Layla Majnun Cetak E-mail
(7 votes)

Sebuah Kisah Klasik Tentang Kasih Tak Sampai

Layla MajnunSyekh Nizami Ganjavi (1141-1209 M) adalah seorang penyair dari Persia yang namanya sangat masyhur berkat syair gubahannya. Penyair bernama lengkap Jamaluddin Abu Muhammad Ilyas bin Yusuf bin Zakki ini disebut-sebut sebagai penyair epik-romantis terbesar dalam kesusasteraan Persia.

Layla Majnun adalah salah satu karya besarnya yang bertutur tentang kasih tak sampai yang mengharu biru. Kisah percintaan Qays dan Layla telah begitu melegenda di Arabia dan Persia pada abad ke-12. Tapi, di tangan Nizami kisah Layla-Majnun menjadi kian terkenal dan disukai. Bahkan konon, karya Nizami ini turut mengilhami William Shakespeare saat menulis naskah drama Romeo dan Juliet.

Alkisah, di lembah Hijaz (lembah antara Makkah dan Madinah), terdapat kabilah bani Amir yang dipimpin oleh Syed Omri yang memiliki kekayaan berlimpah dan konon bisa diwariskan tujuh turunan. Selain berwibawa, Syed Omri terkenal dengan kedermawanannya. Sehingga tak heran jika banyak orang yang menyukainya.

Sayang, selama puluhan tahun, ia belum juga dikarunia seorang anak yang kelak akan menjadi penerus yang akan mewarisi kekayaannya. Padahal beragam ikhtiar telah ia tempuh agar bisa mendapat momongan. Pun ia tak lelah berdoa, siang dan malam memohon pada Tuhan agar lekas dianugerahi buah hati, (hal 7-9).

Hingga akhirnya, doanya mendapat ijabah. Istrinya hamil. Kehamilan istrinya laksana hujan yang menyirami padang tandus. Rasa haru dan bahagia tak membuat Syed Omri lupa diri, ia kian khusyuk memanjatkan puja-puji dan doa-doa. Ia juga tetap rajin bersedekah kepada orang-orang yang membutuhkan uluran pertolongannya.

Buah hati yang dinantikan akhirnya lahir dengan selamat. Istrinya melahirkan bayi laki-laki yang tampan, lucu dan menggemaskan. Bayi tersebut lantas diberi nama Qays. Kehadiran Qays menjadikan bani Amir kian masyhur dan harum. Kehidupan Syed Omri serasa kian sempurna dan diwarnai rona bahagia, (hal 11).

Waktu berlalu cepat dan Qays tumbuh menjadi pemuda yang dibanggakan orang tuanya. Wajahnya rupawan, memiliki postur tinggi semampai bak pilar-pilar kokoh, suaranya merdu laksana buluh perindu. Sebagai orang tua, Syed Omri menaruh harapan besar kelak Qays yang akan mewarisi kekayaan sekaligus menjadi seorang pemimpin kabilah bani Amir yang tangguh dan dermawan.

Sayang beribu sayang, harapan Syed Omri tak berbuah kenyataan saat Qays terjebak rasa cinta yang begitu mendalam kepada Layla, sosok gadis cantik yang adalah teman sekolahnya. Pada awalnya, percintaan yang terjalin di antara dua insan itu tak terkendala masalah yang begitu berarti. Namun lambat laun, kisah cinta mereka terendus oleh orang tua masing-masing.

Akibatnya, orang tua Layla yang berasal dari kabilah bani Qhatibiah marah besar dan merasa harga dirinya telah terkotori karena putrinya menjalin hubungan dengan pemuda dari kabilah lain. Layla pun dipingit, dikurung dan tak boleh keluar rumah. Namun rasa cinta keduanya dari hari ke hari kian menggebu. Meski raga mereka terpisah, tapi benih-benih cinta di hati mereka kian mengakar erat dan sulit terpisahkan.

Qays lantas memilih keluar dari rumah dan hidup di jalanan karena merasa frustrasi tak bisa melupakan cinta pertama dan terakhirnya pada Layla. Ia memilih tinggal di alam bebas, berkawan dengan beragam binatang buas, memanggil-manggil nama kekasihnya sampai kehabisan suara dan kehilangan energi. Ia tak peduli meski dijuluki lelaki gila alias majnun oleh para penduduk bahkan menjadi bahan olokan anak-anak kecil.

Beragam upaya dilakukan Syed Omri dan istrinya untuk mencari keberadaan putranya untuk menyembuhkan kondisi kejiwaannya yang sangat memprihatinkan. Bahkan mereka lantas berinisiatif mendatangi orang tua Layla untuk melamar gadis yang sangat dicintai putra semata wayangnya. Namun Syed Omri harus menahan rasa malu sekaligus kecewa tak tertahankan ketika lamarannya ditolak. Yang menyakitkan, orang tua Layla menuduh Qays adalah lelaki gila yang tak pantas bersanding dengan putrinya. “Kami memahami bahwa kegilaan bukan dosa ataupun kejahatan, namun siapakah orang yang mau berkumpul dengan orang gila? Orang tua manakah yang merelakan belahan jiwanya bersanding dengan pemuda gila?” ucap ayah Layla, (hal 48-55).

Novel klasik tentang kasih tak sampai ini memang memikat. Bahasa yang digunakan memiliki citra sastra tinggi. Sayang, alur ceritanya terlalu melankolis dan mengagung-agungkan cinta pada sesama manusia. Tokoh utama seolah mengajarkan sikap pesimis dalam menghadapi berbagai ujian hidup. Selain itu, masih dijumpai beberapa kesalahan edit dalam buku ini. (Sam Edy Yuswanto).

***

 

Judul 

: Layla Majnun

Pengarang

: Syekh Nizami Ganjavi

Penerbit 

: Senja

Tahun

: 2014

Genre 

: Novel Sastra

Tebal

: 300 Halaman 

ISBN

: 978-6022-555-23-0

 

 

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Tebar Manfaat - Ikatan Alumni SAP KIT
 Program Santunan Anak Yatim di VILA QUR`AN FATHUL MUBIIN BANDUNG (*)

Donasi bisa disalurkan melalui rekening:

Bank SYARIAH MANDIRI ( 7111-8856-77 )

a/n: Ghani Hikmawan

(*acara pada tanggal 09 Desember 2017)

***

konfirmasi donasi ke: 3543be3679047cc27c67d19a6e7d8e19

Beibiiyku Online Shop
Sponsor
Resensi Genre Terkait
NOVEL SASTRA

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Dare To Make Mistakes; Kreatif Berinovasi dan Bera...
Bagus ini ...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

“After all manner of professors have done their best for us, the place we are to get knowledge is in books. The true university of these days is a collection of books.” ~ Albert Camus

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 25231034

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit