7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet Cetak E-mail
(1 vote)

Tibet, Sebuah Tantangan Menaklukkan Wisata di Ketinggian

7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi TibetAda lima perempuan berusia 40 tahun ke atas mengelilingi negeri Forbidden Land on the Roof of the World (julukan Tibet). Di negeri di atas dataran tinggi ini, titik terendahnya saja berada di ketinggian 1.615 meter di atas permukaan laut (mdpl). Mereka juga mengunjungi Nepal (hal. 10).

Lima orang sesuai dengan ketentuan Tiongkok siapa pun yang berkunjung ke Tibet harus ikut dalam grup dengan anggota minimal 5 orang dari negara yang sama (hal. 13).

Mereka adalah Feby (penulis buku), Corry (kakaknya), Olin (sepupu), Ossy (teman), dan Joice (teman). Dari Nepal ke Tibet mereka jalan darat. Baliknya naik pesawat Air China, satu-satunya maskapai yang boleh terbang ke Tibet (hal. 19).

Untuk wisata di daerah ketinggian ini stamina dan mental harus kokoh dan, tentunya uang banyak. Pelancong harus benar-benar menyiapkan fisik sebelum berangkat karena daerah tersebut rata-rata hampir 5.000 mdpl. Tubuh yang bugar akan mengurangi efek Altitude Mountain Sickness (AMS), sebuah gejala yang kerap dialami saat berada di ketinggian karena kadar oksigen udaranya tipis.

Gejala AMS beragam semisal tidak nafsu makan, mual-mual, muntah, pusing, mimisan, kehilangan kesadaran, hingga paru-paru terisi cairan. Jika tidak cepat tertolong gejala ini berisiko kematian. AMS disebabkan aliran oksigen yang tidak mencukupi ke otak dan organ vital lainnya.

Ini akan dirasakan mulai dari ketinggian 3.000 meter ke atas. Tidak ada obat yang benar-benar mujarab untuk mengobati AMS. Mengatasinya dengan segera membawa si penderita ke daerah yang lebih rendah yang kadar oksigennya lebih berlimpah. Untuk mengurangi gejala AMS sebaiknya rutin mengonsumsi Acetazolamide untuk menstimulasi penyerapan oksigen. Biayanya lumayan mahal. Biaya perjalanan darat Nepal-Tibet 907 dolar AS satu orang (hal 42).

Buku didukung foto-foto alam Tibet sehingga terasa lebih hidup dan nyata. Perjalanan tujuh hari menembus ketinggian negeri Tibet yang sangat luas sungguh merupakan perjalanan yang singkat. Namun, karena singkatnya waktu inilah yang menjadikan perjalanan mereka sungguh luar biasa.

Ya, luar biasa karena tanpa aklimatisasi yang cukup akhirnya mereka selamat dari ancaman AMS. Aklimatisasi adalah proses penyesuaian tubuh manusia terhadap oksigen di udara dalam jumlah yang dibutuhkan untuk kesehatan. Prosesnya bisa memerlukan beberapa hari.

Semestinya aklimatisasi dilakukan oleh Feby dan rekan-rekannya dengan stay lebih lama di beberapa wilayah untuk menyesuaikan kondisi tubuh dengan tipisnya oksigen. Namun, dalam perjalanan ini menambah hari berarti membutuhkan cuti yang lebih lama dan menambah biaya yang jauh dari kata murah.

Feby juga menceritakan perjalanan lain seperti ke Yordania, Yerusalem, Laut Merah, Laut Tengah, Australia, hingga hidden paradise Ora Beach di Indonesia. Semuanya tak bisa membuatnya menangis kecuali saat berada di Tibet karena menatap langsung The Nort Face of Giant Everest.

Seperti ditulisnya “My childhood dream. Setelah lebih dari 30 tahun…” Kata-kata ini menginspirasi pembaca untuk tetap teguh pada cita-cita dan keinginan masa kecilnya.

Sejak kecil Feby memang mengimpikan dapat memandang langsung ketinggian Mount Everest. Bacaan dengan kover The North Face, puncak gunung tertinggi dunia Mount Everest ini bisa menjadi alternatif panduan mereka yang ingin mengunjungi Tibet. (Linawiati - sumber: www.koran-jakarta.com)

 

Judul 

: 7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet

Penulis

: Feby Siahaan

Penerbit 

: Kompas

Tahun

: 2014

Genre 

: Memoar Traveling

Tebal

: 270 Halaman 

ISBN

: 978-979-7098-74-2

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (1)add comment

Mr Stark said:

 
Traveling ke Tibet lebih dari sekedar perjalanan fisik smilies/cool.gif

Spiritualitas juga pasti diuji... Saluuut buat penulis dan teman-temannya.

Salam Backpacker smilies/smiley.gif
January 26, 2015

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Resensi Genre Terkait
MEMOAR TRAVELING

Resensi Terbaru
Resensi Populer
SCHOOL for the NEXT LEADERS
Sponsor
Komentar/ Resensi Baru
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Dare To Make Mistakes; Kreatif Berinovasi dan Bera...
Bagus ini ...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

"Books are not made for furniture, but there is nothing else that so beautifully furnishes a house." ~ Henry Ward Beecher

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 24483062

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit