih berdaulat mengelola migas. Presiden Soekarno melancarkan program nasionalisasi perusahaan-perusahaan migas asing. Ia juga menentang masuknya modal asing. Namun, periode ini tak lama. Terhentinya modal asing menyebabkan kesulitan ekonomi. Semua itu tak lepas dari permainan kapitalisme global yang kepentingannya terusik. Ditambah lagi, Indonesia belum memiliki teknologi dan SDM yang memadai untuk mengelola migas.

Era Orde Baru, petinggi tentara memimpin Pertamina untuk mengelola migas. Ironisnya, saat militer berkuasa inilah, perusahaan-perusahaan migas asing lewat kekuatan kapitalnya kembali mencengkeram Indonesia hingga kini.

Kini, 85 persen migas dikuasai asing. Investasi luar negeri sektor ini terus meningkat. Misalnya, tahun 2010 mencapai 11 Miliar Dollar AS. Angka ini pada tahun berikutnya menjadi 13,7 Miliar Dollar AS, meningkat 20 persen. Perusahaan-perusahaan asing menguasai migas dari hulu sampai hilir. Mereka antara lain Caltex, Chevron, Unocal, BP, Exxon, dan Shell. Sebagian perusahaan-perusahaan tersebut, di antaranya dimiliki negara-negara yang sejak dulu menguasai migas Indonesia, seperti Belanda, Inggris, dan AS (hlm. 153).

Dengan mengurang subsidi harga BBM, mancanegaralah yang pertama mendapat keuntungan. Akumulasi kapital semakin berlipat. Keuntungan juga diraih para broker melalui mekanisme pengadaan BBM. Mereka mengirim minyak mentah ke luar negeri untuk diolah, lalu dimasukkan lagi ke sini dengan harga tinggi. Kerja mereka seperti mafia, dan Pertamina tak kuasa melawannya.

Buku karya aktivis yang terbagi atas 4 bab ini menawarkan solusi dengan jalan nasionalisasi perusahaan-perusahaan migas asing dari hulu sampai hilir. Kemudian, beri peran besar rakyat, terutama kelas pekerja, guna mengelola alat-alat produksi dalam proses eksplorasi dan pengolahan. Solusi lain, mengurangi kebergantungan pada migas dengan memperbanyak energi alternatif nonfosil yang juga tersedia luas. (Muhamad Ilyasa - sumber: www.koran-jakarta.com)

 

Judul 

: Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asing di Indonesia

Penulis

: Ismantoro Dwi Yuwono

Penerbit 

: Galang Pustaka

Tahun

: 2013

Genre 

: Sosial & Politik

Tebal

: 167 Halaman 

ISBN

: 978-6029-431-30-8

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (1)add comment

Mr Stark said:

 
Sangat bagus review-nya... thanks bingits smilies/grin.gif
January 26, 2015

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Resensi Genre Terkait
SOSIAL & POLITIK

Resensi Terbaru
Resensi Populer
SCHOOL for the NEXT LEADERS
Sponsor
Komentar/ Resensi Baru
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Dare To Make Mistakes; Kreatif Berinovasi dan Bera...
Bagus ini ...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

"Books are not made for furniture, but there is nothing else that so beautifully furnishes a house." ~ Henry Ward Beecher

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 24483011

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit