Kami Tidak Lupa Indonesia Cetak E-mail
(1 vote)

Menakar Nasionalisme Kaum Diaspora Indonesia

Kami Tidak Lupa IndonesiaIstilah diaspora yang berasal dari bahasa Yunani awalnya merujuk secara spesifik kepada kaum Yahudi yang dibuang dari Yudea oleh Babel dan bangsa Yerusalem oleh kekaisaran Romawi. Sedang, dalam konteks keindonesiaan sekarang, kaum diaspora mencakup seluruh orang Indonesia yang berada di luar negeri, baik yang masih berstatus warga Indonesia maupun yang sudah pindah kewarganegaraan. Bahkan, mencakup warga asing yang berketurunan Indonesia.

Meski tidak lagi di Indonesia, semangat 17 Agustus tetap lekat di jiwa para kaum diaspora. Tidak luntur meski mereka berada di tengah budaya yang beda. Tidak juga terlupa meskipun Tanah Air nun jauh di sana. Sehingga, rasa nasionalisme ternyata tidak bisa dimaknai sempit dengan tempat tinggal dan status kewarganegaraan. Tidak bisa diukur dari paspor.

Sebetulnya, sejarah diaspora Indonesia sudah dimulai, bahkan sejak Indonesia belum ada. Jejak-jejak itu tercetak lewat peran tokoh besar yang pernah dibuang, diasingkan, atau disekolahkan oleh Belanda. Dengan kerinduan pada Tanah air, mereka dengan gigih menghimpun dukungan untuk kemerdekaan Indonesia. Dan kini, dengan kegigihan yang sama, warga diaspora yang tersebar di seluruh belahan dunia terus menggaungkan budaya Nusantara.

Tercatat sekitar 6-10 juta jiwa warga diaspora Indonesia. Mereka merambah ke berbagai belahan benua dan dalam segala bidang profesi, mulai dari pendidikan, belajar, dan tenaga kerja. Buku ini menyajikan keragaman yang menarik untuk menggambarkan secara sederhana warga diaspora Indonesia. Naskah-naskah tersebut diambil dari laman Kompasiana yang dijadikan sebagai jembatan penghubung antara mereka dan para saudaranya di Tanah Air.

Para penulis menceritakan dunia mereka saat berinteraksi dengan warga internasional. Mereka yang mahasiswa akan bercerita tentang pengalaman di kelas, berinteraksi dengan para pengajar. Mereka yang bekerja akan berbagi pengalaman suka duka bekerja di luar negeri. Mereka yang menjadi suami atau istri warga asli, akan mengenalkan Indonesia kepada para tetangga dan anak-anak yang mereka lahirkan. Sehingga, miris kalau mereka hanya dimaknai dalam kalkulasi ekonomi semata. Hanya dianggap devisa negara semata. Mereka adalah ujung tombak untuk mengenalkan Indonesia kepada masyarakat dunia.

Tugas keindonesiaan tersebut pun berhasil dilakukan oleh para TKI dan TKW di Malaysia yang rata-rata hanya menjadi pembantu rumah tangga atau para pekerja bangunan. Hal itu diakui oleh Anazkia, seorang TKW di Malaysia. Tinggal dan bekerja di sana menurutnya tidak lagi membawa nama orang tua, nama desa, atau kota asal, tetapi membawa nama bangsa, bangsa Indonesia. Di sinilah ia merasa menjadi diplomat atas nama anak bangsa. Maka kalau ada salah lakunya, terselip tindakan tercela, maka bangsalah yang terkena imbasnya (hal. 23). Dan hal tersebut dibuktikan salah satunya oleh KONSLET, sebuah band yang personelnya adalah para TKI yang bekerja di sektor bangunan. Bukan sekedar menyalurkan hobi tapi KONSLET band mampu bersaing dengan band-band lokal dalam berbagai even dan festival musik. (hal. 32)

Sedang Yusron Darmawan, diaspora di Amerika menceritakan ketertarikan warga asli Amerika pada agungnya budaya Nusantara. Salah satunya ditunjukan oleh Gene Ammarell, profesor bidang antropologi yang sangat menguasai detail-detail dalam dunia laut orang Bugis. Ia sangat kagum pada dunia navigasi orang Bugis. Ia mengatakan, “Navigasi Barat sangat matematis dan bergantung pada alat-alat mekanis. Ketika alat itu tidak bekerja, pelaut pun tidak bisa berbuat apa pun. Sementara navigasi Bugis mengandalkan bintang, arah angin, cuaca, serta kemampuan membaca laut.” Masih ada banyak warga asli AS lainnya yang juga sangat tertarik pada budaya Indonesia. Sebut saja Nick, Erick, Jessica, serta Prof. William Liddle, seorang begawan sejarah Indonesia (hal. 80-88).

Soal kekeluargaan dan toleransi, Jerman pun semestinya belajar pada Indonesia. Setidaknya itulah yang dirasakan oleh Gaganawati Stegmann. Sebagai seorang asli Indonesia yang bersuamikan Jerman dan tinggal di sana ia sangat rindu adanya kebersamaan antar saudara dan tetangga. Di tengah budaya individualisme, ia bersama suami akhirnya berhasil mewujudkan hal itu, yakni mengadakan pertemuan rutin keluarga. Semua menikmati dan berbahagia. Ia mengungkapkan, Indonesia bisa belajar pada Jerman soal pengaturan kesejahteraan warganya. Sebaliknya, Jerman harus belajar pada Indonesia soal mempertahankan hubungan dan pertemuan keluarga dan para tetangga (hal. 125).

Tentu masih banyak cerita menarik lainnya dari para kaum diaspora Indonesia. Mereka adalah pejuang kebudayaan Indonesia yang akan selalu membangun Indonesia dari luar. Menyajian Indonesia lebih dekat pada dunia. Sekaligus agen kebudayaan luar ketika mereka berkesempatan pulang ke Indonesia.

Sekarang tinggal menunggu peran lebih nyata dari negara untuk memberdayakan potensi besar yang dimiliki para warga diaspora tersebut. (Moh. Romadlon)

 

Judul

: Kami Tidak Lupa Indonesia

Penulis

: Kompasiana

Penerbit 

: Bentang Pustaka

Tahun

: 2014

Genre 

: Sosial Budaya

Tebal

: 241 Halaman

ISBN

: 978-6022-910-04-6

 

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Tebar Manfaat - Ikatan Alumni SAP KIT
 Program Santunan Anak Yatim di VILA QUR`AN FATHUL MUBIIN BANDUNG (*)

Donasi bisa disalurkan melalui rekening:

Bank SYARIAH MANDIRI ( 7111-8856-77 )

a/n: Ghani Hikmawan

(*acara pada tanggal 09 Desember 2017)

***

konfirmasi donasi ke: 3543be3679047cc27c67d19a6e7d8e19

Beibiiyku Online Shop
Sponsor
Resensi Genre Terkait
SOSIAL BUDAYA

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Dare To Make Mistakes; Kreatif Berinovasi dan Bera...
Bagus ini ...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

"The pleasure of all reading is doubled when one lives with another who shares the same books." ~ Katharine Mansfield

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 25225515

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit