Galuh Hati Cetak E-mail
(2 votes)

Sepenggal Cerita dari Pendulangan Intan

Galuh HatiMengangkat kearifan lokal dalam karya sastra adalah salah satu pilihan yang dilakukan oleh beberapa pengarang. Mereka sengaja memasukkan unsur lokalitas dalam karya-karyanya dalam rangka mengenalkan budaya lokal ke hadapan publik.

Belakangan ini, ketertarikan para pengarang Indonesia untuk mengangkat budaya lokal cukup terlihat. Tidak hanya dalam karya cerita pendek yang biasa menghiasi halaman koran-koran Minggu, tetapi juga dalam beberapa novel. Galuh Hati adalah satu dari beberapa novel karya pengarang Indonesia yang berusaha mengangkat kearifan budaya lokal. Novel ketiga karya Randu ini menceritakan perjuangan masyarakat Cempaka, sebuah desa di Kabupaten Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Cempaka adalah sebuah desa yang dikenal sebagai tempat pendulangan intan terbesar di Indonesia, bahkan dunia. Intan hasil tambangan masyarakat Cempaka dikenal dengan kualitas yang baik, sehingga banyak orang mendulang rezeki dari pendulangan hasil bumi yang di kalangan masyarakat Borneo lebih dikenal dengan nama “Galuh” itu (halaman 20).

Galuh adalah istilah untuk menyebut intan yang berkualitas. Konon, di Cempaka pernah ditemukan intan dengan kualitas dan nilai karat yang tinggi hingga melegenda. Namun, keberadaan intan yang disebut-sebut sebagai “Galuh Hati” itu sampai saat ini masih misterius.

Adalah Abul, pemuda tanggung berusia tigabelas tahun itu yang merasa penasaran dengan keberadaan “Galuh Hati”. Masyarakat kerap menyebut nama Antas setiap kali berbicara tentang galuh yang sangat berharga itu. Namun, masyarakat tidak ada yang tahu siapa sebenarnya Antas. Mereka hanya mengenal nama. Apakah Antas masih hidup atau sudah meninggal, tidak ada yang tahu. Hingga pada suatu ketika, Abul merasa penasaran dan bermaksud bertanya kepada Kai Amak, seorang laki-laki yang dihormati sebagai Tetua Kampung Cempaka. Dari Kai Amak lah, Abul akhirnya tahu bahwa laki-laki tua yang terkenal sebagai orang paling kaya itu memiliki keterikatan dengan nama Antas.

Menurut cerita Kai Amak, Antas adalah sahabat dekat Kai Amak. Sejak kecil mereka berteman dalam susah maupun senang. Mereka sama-sama bekerja sebagai pendulang intan di pendulangan bersama-sama masyarakat setempat. Mengangkat linggangan yang cukup berat demi menemukan intan untuk kemudian dijual pada para pengepul.

Di antara persahabatan Kai Amak dan Antas hadir seorang gadis bernama Sarah. Gadis itu cukup memikat hati Antas, namun anak itu tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan perasaannya. Antas tidak bisa membaca dan menulis. Dia tidak tahu bagaimana harus menulis dan mengirimi Sarah surat untuk mewakili perasaannya. Hingga kemudian tebersit ide dalam pikiran Kai Amak untuk mengirim surat pada Sarah, tetapi atas nama Antas (halaman 49).

Usaha Kai Amak ternyata berhasil. Berkat surat yang dikirim kepada Sarah, akhirnya Antas mulai akrab dengan gadis itu. Mereka selalu bersama, menikmati pemandangan di daerah pendulangan yang setiap hari semakin mendanau. Tempat pendulangan itu sudah mirip kawah karena sudah sejak lama dieksploitasi karena memang dari sanalah masyarakat Cempaka hidup. Mereka tidak akan bisa makan dan bertahan hidup jika tidak mendulang intan, meskipun harganya tidak terlalu mahal.

Waktu pun berlalu. Masa kanak-kanak sudah mereka lewati. Mereka sudah memasuki masa remaja yang penuh dengan gejolak cinta. Antas dan Sarah bertambah akrab dan memutuskan untuk menikah. Namun, di luar pengetahuan mereka berdua, ternyata Kai Amak juga menyimpan perasaan pada Sarah. Diam-diam Kai Amak juga jatuh cinta dan rasa cemburu kerap menyelinap dalam hatinya setiap melihat Antas dan Sarah berjalan berdua (halaman 65).

Abul mulai menikmati kisah yang dituturkan Kai Amak di pendulangan. Namun, kisah itu sepertinya akan menggantung sampai waktu yang tidak jelas. Mengingat, selama ini tidak ada yang tahu kisah yang sebenarnya tentang Kai Amak, Antas dan Sarah. Kai Amak ditemukan meninggal dunia di rumahnya. Abul sangat terkejut. Padahal, malam sebelumnya laki-laki tua itu masih bersama Abul, menceritakan kisah cinta segitiga yang terjadi pada masa mudanya. Namun, ada sesuatu yang janggal dalam kematian Kai Amak. Masyarakat tidak diperkenankan melihat wajah terakhir laki-laki kaya itu. Jenazah Kai Amak disimpan dalam peti yang juga ikut dikubur bersama jasad Kai Amak. Sesuatu yang tidak lazim terjadi di masyarakat.

Novel karya Randu ini bisa dibilang cukup unik dan berhasil mengangkat kearifan lokal pulau Borneo, yakni tentang eksploitasi kekayaan bumi, yaitu intan yang di masyarakat dikenal dengan nama “Galuh”. Lewat novel ini pengarang bermaksud mengenalkan pada publik bahwa di Kalimantan ada sumber kekayaan alam lain selain batu bara dan besi.

Sebagai orang yang tinggal di Kalimantan, Randu berhasil menggambarkan setting tempat pendulangan intan yang dikisahkan dengan sangat detail. Bagaimana kondisi alamnya, juga masyarakatnya yang cukup tertinggal dari segi pendidikan. Seperti yang dituturkan pengarang dalam novel 294 halaman ini, masyarakat Cempaka dan beberapa desa lainnya di sekitar tempat pendulangan, lebih mementingkan bagaimana harus mencari makan daripada pendidikan. Sejak kecil anak-anak di sana sudah diajarkan bagaimana mendulang intan yang baik, sehingga mereka takpernah berpikir bagaimana pentingnya pendidikan bagi masa depan mereka kelak. (Untung Wahyudi)

 

Judul

: Galuh Hati

Penulis

: Randu

Penerbit 

: Moka Media

Tahun

: 2014

Genre 

: Novel Sastra

Tebal

: 294 Halaman

ISBN

: 979-795-816-7

 

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Beibiiyku Online Shop
Sponsor
FrozenbyQueen - Lezat Alami & Halal
Sponsor
Resensi Genre Terkait
NOVEL SASTRA

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Metode Mengajar ala Tiongkok dan Jepang
Sudah seha...
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

“After all manner of professors have done their best for us, the place we are to get knowledge is in books. The true university of these days is a collection of books.” ~ Albert Camus

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 29366234

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit