Tuhan yang Kesepian Cetak E-mail
(1 vote)

Memahami Makna dan Hakikat Mudik

Tuhan yang KesepianMenjelang hari raya Idul Fitri, ada tradisi akbar yang sangat akrab dengan masyarakat Indonesia. Tradisi itu terbukti lebih meriah dan gegap gempita dari hari-hari besar lainnya. Hampir semua media, baik cetak maupun elektronik, menyajikan berita dan liputan khusus dalam “perayaan” tradisi tersebut.

Mudik atau pulang kampung. Ya, tradisi akbar itu bernama mudik yang dilakukan sebagai momentum kembali ke kampung halaman setelah sekian tahun mereka berjibaku di tempat rantau. Jika diteliti, betapa momentum mudik begitu besar pengaruhnya pada masyarakat, sehingga bagaimana pun kondisinya, tradisi tersebut tetap mereka lakukan.

Sebagaimana kita ketahui dalam pemberitaan media, bahwa tiket-tiket perjalanan mudik, seperti kereta api selalu ludes terjual, bahkan sebelum Ramadan datang. Mereka berlomba-lomba mendapatkan tiket murah untuk menghindari harga tiket yang memang selalu melambung menjelang arus mudik.

Tidak hanya itu, kerinduan mereka untuk melihat kembali kampung halaman, berkumpul bersama keluarga dan sanak saudara harus dibayar mahal. Bahkan, jiwa menjadi ancaman. Betapa tidak. Tak sedikit dari mereka yang melakukan perjalanan mudik dengan transportasi motor, yang sangat besar risikonya di perjalanan.

Namun, mereka takpernah gentar. Meskipun hampir setiap tahun arus mudik selalu menelan korban, terutama mereka yang menggunakan motor untuk pulang kampung, mereka tetap bersikukuh untuk berkendara motor dengan alasan lebih murah.

Tasirun Sulaiman, dalam buku Tuhan yang Kesepian memberikan opininya tentang bagaimana memaknai sebuah tradisi bernama mudik tersebut. Menurut Tasirun, mudik bukan sekadar pulang kampung. Mudik juga bisa dipahami sebagai sebuah gerak kembali dari perjalanan hidup. Kita berasal dari suatu tempat dan hendak kembali menuju tempat itu.

Mudik, menurut Tasirun, bisa juga berarti terjemahan dari kata “al-aud” (kembali, return). Mudik adalah kembali ke asal, yakni “udik”. Orang udik itu artinya orang asal. Namun, dalam pengertian Al-Quran, kata mudik bisa diartikan sebagai alam primordial, alam lahuti, atau alam yang manusia dahulu kala masih berada di alam sana, alam yang sangat tinggi tingkatannya (halaman 128).

Dalam buku ini penulis juga memaparkan banyak hal tentang agama yang berkaitan erat dengan cinta dan kasih Tuhan, agama dan kemanusiaan, agama dan kehidupan politik, agama dan kesucian jiwa, serta agama dan kemasyarakatan.

Dalam buku yang sarat dengan perenungan ini, penulis dengan sangat jeli memotret fenomena hubungan antara manusia dan Tuhan yang selama ini bisa terbilang “renggang” dan tergerus oleh hal-hal keduniawian. Bagaimana tidak, di zaman yang serba permisif di mana gejolak persaingan semakin ketat memungkinkan manusia melakukan segala cara untuk mencapai apa yang diinginkan. Mereka tidak lagi mau mengindahkan rambu-rambu agama yang seharusnya dipatuhi. Mereka lupa bahwa Tuhan juga memberi andil terhadap apa yang selama ini mereka kerjakan.

Sebuah benang merah bisa kita tarik dari keseluruhan topik yang dibahas penulis dalam buku setebal 204 halaman ini. Bahwa kita harus bisa menyadari kalau hidup ini ada yang mengatur. Hidup tidak berjalan semaunya dan asal saja. Semua yang diberikan oleh hidup adalah sebuah rencana hidup yang memang ditujukan untuk kita dan kita harus yakin bahwa itu adalah untuk kebaikan hidup.

Kita harus selalu yakin bahwa, betapapun susah dan sulitnya hidup, bahkan mungkin kelam, di sana selalu ada tempat atau ruang untuk melihat hidup menjadi lebih baik dan membahagiakan. Sehingga, kita terus mempunyai optimisme dan harapan bahwa hidup memang harus dijalani dan diteruskan dengan cara-cara yang lebih bisa dipertanggungjawabkan. [Untung Wahyudi]

 

Judul

: Tuhan yang Kesepian

Penulis

: Tasirun Sulaiman

Penerbit 

: Bentang Pustaka

Tahun

: 2013

Genre 

: Islam

Tebal

: 204 Halaman

ISBN

: 978-6027-888-08-1

 

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Beibiiyku Online Shop
Sponsor
FrozenbyQueen - Lezat Alami & Halal
Sponsor
Resensi Genre Terkait
ISLAM

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Metode Mengajar ala Tiongkok dan Jepang
Sudah seha...
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

"A book worth reading is worth buying." ~ John Ruskin

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 28289528

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit