Agar Rezeki yang Mencarimu Bukan Kau yang Mencarinya; Cara Bersyukur Supaya Nikmat Terus Terulur Cetak E-mail
(3 votes)
Membenahi SIkap Hati dalam Memandang Rezeki

Agar Rezeki yang Mencarimu Bukan Kau yang Mencarinya; Cara Bersyukur Supaya Nikmat Terus TerulurPaham Hedonis yang banyak merasuk di jiwa orang-orang modern sekarang mengajarkan bahwa tolak ukur kesuksesan hidup seseorang adalah kebahagiaan yang bersifat bendawi. Tak mengerankan bila target hidupnya adalah mengumpulkan sebanyak mungkin harta, dengan berbagai macam cara, meski menyakiti sesama. Maka, ketika rezeki melimpah mereka akan merasa berada di “surga”, namun saat rezeki tidak lancar mereka akan cepat risau, galau, dan bahkan merasa di “neraka”.

Padahal bila ditelusuri lebih jauh, peran seseorang terhadap rezekinya sangatlah kecil. Peran Allah-lah yang jauh lebih besar –bahkan semua Allah yang mengatur. Oleh karena itu, tak pantas kiranya seseorang merisaukan datang dan perginya rezeki. Selain itu risau tidak akan membantu, bahkan bisa justru kontraproduktif.

Lalu, bagaimana memandang dan menempatkan rezeki dengan benar? Buku ini akan menuntun pembaca untuk membenahi cara pandang diri terhadap makna rezeki. Di dalamnya akan disuguhkan wejangan bijak seputar sikap bijak dalam masalah rezeki, yang dipetik dari kitab klasik yang ditulis oleh para ulama, syekh, imam, dan sufi kenamaan di negeri dan zaman yang berbeda. Sebut saja, Imam al-Harist al-Mukhasibi, Syekh Abu Thalib al-Makki, Imam al-Ghozali, dll.

Ibnu “Atha’illah as-Sakandari mengatakan bahwa yang paling berbahaya adalah dosa ragu kepada Allah. Sesungguhnya ragu terhadap rezeki berarti ragu terhadap dzat yang memberi rezeki. Sesungguhnya, dunia ini terlalu hina untuk dirisaukan. Yang patut dirisaukan adalah hal yang lebih besar, yakni akherat! Kerisauan terhadap rezeki selain menunjukkan jauhnya dari Allah juga menunjukkan kebodohannya. Sebab, rezeki dunia bila diukur dengan akherat, seperti lalat kecil diukur dengan singa yang sedang menyerang. Sebaliknya, orang-orang yang senantiasa meresahkan akherat, akan diberi kenyamanan hati, diberi kemuliaan, serta dunia akan mendatanginya tanpa disangka-sangka.

Meski begitu, bukan berarti dunia itu tercela dan semua pencari dunia itu mendapat murka. Pencari dunia yang dina adalah mereka yang sibuk meraup dunia dan lupa akherat. Mereka mencarinya untuk dirinya sendiri bukan untuk Tuhan, untuk dunia bukan untuk akherat, untuk ditumpuk bukan  diinfakkan, untuk berbangga-bangga bukan untuk keperluan (hal.19-34)

Perasaan tenang atau ketidakrisauan memandang rezeki hanya bersemayang pada hati yang total bertawakal. Al-Harist al-Mukhasibi berpandangan, orang yang bertawakal secara total adalah orang yang menganggap sebagian kecil dari pemberian Allah sebagai suatu pemberian yang besar dibanding nilai dirinya yang kecil (hal.38). Orang yang total bertawakal sangat mengetahui –dengan penuh keyakinan dan ketenangan- bahwa apa yang diberikan dan ditentukan untuknya, meski berada di tengan embusan angin, niscaya ia akan mengejarnya. Dan begitu juga sebaliknya (hal. 46).

Sehingga, orang yang total bertawakal selalu menjauhkan diri dari gemerlap dunia dan merasa cukup dengan apa yang ada. Tidak memanjangkan angan-angan dan hanya mengambil harta yang terjangkau tangan. Imam al-Ghazali mengingatkan, berqanaahlah, karena qanaah itu adalah harta yang tak ada habisnya. Kenapa engkau mencari sesuatu yang tak dijatah untukmu dan sama sekali tak terjangkau tanganmu? (hal.63).

Maka, bagi mereka tidak ada alasan sedikitpun untuk tidak bersyukur, seberapa pun rezeki yang diterima. Sebab, dalam bersyukur terkandung dua hal, pertama, agar nikmat besar berlanjut, dan kedua, agar tambahan nikmat terwujud. Syukur bukan saja terungkap lewat lisan, tapi menurut Imam Ghazali, syukur melibatkan hati, lisan, dan semua anggota badan (hal. 107)

Namun, bertawakal bukan berarti hanya menanti rezeki tanpa berusaha. Rasulullah tidak mengatakan, “Jangan mencari rizki,” namun, “Carilah rezeki dengan baik.” Dan tak ada cara yang lebih baik dalam mencari rezeki selain berusaha. Nabi bersabda, “Makanan yang paling halal dimakan seseorang adalah yang merupakan hasil usahanya” (hal.110)   

Sekarang jadi jelas bahwa sikap pasif dan berdiam diri bukan pilihan yang baik dalam menjemput rezeki. Tapi menghalakan segala cara bukan sikap yang bijak. Orang beriman akan senantiasa berusaha menyeimbangkan antara tuntutan mencari nafkah dan tuntutan untuk beribadah. Ada rambu-rambu yang mesti dipatuhi agar rezeki yang didapat betul-betul halal dan berkah. Maka, saat menuai keberhasilan, kita harus bersyukur. Saat mengalami kegagalan kita dianjurkan bersabar. Jalinan syukur dan sabar inilah yang akan menebarkan jalan rezeki berkah dari beragam pintu. (Moh. Romadlon)

 

Judul 

: Agar Rezeki yang Mencarimu Bukan Kau yang Mencarinya; Cara Bersyukur Supaya Nikmat Terus Terulur

Penulis

: 8 Ulama-Psikolog Klasik

Penerbit 

: Zaman

Tahun

: 2014

Genre 

: Islam - Rezeki

Tebal

: 234 Halaman 

ISBN

: 978-6021-687-31-4

 

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Tebar Manfaat - Ikatan Alumni SAP KIT
 Program Santunan Anak Yatim di VILA QUR`AN FATHUL MUBIIN BANDUNG (*)

Donasi bisa disalurkan melalui rekening:

Bank SYARIAH MANDIRI ( 7111-8856-77 )

a/n: Ghani Hikmawan

(*acara pada tanggal 09 Desember 2017)

***

konfirmasi donasi ke: 3543be3679047cc27c67d19a6e7d8e19

Beibiiyku Online Shop
Sponsor
Resensi Genre Terkait
Tidak ada Resensi Genre Terkait

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Dare To Make Mistakes; Kreatif Berinovasi dan Bera...
Bagus ini ...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

"Books are not made for furniture, but there is nothing else that so beautifully furnishes a house." ~ Henry Ward Beecher

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 25203371

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit